Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Pertemuan Kakak dan Adik


__ADS_3

"Aku oke bang, Kita dimana?" Rudi dan Kelvin baru sadar ternyata mereka tidak berada di hutan dekat perkampungan. Ada sungai yang jernih di tengah hutan yang sangat lebat. Dan mereka sekarang berada di pinggir sungai itu. Dengan di kelilingin pohon-pohon yang besarnya tidak masuk akal.


Ternyata kedatangan Rudi dan Kelvin di dengar oleh ku dan kedua orang itu, "Kalian dengar ada suara gak?" Ocha melirik ke kami berdua yang ada disampingnya. Aku hanya diam sambil memfokuskan indra pendengaranku.


"Iya, kayaknya dari sana deh," Dimas menunjuk ke arah kanan kami, sontak aku dan Ocha melirik ke arah telunjuk Dimas. Aku yang benar-benar penasaran langsung berdiri dan berjalan ke asal suara, entah kenapa perasaanku menjadi berdebar-debar tapi bukan takut. Melihatky yang berjalan tanpa bilang-bilang Ocha mendengus kesal.


"Tadi bilangnya capek pengen istirahat dulu, eh sekarang malah jalan," kelihatannya Ocha mulai tidak menyukai ku. Aku hanya diam saja, bukannya tidak dengar, hanya saja malas meladeni perempuan satu itu. Dimas lalu menarik tangan Ocha agar bangkit dari duduknya dan menyusulku yang sudah jalan duluan.


"Dimas... aku capek, mau duduk dulu" Ocha tetap menahan badannya di posisi duduk.


"Oke, kalau gitu aku tinggalin kamu sendirian di sini ya, aku mau nyusul Risa," Dimas pun melepaskan tangannya dari Ocha. Baru juga mau menyusulku Ocha menahan tangan Dimas.


"Gimana nanti kalau itu binatang buas, atau hantu yang lainnya?, kan serem Mas, udah di sini aja," perempuan itu terus menarik tangan Dimas agar kembali ke tempat duduknya tadi.


"Cha, makanya itu kita harus nyusul Risa, gimana kalau dia nanti kenapa-napa?" Tanya Dimas.


"Yah itu resiko dia, ngapain coba sok berani gitu," Ocha memutar bola matanya kesal.


Dimas selalu perhatian padaku tapi tidak padanya. Entah kenapa tanpa di sadari benih-benih kebencian tumbuh di hati Ocha. Aku tak tau, apakah nanti dia akan melakukan hal gila padaku seperti di novel-novel yang ku baca dan di drama-drama yang ku tonton. Di labrak hanya karena dekat dengan cowok yang dia suka. Hah, pada dasarnya cewek yang kayak gitu bagiku hanya sampah, memalukan. Masa iya mau bertingkah seperti binatang menyiksa orang lain hanya karena seorang cowok? Kadang aku bingung, akal mereka di kasih Tuhan apa gak untuk mikir ya? Atau cuman untuj sekedar pajangan doang?. Entah lah, aku hanya berharap semoga Ocha tak melakukan hal gila padaku hanya karena aku dekat dengan Dimas. Karena sepertinya Ocha menaruh perasaan pada Dimas.


"Cha, kamu ini kenapa sih? Aturannya karena kita di kondisi seperti ini harus saling menjaga satu sama lain, bukannya malah acuh tak acuh seperti ini," Dimas sibuk menceramahi Ocha. Tanpa mereka sadari aku sudah hampir sampai di asal suara.


"RUDI..... KELVIN....!!!!," Aku langsung berteriak kegirangan, aku sangat merindukan mereka berdua dan sekarang..... Aku langsung bertatap muka dengan adik dan sahabatku itu.

__ADS_1


Dimas yang mendengar suara teriakanku langsung berlari menyusulku dan Ocha lagi-lagi menhentakkan kakinya kesal ke tanah, mau tak mau dia harus mengikuti Dimas dari pada nanti harus tinggal sendirian di sini.


"Kakak?" Rudi pun ikut kaget dan langsung berdiri dari duduknya, dia memandangiku dari atas sampai bawah, lalu berhenti di mataku. Matanya mulai berkaca-kaca dan akhirnya buliran air yang jernih meluncur dengan lambat di pipi Rudi.


