
"Kamu?"
Aku terkejut, benar-benar terkejut. Yah walau sebenarnya aku tau mereka yang bisa melihat makhluk astral itu tak hanya aku dan Rani, tapi banyak di luar sana. Namun bagaimana pun ini adalah kali pertama aku bertemu dengan mereka yang bisa melihat makhluk tak kasat mata itu.
"Waah, kayaknya banyak pertanyaan yang mau ibuk tanyain deh, nanti saya temuin ibuk kalau sudah selesai ngajar Ferdi, saya izin ke kamar dulu ya buk," kata gadis itu sambil membungkukkan sedikit badannya saat lewat di depan aku dan ibunya.
"Tadi Sintia ngomong apa buk?" Tanya ibu Ferdi yang tak dengar apa yang di sampaikan anaknya itu karena tadi Sintia berbisik tepat di telingaku.
"Aa... gak ada kok buk, oh iya, Ferdinya dimana?" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan agar tak berlangsung lama berdiri di sini.
πΎπΎπΎπΎ
Siapa pun bisa lihat kalau aku sama sekali tak fokus mendengarkan Ferdi, sedari tadi tingkah Sintia selalu menggangguku. Siapa dia sebenarnya? Apakah benar dia bisa melihat makhluk itu? Kenapa tatapan Sintia tadi begitu menusuk? Seakan-akan ada yang tidak dia suka dariku, benarkah? Apa aku ada buat salah?
Fikiran aku hanya penuh dengan anak gadis itu bahkan sampai waktu mengajar selelai.
"Ibuk udah mau pulang?" Gadis itu keluar dari kamarnya sambil menyunggingkan senyuman padaku.
"Iya," balasku singkat.
"Bkar Tia aja yang ngantar ibuk guru keluar ya bu," tawar gadis itu dan langsung menggandeng tanganku keluar dari rumahnya tanpa persetujuan sang ibu.
Aku yang di tarik hanya bisa menurut, lagian anak ini cukup aneh. Tadi natap aku begitu tajam, tapi sekarang langsung gandeng kayak udah akrab aja.
"Ada yang mau di tanyain buk?" Kata gadis itu setelah sampai di teras rumahnya.
__ADS_1
"Eh, saya?" Kataky menunjuk ke arah wajah.
"Iya, ibuk pasti penasarankan kenapa aku bertingkah berbeda dari tadi waktu kita pertama berjumpa?" Jawab gadis itu sambil melepaskan tangannya dari lenganku.
"Hah?" Tanya ku balik tak mengerti, apa sih yang sebenarnya di maksud gadis ini.
'Dan ngapain coba manggil ibuk? Padahal jarak usia kami palingan empat tahun? Lebih bagus di panggil kakak' pikirku dalam hati.
"Oke, kalau gitu Tia panggil ibuk jadi kakak, gimana? Setuju?" Gadis itu kembali berbicara dengan nada cerianya.
Dan kalimatnya itu cukup membuat aku terheran, bagaimana bisa dia tau kalau aku mau di panggil kakak?
Aku tak menjawab hanya menatapnya dengan penuh tanda tanya. Yang di tatap malah tiba-tiba tertawa, seakan-akan ada adegan lucu saja yang terjadi.
"Kok ketawa sih?" Tanyaku tak suka. Gimana gak suka? Aku lagi serius dia malah ketawa.
"Kamu seriusan?" Tanyaku tak yakin.
Dia mengangguk dengan percaya diri.
"Buk, eh maksudnya kak, sebenarnya saya bisa melihat mereka seperti kakak, dan bukan hanya itu, saya juga bisa melihat isi fikiran seseorang
Dan melihat aura 'mereka', " jelasnya lagi.
"Kamu serius Sin?" Aku tak percaya jika hal seperti itu ada.
__ADS_1
"Tentu saja, aku juga tau apa yang di alami seseorang sebelumnya dan saat ini, bahkan walau pun kejadian itu sudah memudar dari ingatannya, aku bisa melihatnya dengan jelas,"
"Kamu gak bercandakan? Boleh saya minta buktinya?" Kata ku mencoba menanyai keyakinan.
Bagaimana pun bisa membaca pikiran seseorang sampai menerawang yang sudah hampir terlupakan oleh si pemilik pikiran adalah hal yang gak wajar. Bisa melihat aura? Aku fikir itu tidak ada. Tapi jika memang itu ada itu luar biasa.
"Kakak punya masalah tentang Nathan? Hantu yang sampai sekarang masih tak jelas asal usulnya dan kakak bersikeras mencari tau itu semua demi mengungkap kematian teman kakak yang bernama Linda, benar? Lalu kakak juga punya masalah mengerikan di sebuah rumah yang tepatnya rumah seorang wanita jahat bernama Kintan, Sintia benarkan?" aku terperangah mendengar penjelasan anak kecil ini.
Dadaku berdegup cepat, anak ini luar biasa, apakah ini yang disebut keberuntungan? Aku bertemu dengan orang yang sepertinya bisa membantuku.
"Kakak berharap aku bisa bantu kakak ya?" Tanya Sintia menggoda.
Aish... benar, aku tak bisa berfikir sesuka hati ku karena anak ini bisa membaca semuanya.
"Jadi kamu bisa bantu kakak? Mau bantu kakak?" Tanya ku antusias.
"Tentu saja, dengan senang hati. Sintia suka tantangan," dia mengedipkan mata tanda terima.
Iyap, kali ini aku akan mendapatkan bantuan, bukan dari mereka yang bisa melihat hantu saja, juga bukan dari kalangan hantu saja. Tapi dia yang memiliki kemampuan lebih dari manusia itu sendiri dan dari hantu itu sekali pun.
πΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Author datang setelah sekian lama, dengan membawa tokoh baru bernama Sintia. Dan bukan hanya Sintia yang akan hadir, akan ada tokoh-tokoh yang membawa kejutan lebih untuk kalian.....
Dan author mau kasih bocoran nih buat kalian. Ada satu tokoh yang pernah author sebutkan, dia laki-laki. Awalnya dia terlihat hanya sekedaru singgah dalam cerita ini. Tapi dia bakalan jadi orang yang berperan penting dalam penyelesaian masalah Risa. Siapa dia? Coba tebak...
__ADS_1
Episode berikutnya author usahain waktu tengah malam ya...π€