Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Ibu Liya


__ADS_3

Rani mengangkat bahunya tak peduli, hanya membuat repotnya saja jika mengikuti wanita itu. Gak kenal, ngapain ikut campur, Liya memilih masuk ke dalam rumah dan mengabaikan apa yang baru saja dia lihat.


"Kamu melihatnya Ran?" tiba-tiba saja nenek sudah berdiri di dekat meja makan.


"Ya ampun nek, ngagetin aja," kata Rani sambil berjalan ke arah neneknya.


Nenek hanya tersenyum ke arah cucunya itu.


"Kamu udah lihat dia Ran?" nenek mengulangi pertanyaannya lagi.


"Dia siapa nek?" Rani yang tak mengerti balik bertanya dan duduk di kursi yang dekat dengan neneknya.


"Ibu Liya," jawab nenek singkat. Rani yang mendengarnya mengerutkan kening tak paham.


"Ibu Liya? Dari mana nenek tau kalau Rani kenal sama Liya?"


"Nenek tau kok, bukan hanya kamu sama kakak mu aja yang bisa lihat mereka Ran," nenek ikutan duduk di samping cucunya itu.


"Iya ya, tapi Rani belum ketemu tuh sama ibunya Liya, kenal aja enggak," jawab Rani polos.


"Wanita yang kamu lihat di luar tadi itu adalah ibu Liya," jawaban nenek sukses membuat Rani terkejut.


"Nenek kok tau Rani lihat wanita di luar tadi?" Tanya Rani penasaran.


"Setiap subuh dia memang suka berdiri di depan rumah, karena pas subuh itu gak ada orang di luar rumah," jawab nenek seadanya.


"Kok nenek tau?" Rani menyipitkan matanya masih tak mengerti.

__ADS_1


"Nanti kamu juga bakalan tau sayang, mengapa ibu Liya sering ke sini setiap subuh, kenapa Liya minta tolongnya sama kalian bukan sama orang lain. Semua itu ada sebabnya, bukan semata-mata kebetulan, ada rahasia yang akan terbuka nantinya, nenek tidak bisa menceritakannya padamu, biarkan kamu mendengar langsung dari si pemilik rahasia, kalian sudah berjalan sejauh ini, bertahanlah, percaya sama nenek, kalau apa yang kalian lakukan ini nanti akan berarti besar buat Liya, walau pun nanti kamu berhasil atau tidak menyatukan dia dan ibunya, perlakukan Liya dengan baik ya," nenek berbicara panjang kali lebar. Berbeda dari biasanya.


Nenek tersenyum sangat tulus, dan mengusap kepala Rani sebelum kembali ke dalam kamar, Rani yang di elus hanya bengong mencoba mencerna informasi yang baru saja di beri tahu neneknya. Lagi-lagi tentang rahasia. Lagi-lagi masih meninggalkan tanda tanya, Rani muak di buatnya, kenapa nenek tidak ceritakan saja sih rahasianya? Biar semuanya mudah selesai.


Tapi benar juga kata nenek, semua butuh proses sebelum mendapatkan hasil, terkadang di dalam proses itulah banyak pelajaran dan hikmah yang dapat di petik.


Namun sayangnya, Rani masih terlalu kecil untuk belajar tentang perjalanan hidup yang rumit itu, dia masih pengen main dan melupakan penat yang dia rasakan sekarang, kapan waktu liburannya selesai? Dia ingin kembali bersekolah lagi, walau pun nanti di sekolah akan melihat banyak penampakan tentara yang sudah tak lazim lagi keadaannya tetap saja, itu lebih baik dari pada bermain teka-teki dengan hantu yang membuat tubuh serta otaknya sangat lelah.


🐾🐾🐾🐾


Rani menghempaskan tubuhnya tepat di samping kakaknya yang sedang tengkurap. Dia melompat begitu saja ke atas kasur tanpa memikirkan kakaknya yang nanti akan terganggu.


"Rani!!! Jangan ribut deh, ganggu loh," Risa mendorong tubuh adiknya itu agar menjauh darinya.


Sedangkan mukanya tenggelam dalam bantal yang dia himpit. Rani tak bergerak dan menolak bergeser, dia sudah nyaman dengan posisinya sekarang, ingin rasanya kembali terpejam dan bangun jam sepuluh pagi saja, namun perkataan nenek masih terngiang-ngiang di otaknya.


"Kak..." Rani menguncang pelan tubuh kakaknya.


"Apaan?" Tanya Risa namun wajahnya masih nyaman nempel di bantal.


"Kaaak.... " Rani yang merasa di cuekin karena gak di lihat pas ngomong kembali berulah mengganggu Risa.


"Apaan sih dek? Ngomong aja," Risa yang belum sempurna berhasil menghilangkan kantuknya merasa kesal di ganggu.


Kenapa mau istirahat saja susah?


"Ih... Tadi Rani habis ketemu mamanya Liya loh," jawaban Rani berhasil membuat wajah Risa yang menempel di bantal terlepas dengan sendirinya.

__ADS_1


"Kamu ngomong apaan barusan? Kamu habis ketemu mama Liya? Kamu gak bohong kan dek?" Mata Risa yang tadinya begitu berat, berhasil terbuka selebar jengkol.


Wajah yang tadinya begitu ngantuk seakan-akan sudah begitu segar seperti di siram air es. Keterkejutan Risa yang berlebihan itu sama sekali tak di duga Rani. Rani yang tiba-tiba di tanya pun ikut kaget tiba-tiba saja kakanya sudah duduk dalam hitungan kurang dari sedetik.


"Segitu amat kagetnya kak," Rani mengedipkan matanya heran.


"Kamu duduk dulu, ceritain semuanya dengan detail, kapan dan dimana kamu ketemu sama mamanya Liya? Dan gimana caranya kamu tau kalau dia mama Liya? seperti apa mama Liya saat ini yang kamu lihat? Cepat jawab dek." Sekarang giliran Risa yang mengguncang tubuh mungil Rani, cuman bedanya kalau Rani mengguncang dengan hati, tapi Risa mengguncang dengan tenaga.


Sampai-sampai dipan kasur itu berbunyi karena goyangan yang terlalu kuat di atasnya. Ternyata Risa juga punya tenaga yang kuat.


"Iya, Rani bakalan cerita, tapi kakak berhenti dulu dong dorong Raninya. Sakit tau," Rani menjauhkan badannya dari si kakak.


Takut jika nanti tulangnya bisa patah oleh Risa yang mendorongnya tanpa perasaan. Rani duduk dan bersiap-siap untuk cerita.


Risa sudah duduk dengan rapi, seperti anak SD yang bersiap-siap mendengarkan gurunya yang akan bercerita.


Tak mau terus di ganggu kakaknya sekali lagi, Rani memilih menceritakan semuanya dengan detail, mulai dari dia memungut pecahan kaca, sampai nenek yang bercerita panjang kali lebar padanya. Risa tetap diam tak berniat memotong cerita adiknya.


Setelah mendengarkan cerita Rani, Risa tersenyum, Ternyata Mamanya Liya masih hidup berarti mereka masih mempunyai secercah cahaya untuk membantu mereka menyelesaikan semua masalah ini.


Untuk tentang rahasia yang di katakan nenek suatu saat itu akan terbongkar tinggal butuh waktu saja.


🐾🐾🐾🐾



(bocoran episode selanjutnya)

__ADS_1


nanti malam episode barunya aku up, sekarang aplikasi di hp ku lagi error.. suka hilang-hilang jaringannya... Tunggu kelanjutannya ya.


__ADS_2