"Ini benaran kakak kan? Bang, abang lihat kakakkan?" Kelvin yang di tanya mengangguk dengan mantap, entah kenapa dia tak bisa memalingkan pandangannya dari ku, jelas tersirat di matanya rasa kerinduan yang dalam begitu juga denganku.


Tanpa di suruh Rudi langsung berlari ke arahku dang memelukku. Aku membalas pelukannya dengan di iringi isakan tangis. Saat Rudi melepaskan pelukannya saat itu Dimas dan Ocha datang di balik semak-semak. Mereka yang ketiggalan beberapa episod hanya menatap dengan bingung, siapa orang ini? mungkin itu yang ada di fikiran mereka. Terlihat jelas dari kerutan di kening kedua orang itu saat melihat Rudi dan Kelvin.


"Sa," Kelvin berjalan ke arahku lalu mengelus kepalaku dengan lembut seperti biasanya. Itu sudah menhadi kebiasaan Kelvin, saat dia merinduiku, atau saat aku sedih, terlalu senang pasti tangannya akan mendarat di kepalaku lalu mengelus dengan lembut. Aku hanya tersenyim kepadanya tak tau apa yang ingin di katakan. Rasanya melihat mereka baik-baik saja itu terasa sudah sangat melegakan.


"Kenapa kalian ada di sini?" Aku bertanya kepada kedua pria yang sekarang ada di depanku, yang pertanyaanku mewakili kebingungan kedua orang yang ada di belakangku.


"Kakak tau Sherly? Dia yang membawa kami ke sini," Jawab Rudi tanpa beban. Yang sontak membuatku melotot karena kaget dan marah.


"Tunggu dulu, aku boleh bertanya?" Ocha mengganggu percakapan kami. Bikin kesal saja.


"Iya ada apa?" Rudi melirik ke arah Ocha yang dia yakini temannya aku di sini.


"Kalian siapa sebenarnya? Dan apa tujuan kalian kemari?" Ocha bertanya dengan wajah penuh ke kepoan itu.


"Aku adiknya kak Risa dan ini bang Kelvin, sahabat kakakku," jelas Rudi yang di jawab anggukan oleh kedua orang itu.


"Lalu kenapa kalian kemari?" Kali ini Dimas yang bertanya.

__ADS_1


"Mereka datang untuk membantu kalian membasmi si Tarjo dan menangkap nenek tua itu," kali ini Sherly yang menjawab beriringan dengan kehadirannya di depan Dimas.


"Aa...." Dimas langsung menutup mulutnya dia kaget terlihat dari wajahnya itu.


"Oh... kau takut denganku," Sherly terus mendekatkan wajahnya kepada Dimas.


"Aish... menyingkir dari hadapanku," Dimas langsung membuang mukanya ke kiri, terlihat tangannya sudah mulai gemetaran.


"Jadi kau Sherly?" Kelvin akhirnya bersuara, dan bertanya dengan nada dinginnya Sherly langsung membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Kelvin.


"Wah, sepertinya Risa punya kembaran di sini," Sherly tersenyum sumringah yang membuat Ocha dan Rudi yang menatapnya ke takutan. Sedangkan aku memilih untuk menundukkan kepalaku, muak untuk melihat mukanya.


"Apa maksudmu?" Kelvin mengerutkan keningnya bingung. Begitu juga dengan ku yang tak kalah bingungnya.


"hmm, kalian sama-sama dingin, bahkan lebih dingin dari pada aku," kata Sherly lalu tertawa hingga membuat daging pipinya terpisah.


"Hah, dasar hantu mengerikan," kata Kelvin yang mendengar tawa Sherly, tapi tawa itu tiba-tiba berhenti dan Sherly sekarang sudah berpindah ke depan Kelvin, dengan sigap tangan kanannya mencekik leher sahabatku itu.


"Apa yang kau lakykan Sher?" Aku langsung berjalan ke arah mereka berdua.


"Kau tak dengar? Dia bilang aku mengerikan!" Sherly membentakku matanya yang tinggal satu itu memerah karena marah.


"Kau hantu Sher, pantas di bilang mengerikan, apa kau lupa itu, ingat kau bukan lagi manusia," Jawabku yang tak kalah ikut membentak. Mendengar penuturanku membuat Sherly melepaskan tangannya dari leher Kelvin. Mukanya langsung berubah sendu, sepertinya aku salah bicara.

__ADS_1


__ADS_2