
Mata wanita itu membulat menahan rasa kesal. Jika dia bisa membungkam mulut Sendi mungkin akan dia bungkam sekarang. Namun menyentuhnya saja pun tak bisa. Alhasil dia hanya bisa berteriak meminta putrinya yang telah mati itu untuk tak melanjutkan perkataannya itu.
"Beehenti untuk terus berbicara omong kosong Sendi! Kamu kira dengan kamu putriku aku takkan bisa menyakitimu? Jangan berani menyinggungku dan menuduh ku! Kau.... ARGH...," belum selesai wanita itu melanjutkan kalimatnya dia langsung memegang dadanya yang terasa sakit.
Aku bisa melihat betapa kesakitannya wanita itu. Tubuhnya tiba-tiba terjatuh ke atas lantai. Kulit pucatnya semakin membuat dia terlihat kesakitan. Aku ingin mendekat membantunya berdiri, namun terpaksa kembali mundur ke belakang saat mengingat kata Rani bahwa makhluk tinggi di dekatnya adalag makhluk jahat. Dari pada aku terluka lebih baik duduk di sini saja, lagian dia pasti juga tidak memerlukan pertolonganku.
"Mama, kamu kesakitan? Sepertinya kamu belum memberi makan peliharaanmu itu ya? Sampai auramu sendiri yang dia hisap, kenapa? Tidak menemukan lagi orang yang mau kamu tumbalkan untuk dia?," Sendi mendekat ke arah mamanya, dan mendekatkan wajahnya dengan wajah mamanya itu. Anehnya makhluk itu tak bergerak atau bersuara, sedari tadi hanya diam menyaksikan. Yah, walau aku tak bisa melihat wajahnya karena lebih tinggi dari pintu, tapi aku yakin dia pasti sedang sibuk memperhatikan kami semua.
"Kau! Beraninya berbicara seperti itu padaku!," Suaranya agak sedikit tertahan mungkin karena menahan rasa sakit yang teramat sangat itu.
"Hah... ini semua balasan atas semua ke jahatan yang mama lakukan dengan diam-diam. Bukannya aku tidak tau ma, makhluk besar aneh inilah yang telah membuat penduduk desa sakit dan memgambil darah serta aura mereka perlahan-lahan. Dan itu semua atas izinmu, kau ingin terus terlihat cantik, sehingga merawatnya agar bisa membuat mu terlihat awet muda. Namun apa yang terjadi sekarang? mama terlihat tua, kenapa? Karena mangsanya kali ini adalah mama. Mama tidak pernah mau mendengarkan nasehat nenek sebelum mengambil ilmu itu. Tapi malah mendengarkan nenek Kintan yang selalu datang ke rumah kita, bahkan gara-gara mama aku pun sempat mempercayainya. Memuakkan, saat mengetahui betapa bodohnya diriku," Sendi kembali berhenti sejenak dan menatap kami bertiga yang diam menyaksikan. Dan kemudia balik menatap Liya yang bengong mendengar semua itu.
"Kalian tau? mamaku pernah sempat ketahuan, tapi dia malah mengatakan kepada warga bahwa akulah yang memelihara makhluk jahat itu! Aku di kejar dan berusaha berlindung ke rumah Kintan, yang dulu sangat ku percaya. Namun apa yang terjadi? Sesampainya aku di sana dia ingin membunuhku agar menjadi salah satu tumbalnya untuk membangkitkan suaminya yang sudah mati. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri, tapi siapa sangka, kekuatan nenek tua itu cukup kuat, dia melemparkan pisau dapur yang menancap tepat di leherku. Dan na'asnya dia tidak menguburkan jasadku melainkan membiarkan jasadku membusuk di dalam rumahnya. Apa mama tau? Aku fikir kau benar-benar jahat, bukan hanya pada adikku tapi juga padaku anak kandung mu! Demi kebahagiaanmu demi keselamatanmu ksu menjadikan ku korban akan semua kesalahanmu, kau fikir aku akan lupa?" Sendi tiba-tiba mencekik leher mamanya.
Hingga membuat wanita itu terdiam, ingin marah tapi dia juga bersalah, ingin membela diri tapi tubuhnya sudah lemah. Dia menatap sendu ke arah makhluk besar yang selalu bersamanya itu. Berharap agar di tolong, namun yang namanya setan pasti akan mementingkan dirinya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Rani tak percaya, bisa-bisa Wanita itu mati karena tak bisa bernafas.
"Dia harus di bunuh, jika dia mati karena makhluk besar itu yang terus menyedot aura dalam tubuhnya maka makhluk itu akan tetap merajalela. Kecuali, jika tuannya ini mati tidak karenanya maka dia juga akan ikut musnah. Itulah kontrak mereka, Jika tuannya mati karena sebab lain dia akan mati juga, namun jika tidak, dia akan terus hidup dan menempel kepada keturunan tuannya yang masih hidup," kata Sendi masih dengan meremas leher mamanya.
