
.........
'1 Mei 2016'
Sebut aku lemah atau sejenisnya, bagiku ayah adalah panutan yang paling aku hargai, aku sangat mengaguminya, tapi saat aku tau, sebuah rahasia di balik kelahiranku, yang membuat impian besar ayah hancur membuat aku sangat membenci diriku sendiri. Andai aku tak di lahirkan, mungkin kehidupan orang tuaku takkan sekacau ini, andai aku lahir dan tumbuh normal seperti anak lainnya, mungkin itu takkan membuat kondisi sulit menghampiri keluargaku.
Bahkan sampai detik ini, aku tak bisa berhenti membenci diriku sendiri. Aku muak saat SMP, orang-orang mendekatiku karena wajahku! Mereka menjadikan aku apa hah? Aku muak, saat di belakangku mereka sibuk menghina dan menghujatku. Bilang aku bodoh, si culun, sok akrab, dan pembawa beban keluarga. Aku muak!.
Bahkan sampai SMA semua orang membenciku hanya karena aku bodoh? Hanya karena aku si dungu? Tapi syukurlah, di dunia yang luas ini masih ada seorang gadis yang baik, benar-benar baik, kau tau Tuhan? Aku berjanji akan menjaganya, aku takkan membiarkannya terluka, karena dia lebih istimewa dari pada orang tua ku sendiri yabg sibuk mengeluh tentangku.
.......
Risa menarik nafasnya dengan perlahan kali ini. Dia tak tau kalau Nathan memiliki seseorang yang istimewa. Iya sih, memang semasa sekolah dia selalu menjadi bahan gunjingan teman-teman. Dan selalu menjadi bahan taruhan oleh geng cewek-cewek nakal.
Bahkan si Risa yang terkenal tertutup tak sengaja melihat Nathan yang di pukul oleh Rio salah satu cowok yang selalu mengejar sahabatnya, Linda.
FLASHBACK ON
2016
Risa berencana keluar dari perpustakaan untuk menemui Kelvin yang belum mengembalikan catatan sejarahnya. Sebelum menuju kelas Kelvin, Risa harus melalui labor fisika terlebih dahulu, yang di belakang labor itu adalah tempat parkiran roda dua.
__ADS_1
"Lo Budeg atau gimana hah?"
Risa berhenti berjalan saat mendengar teriakan dari arah parkiran, karena penasaran dia memilih untuk mengintip apa yang terjadu.
PLAK...
"Hah" Risa langsung menutup mulutnya saat melihat tangan tebal Rio melayang bebas ke arah pipi Nathan.
Risa bahkan bisa melihat ada darah yang mengalir dari sudut bibir Nathan. Di lihat dari kondisi Nathan sekarang, pasti dia sudah lama di pukuli bahkan sebelum Risa sampai di sini. Baju yang sudah kotor bahkan ada bekas telapak sepatu, kaca mata yang sudah jatuh ke lantai meninggalkan si pemilik kaca mata yang berdiri sambil di pegangi cowok yang Risa kurang kenal.
"Bukan kah itu keterlaluan?" Kata Risa berbisik dari balik pintu, saat tak sengaja melihat lengan kiri Nathan terluka, apa karena cakaran? Darah keluar di lengannya. Risa jelas yakin itu darah. Tanpa pikir panjang Risa berjalan ke arah ruang guru. Namun belum juga Risa pergi suara pukulan kembali terdengar.
Sontak Risa melihat lagi dan dia dapati, Rio yang terus menendang tubuh tak berdaya Nathan dengan kakinya, anehnya, Nathan tak melawan atau menjerit ke sakitan. Dia hanya menggit bibir bawahnya menahan sakit.
Memang laki-laki brengsek!.
Tak lama, Risa kembali dengan membawa guru ke arah parkiran. Dan na'as, Rio belum berhenti menendang dan memukuli Nathan.
"Kalian gila! Mau jadi apa sudah besar hah?" Rio dan temannya menghentikan aktifitas mereka dan melihat ke arah guru yang Risa panggil.
"Sekarang juga kalian pergi ke ruang BK! Kalau saya tidak menemui kalian di sana, kalian pasti tau apa resikonya," Iyap! Guru yang di panggil Risa adalah salah satu guru yang di takuti murid pada masanya. Dialah pak Adi, guru olahraga sekaligus wakil kepala sekolah. Beruntung, Risa bertemu bapak Adi sebelum sampai ke ruang guru, jadi waktu mereka tidak terlalu lama.
__ADS_1
"Iya pak," ke tiga anak itu termasuk Rio di dalamnya pergi meninggalkan Nathan yang masih meringkuk di lantai.
Risa tak berani mendekat, kalau sampai Rio melihatnya, bisa tamat riwayatnya di sekolah pada waktu itu. Lantas dia memilih pergi saat melihat pak Adi yang sudah memapah Nathan menuju UKS.
"Syukurlah, Setidaknya dia bisa cepat di obati,"....
FLASHBACK OFF.
Risa menutup buku Nathan, kali ini dia benar-benar iba dengan seorang Nathan. Hanya saja, pikirannya yang baru saja masuk pada fase kasihan berhenti saat mengingat dia pernah melihat kejadian Nathan membunuh seorang gadis.
"Bisakah Nathan yang pendiam dan pengecut membunuh seseorang? Apa benar aku waktu itu salah Lihat?" Risa kembali berfikir.
"Jangan-jangan yang membunuh itu Naell! Bukan Nathan? Ini bisa bikin aku gila," Risa terdiam lagi, otaknya tak bisa berfikir lagi.
"Kau punya banyak masalah? Ada yang bisa aku bantu?" Gadis bergaun hitam yang duduk di samping pintu itu menyaut juga, sedari tadi tak tahan ingin berbicara melihat Risa yang kelihatan kebingungan itu.
"Emangnya kamu bisa bantu apa?" Tanya Risa balik. Walau sebenarnya dia tak peduli.
"Aku bisa mencari hantu yang sedang kau fikirkan, siapa namanya? Nathan?" tanya Hantu itu sambil berdiri dan berjalan mendekat.
"Benarkah?" Risa kali ini mulai tertarik. Matanya berbinar, dan dia juga mulai menatap hantu itu dengan penuh harap.
__ADS_1
"Tentu saja!," hantu itu menjawab dengan yakin.