
David mengangguk kecil tanda setuju, dia tak mau berurusan dengan psycopat ini terlalu lama.
"Tunggu saja nanti, kalau berani kau menyentuh adikku, aku akan menghukummu," David menggeretak kesal dalam hatinya.
Melihat David yang masuk ke dalam kamarnya seperti bocah penurut membuat Sintia mengerutkan kening heran.
"Lo serius ngikutin perintah kakak lo? Ah… gue pikir lo orangnya pembangkang, ternyata adik yang penurut ya," kekeh Sintia.
"Sin, lo mudah banget menyimpulkan sifat seseorang secepat itu, lain kali kebiasaan kayak gitu harus lo kurangin. Gak semua orang bisa dinilai kepribadiannya dalam waktu singkat, lo kenal teman yang udah tiga tahun aja belum tentu lo tau kayak mana dia seutuhnya, apalagi gue yang baru aja lo kenal," nasehat David panjang lebar.
"Eh, marah ni ceritanya di bilang penurut?" Goda Sintia
"Bukannya marah Sin, cuman lo salah, jadi lebih baik diam, gak usah banyak omong kalau gak tau," mereka adu mulut lagi.
Membuat kedua gadis yang ada di samping mereka mengurut dada, malas untuk melayani atau pun melerai, toh nanti diam sendiri kalau udah capek.
"Iya deh, gue yang salah, lo mah selalu benar," ucap Sintia dengan memutar matanya malas.
"Hais… capek gue sama anak kayak gini, lo nemu dimana sih bocah cerewet kayak gini Sa?" Risa yang maunya diam, malah ditanyain.
Risa mengangkat bahunya tak mau tau apalagi peduli.
"Urusan kalian berdua, selesaikan berdua aja, gak usah bawa-bawa aku ya," Jawab Risa.
Cika merasa mulai bosan, apa yang ingin diketahui belum juga terlihat, dia terduduk di lantai saat orang itu sibuk menuduh siapa yang cerewet.
"Ups… bentar lagi nih, kalau gak sanggup, mending kalian pulang ke tubuh kalian deh," ucap David saat melihat Claudi sudah keluar dari kamarnya.
Dia berjalan lurus ke arah ruang tamu dimana Linda sedang mengobrol dengan Nathan, adik bungsu nya. Dia melemparkan senyum puas, hari ini dia akan memburu makanannya sendiri.
Tak lupa dia mampir dulu ke kamar anak kembar tertua, dia sengaja mengunci pintu itu dari luar, dia sudah punya kunci kamar Naell, termasuk kunci cadangannya, memang kebiasaan Claudi suka mengunci Naell dari dalam jika dia sedang belajar. Naell tidak bisa keluar sampai waktu yang sudah ditentukan Claudi.
Bukan karena sayang dia tidak memburu Naell hari ini, tapi lebih ke syarat keberhasilannya, kalau sampai Naell juga keluar dan masuk dalam daftar menunya hari ini, itu akan membuat dia sedikit kesusahan karena ada dua anak laki2 yang harus dihabisi, di tambah lagi Naell yang kekuatannya juga lebih dari pada Claudi. Walau Naell itu rajin belajar, tapi ada kalanya dia tiba-tiba begitu saja bisa bela diri. Seperti dua orang dalam satu tubuh. Ladang terlihat penurut, dan kadang terlihat ingin melawan.
Seperti kejadian di depan pintu kamar mandi tadi, dia melihat cara Naell menatapnya berbeda dengan waktu habis dipukuli tadi, kali ini tatapannya tak jauh berbeda dengan diri Claudi sendiri.
"Terkadang dia mirip dengan ku, dan terkadang dia terlihat begitu penakut," bisik Claudi pada dirinya.
CKLEK…
Pintu kamar Naell sudah terkunci, dengan santai dia berjalan ke arah Nathan dan Linda, dengan sebilah balok sepanjang 50 cm di tangan kirinya.
"Eh kak, belum tidur?" Sapa Linda dengan ramah sambil berdiri dari duduknya.
Nathan yang menyadari kakaknya yang datang, langsung berdiri dan membalikkan badannya ke arah Claudi yang berada tepat di belakang Nathan.
"Kak?" Kata Nathan, sambil menatap sebilah kayu balok yang berada di tangan kiri Claudi.
Nathan yang selalu merasakan kekerasan kakaknya, selalu saja ketakutan, jika melihat benda-benda tumpul atau tajam yang dipegang kakaknya. Dia selalu was-was jika saja benda itu digunakan untuk menyakitinya.
Tapi itu gak mungkin, kakaknya gak mungkin mukulin dia di depan temannya sendiri, tapi untuk apa kayu itu? Nathan berpikir keras, dengan apa tujuan dan kegunaan dari sebilah balok pendek yang terlihat cukup berat itu.
"Linda, kamu nginap di sini aja ya? Sudah malam, gak mungkinkan anak gadis pulang malam-malam," tawar Claudi dengan senyum manisnya itu.