__ADS_1
"Tenanglah, jangan bunuh dia, lagian keturunan wanita itu cuman kamu Sendi, dan kamu sudah meninggal," aku berusaha merubah keinginan Sendi untuk membunuh.
"Hahaha... dia masih punya anak kakaknya yang bisa menjadi pemilik makhluk ini selanjutnya," jelas Sendi.
"Maksud kamu? Dia punya saudara? Siapa anak kakaknya itu?" Tanya ku ingin tahu.
"Anak kakaknya yang akan menjadi penerus selanjutnya adalah...... kamu, Risa...," Sendi menunjuk ke arah ku yang langsung membulatkan matanya tak percaya.
Begitu juga dengan Rani, yang terkejut tak percaya.
"Apa maksudmu? Kenapa jadinya kakakku?" Rani tak terima.
"Mamaku, adalah adik dari ibu kalian, dan anak dari nenek kalian. Kita adalah saudara sepupu, itulah mengapa foto aku dan Liya ada dalam album foto yang kalian bawa," Sendi menunjuk ke arah tas ku yang berisi album foto.
Aku mengerti sekarang, kenapa mamaku tak pernah mau menceritakan tentang adiknya, ternyata ini penyebabnya. Sifatnya yang seperti ini membuat orang yang menyayanginya menjadi enggan untuk terus memberikan rasa sayang.
"Tapi membunuhnya tidak ada gunanya Sen, apa kau tak merasa bersalah karena membunuh ibumu sendiri?" Aku benar-benar tak tega melihat wanita yang ternyata adalah bibiku di bunuh di tangan anaknya sendiri.
Hanya kami yang sibuk membantunya untuk lolos dari cekikan Sendi, namun bibiku itu sama sekali tak melawan. Seakan-akan pasrah dan tak berniat untuk melawan. Apakah haya kami yang ingin dia selamat?
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" pak Bima berbisik ke arah Rani menanyakan apa yang tak bisa dia saksikan.
"Sendi ingin membunuh ibunya," jawab Rani singkat.
Bima langsung kalang kabut. Dia tak ingin itu terjadi, dia meremas lengannya dengan kuat hingga membuat lengannya memerah. Apakah seperti ini wujud ke khawatirannya?
"Sen jangan lakukan itu aku mohon, jangan bunuh ibumu, jangan jadi pembunuh. Aku mohon Sen, jangan buat kesalahan lagi, tenanglah di alam mu," Bima merengek entah ke arah mana. Dia sepertinya takut bahwa orang yang dia cintai menjadi hantu pembunuh.
Percaya atau tidak, cekikan itu melonggar , namun tidak lepas dari leher itu.
"UHUKKK...UHUKK...," Bibiku itu terbatuk karena akhirnya menemukan udara walau tak terlalu masuk dengan lancar karena masih di cegat Sendi.
"Jika aku tak membunuhnya, maka kau yang akan jadi korban selanjutnya Sa, bagaimana pun kau juga adikku," perkataan Sendi cukup membuatku tersentuh. Apa itu alasan dia menolongku saat terjebak di rumah pembawa petaka itu? Karena aku seorang adiknya?
"Tenang kak, kita akan cari jalan lain, lepaskan mamamu," Rani tiba-tiba saja memanggilnya kakak.
"Tidak ada cara lain Ran, dia sudah sekarat, semua kukunya sudah menghitam, dan makhluk ini sudah semakin menjauh, berbaha, maaf aku takkan mendengarkan keinginan kalian kali ini, biarkan ibuku mati di tanganku. Dia berhak mendapatkan semua ini karena sifat dan tingkah buruknya di masalalu, biarkan dengan cara begini setidaknya aku akan meringankan dosanya karena tidak jadi menurunkan makhluk ini kepadamu." Sendi tak mau mendengarkan kami.
Padahal Rani sudah siap melemparkan pisau kecil dari kompasnya yang bisa membunuh makhluk halus itu, namun belum pisau itu terlempar, Sendi telah duluan membuat bibiku menutup mata.
__ADS_1
"Sendi, kau...." Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Hari ini aku menyaksikan seorang anak membunuh ibunya sendiri.
"Aku sudah selesai membantumu Risa, dan Liya, aku juga sudah selesai menjelaskan semua hal yang tidak kamu ketahui, jangan lagi menyalahkan dirimu, karena semua yang terjadi di masalalu, benar-benar bukan kesalahanmu, dan maafkan aku yang dulu tidak mempercayaimu. Rani, katakan pada Bima, aku sangat mencintainya, bilang padanya, lupakan aku, dan menikahlah, cari orang yang benar-benar bisa mempercayainya lebih dari siapapun. Rani, Risa jaga diri kalian baik-baik, bilang pada nenek aku sangat merindukannya. Aku minta maaf karena lebih mempercayai Kintan dari pada dirinya. Tugasku sudah selesai membalaskan dendam penduduk kampung ini. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang. Liya, istirahat lah dengan tenang, sadarlah dan ikhlaskan bahwa dunia kita dan mereka itu berbeda.