
Saat Iblis itu asik tertawa melihat satu manusia tewas di depannya, tanpa dia sadari ada satu manusia lagi yang menatapnya dengan tatapan Benci. Ahmad yang tak menduga Kelvin akan menghadang Iblis itu tertunduk tak kuasa menahan tangisnya. Seseorang yang telah dia anggap sebagai adiknya selama ini telah tewas tepat di depan matanya.
Ahmad kehilangan ke sadarannya, emosi kesedihan sudah sukses menguasai hatinya. Dia lupa, kalau ada Iblis di depannya yang bisa kapan saja membuat dirinya tewas seperti Kelvin.
"Vi....iin..." Bibir Risa bergetar menyebut nama Kelvin.
Tatapan sendunya melekat ke arah sosok yang telah tergeletak tepat di depannya, dengan keadaan tongkat yang sudah menancap tegak di perutnya.
"Lo ngapain sih Vin! Jangan becanda! Please bangun.... Aku mohon," air mata Risa sudah membanjiri wajahnya dan menetes tepat di atas pelipis Kelvin.
Gadis itu sekali lagi merasakan sakitnya kehilangan seseorang, seseorang yang dia sayang, setelah Ocha.
"Sekarang giliran kamu gadis kecil," mata Iblis itu menatap intens ke arah Risa yang tertunduk menatap wajah pucat Kelvin.
"Bukan, bukan giliran ku, tapi giliranmu," nada dingin yang biasanya di ucapkan Kelvin, kali ini di ucapkan oleh Risa.
Pelan-pelan Risa mengusap pipi Kelvin tanda perpisahan, lalu mengangkat kepalanya menatap Iblis itu.
Yang tadinya tatapan itu berwujud sendu, kali ini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.
"Aku pasrah, saat kau berniat mengambil jiwaku, mungkin dengan begitu semua ini bakalan selesai. Tapi aku sama sekali tak ikhlas jika nyawa dia yang kau ambil! Dia tak ada sangkut pautnya dalam masalah ini! Iblis sialan! Tak bisakah kau memilih lawan yang tepat!," Nada Risa meninggi, membuat seluruh manusia di ruangan itu terkejut menatap Risa.
Ahmad yang tadinya tertunduk merasa bersalah, kali ini mengalihkan pandangnnya kepada Risa dengan penuh keterkejutan. Sintia yang bergetar melihat kematian Kelvin, semakin gemetar takut kejadian buruk beralih kepada Risa. Begitu juga dengan Rani yang berfikiran sama dengan Sintia. Rudi? Jangan tanya, dia masih pingsan di sudut ruangan, dan tak bisa melihat detik terakhir kepergian Kelvin, abang yang selalu jadi temannya.
"Wah... lihat dirimu, apa kau sedang marah dengan ku?" Tanya Iblis itu dengan angkuhnya.
__ADS_1
Risa harus mendongak menantang mata Iblis itu, karena tinggi Iblis itu yang di batas kewajaran, hampir menyentuh loteng rumah.
" Heh, menurutmu? Apa aku harus senang karena kau baru saja membunuh temanku? Hei! Kau masih bisa tertawa sekarang, tapi tidak setelah ini," Risa berjalan mendekat.
Diiringi Ahmad yang berusaha menyuruh Risa untuk jangan maju. Tapi bukan Risa namanya, jika tak mendengarkan isi hatinya saat sedang marah. Yang dia dengar hanya apa yang di bisikka oleh hatinya.
Biasalah, kalau orang sedang marah, orang di sekitarnya pasti di anggap tak ada.
"Risa, sadar! jangan mendekat nanti kamu terluka!," Ahmad terus berteriak, walau dia tau Risa tak akan mendengarkannya.
'Memang cocok dia dan Kelvin berteman, mereka sama-sama keras kepala,' pikir Ahmad.
"Lalu apa yang akan kau lakukan padaku sekarang?" Tanya Iblis itu setengah mengejek.
"Tentu saja membunuhmu!," Risa berlari tanpa aba-aba dan menancapkan tusuk rambut yang dia selipkan di kantong celananya sedari tadi.
"AKH!!!," Iblis itu mengerang kesakitan, dia berusaha menggapai tangan Risa yang menancapkan tusuk rambutnya tepat di jari kaki Iblis itu.
Melihat hantu itu yang kesakitan, Ahmad membantu Risa menekan Tusuk rambut itu lebih dalam dengan di awali basmalah.
Sintia yang sedari tadi hanya bisa memperhatikan tanpa tau apa yang harus di lakukan, menatap takjub.
Dia tak menyangka Tusuk rambut itu mengeluarkan cahaya merah yang begitu pekat, dan anehnya sebagian cahaya itu seperti menjalar masuk ke tangan Risa.
__ADS_1
"Apakah tusuk rambut itu menyatu dengan Risa," Tanya Sintia keheranan.
"Apakah itu bisa membunuh Iblis itu?" Tanya Rani masih was-was.
"Harus ada yang kunci dia biar setelah mati tak ada lagi manusia yang berani membangkitkannya."Sintia berteriak membalas pertanyaan Rani dari bawah.
Sontak mata Risa dan Rani menatap Rudi yang pingsan.
"Ambil kunci Rudi dek!" Teriak Risa, karena dia tau kunci itu bisa mengunci Iblis itu.
"Tapi setiap senjata kita cuman bisa berfungsi di tangan masing-masing pemiliknya kak, dengan begitu, berarti kunci itu akan beraksi hanya di tangan Bang Rudi," Jelas Rani dengan wajah kecewa.
"AISH!!!!," Risa menghentakkan kakinya kesal.
Rudi belum juga sadar.
Sintia yang menyadari itu langsung berlari ke arah Rudi, dia mendekat kepada Rudi yang masih tergeletak Lemas.
"Aku harap kau bisa sadar sebelum terlambat Rud!," Sintia menggerakkan tubuh Rudi frustasi.
Lagi-lagi buntu.
🐾🐾🐾🐾
Segini dulu ya.... maaf pendek....
__ADS_1