Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Masuk! 4


__ADS_3

"Cik, jaga cara bicaramu, dia sudah banyak membantu kita dari awal," Dimas sepertinya juga mulai jengah dengan perilaku anak-anak yang tak tau sopan santun ini.


"Ayo, kita masuk, ingat, sesuai rencana awal," Risa melihat perdebatan yang sepertinya akan di mulai lagi memilih untuk angkat bicara dan jalan duluan.


Jika dia terus membiarkan kubu manusia dan kubu hantu ini berdebat, maka sampai fajar tiga kali pun takkan berujung kelar.


"Sekarang?" Tanya Cika takut.


"Iya! kalai kalian takut lebih baik tidak usah ikut! Sekarang bukan saatnya untuk takut! Kalau tetap dengan rasa takut maka kita takkan pernah bisa keluar dari tempat ini. Kalau pun keluar pastinya nanti dengan tubuh tak bernyawa," Risa mulai aktif sifat dinginnya.


Cika terdiam dengan bibir semakin pucat, dia tak pernah setakut ini biasanya. Ini adalah kali pertamanya mendekati maut!


"Ayo, Cik kamu ikut?" Kata Dimas yang juga ikut berdiri di iringi semua orang kecuali Cika yang masih duduk memeluk lututnya takut.

__ADS_1


"Aku takut," perlahan air mata keluar juga.


"Tenanglah, kita akan saling melindungi, kamu jangan takut Cika, kamu gak sendirian, kita harus lawan rasa takut kita, jiak tetap diam saja maka kita takkan lagi bisa bertemu matahari besok. Yang ada malah bertemu malaikat maut," Risa berniat membujuk dan menenangkan, tapi entah kenapa yang terdengar oleh mereka sebuah paksaan secara halus di sertai ancaman.


Risa memang berbeda! Dia sama sekali tak cocok membujuk seseorang.


"Ayo Cik, kamu mau tinggal di sini sendirian?" Tanya Risa lagi


"Enggak, aku ikut aja," Cika berdiri di bantu Risa.


"Aku, Risa, Denis dan Cika akan masuk lewat pintu depan, sedangkan Dimas,Rani dan Rudi kalian dari pintu belakang. " kata Kelvin mulai membuat rencana.


"Kalau sudah masuk, kami akan langsung mengunci pintu kamar Kintan dan memastikan dia tetap berada di kamar, selama itu Dimas dan yang lainnya cari dimana mayat Tarjo di sembunyikan Kintan," Kelvin masih bicara dan yang lainnya masih menyimak.

__ADS_1


"Itu saja dulu, untuk masalah bagaimana membuat Kintan membunuh Tarjo nanti akan di pikirkan selama pencarian berlangsung," kata Kelvin lagi yang mendapat penolakan dari Dimas.


"Kenapa harus di pikirkan nanti? Jangan membuat rencana setengah-setengah. Itu berbahaya," Tolakan Dimas menuai anggukan dari semua orang, kecuali Rani yang masih sibun memperhatikan tanpa memberikan tanggapan.


Pikirannya juga buntu, bagaimana cara agar Kintan bisa membunuh Tarjo. Dia takut ini gagal dan malah membuat banyak korban jiwa.


"Rani, ada nenek, nenek akan bantu kamu dari sini, jangan takut!, Mungkin pedang itu belum bisa berpihak dengan mu, tapi kompas itu sudah menyatu dengan mu, dia akan membantu," Rani mulai bernafas lega mendengar suara neneknya.


"Bagaimana cara kompas ini membantu Rani nek?" Rani bertanya dengan antusias.


"Masuklah dulu, temui jasad Tarjo dan Kintan. Percaya sama nenek semua akan baik-baik saja," mendengar penuturan nenek, Rani berani melangkah sekarang.


"Untuk rencana selanjutnya serahkan sama Rani. Kalian hanya perlu yakin dan percaya ini akan selesai, ayo! Rani yakin kita pasti bisa," seperti energi buat para kakak dan abangnya.

__ADS_1


Gadis kecil yang berani itu membuat yang lainnya tak mau kalah, melihat Rani yang berani, membuat mereka ingin melindungi gadis kecil yabg penuh ambisi itu. Iya, sebelum memulai sesuatu mereka harus mengandalkan kata percaya dan kata tak menyerah sebelum memulai.


Untuk hasil biarkanlah nanti kita lihat.


__ADS_2