__ADS_1
Kaki Nathan bergetar hebat, entah kenapa firasatnya selalu saja buruk terhadap kakaknya hari ini, dia terus berusaha berfikir positif, tapi hatinya selalu tak mau di ajak kerja sama dengan akalnya.
"Eee…" Linda menggaruk tengkuknya yang pasti saja tidak gatal, biasanya yang menawari untuk menginap itu orang tua dari temannya, tapi kali ini bukan, malah anak sulung dari keluarga ini, sedangkan orang tua Nathan tak terlihat setelah acara makan malam tadi, apa mereka tidur begitu saja dengan ada tamu di rumah mereka?
"Gak apa-apa kok Lin, ayo ikut kakak, aku antar kamu ke kamar, Nathan, kamu ambil selimut sama sarung bantal yang baru, ada di gudang dalam lemari," kata Claudi dengan nada lembutnya
Nathan terlihat ketakutan jika meninggalkan Linda berdua dengan kakaknya, tapi jika tak menurut, dia takut akan mendapatkan masalah lebih lagi.
Dia melirik ke arah Linda, dan alhasil sepasang mata mereka bertemu, Linda tersenyum kepada Nathan, seakan-akan bilang padanya tidak apa-apa dia bisa sendiri.
Nathan yang mengerti itu, memilih untuk berlalu pergi ke arah gudang, yang berselisih arah dengan kamar yang akan ditempati Linda.
"Kamu ikut aku" tiba-tiba nada bicara Claudi berubah begitu cepat, suaranya terdengar tidak bersahabat, Linda seperti melihat orang yang berbeda dari suara Claudi.
Saat berjalan ke lantai dua, Claudi seperti sedang menelpon seseorang, senyumnya terangkat saat mendengar panggilannya mendapatkan jawaban dari sebrang.
"Kamu ke sini dalam waktu 5 menit, kalau enggak, kamu akan melihat Nathan tanpa nyawa," setelah melakukan panggilan itu dia mematikan handphonenya dan menatap Linda dengan senyum iblisnya itu.
"Maksud kakak apa? Kok ngomongnya gitu." Tanya Linda sambil berhenti di tangga yang terakhir dengan tangan kanannya memegang erat sisi pegangan tangga.
"Gak perlu dianggap serius Nda, itu cuman bahasa sehari-hari akunya aja biar pembantuku itu cepat kemarinya," jawab Claudi dengan senyum dilebarkan dan kelopak mata diperbesar pula
"Eh?" Linda agak sedikit aneh dengan cara bicara Claudi, kenapa lelucon mereka seabstrak itu, sampai-sampai mengeluarkan kalimat kasar seperti tadi. Tapi iya juga sih, gak mungkin dia mau membunuh adiknya sendiri. Linda masih berusaha berfikir positif, walau hatinya masih tak mau diajak untuk kerja sama dengan otaknya.
"Ini kamarnya Lin, masuk," ajak Claudi pada Linda.
Melihat Linda yang masuk ke dalam kamar itu, membuat kaki Risa tiba-tiba menjadi lemas, melihat Risa yang hampir terduduk, Sintia dengan sigap memegang lengan kanannya agar tidak terjatuh ke lantai.
"Linda gak boleh ke situ, LINDA!!!," Risa berteriak memanggil Linda yang pastinya itu hanya akan sia-sia.
"Enggak, aku tunggu di sini, aku gak mau pergi sebelum selesai," bantah Risa.
"Kamu yakin Sa?" Tanya David serentak dengan Cika.
Risa hanya mengangguk pelan. Saat semua mata tertuju pada Risa, mereka tak menyadari bahwa ada suara langkah kaki berlari ke arah kamar yang di masuki Linda dan claudi.
"Melly?" Mata Cika membesar, dia tak menyangka jika bisa bertemu dalam kondisi seperti ini dengan sahabatnya lagi.
"Jadi itu Melly?" Tanya Risa sambil menatap gadis itu yang sekarang sudah ada di depan pintu kamar yang tertutup.
Kamar itu seperti yang dibilang sebelumnya, tak ada ventilasi, dan isi perabotannya hanya meja dan kursi. Kamar itu dalam kondisi tertutup sekarang, keempat orang itu lengah tak menyadari pintu itu sudah tertutup karena teralihkan oleh Risa yang tiba-tiba saja syok dengan kenyataan yang akan terjadi berikutnya.
Mereka sudah menebak kalau yang terjadi di kamar itu, pasti akan sama dengan apa yang dialami mangsa Claudi yang lain. Harus ingat kembali, kamar itu adalah ruang makan Claudi.
Risa menatap Melly singkat, dia baru menyadari kalau siluet punggung Melly dan caranya mengikat rambut dengan pita itu sangat mirip dengan orang yang masuk ke dalam mimpinya.
"Apa dia suka pakai pita?" Tanya Risa pada Cika.
"Iya, itu hadiah ulang tahun pertama yang dikasih Nathan untuk dia, Melly suka banget, jadi selalu dia pakai deh," jawab Cika dengan ulasan senyum di pipinya.
"Lo sesayang itu ya ke Melly Cik?" Tanya Risa lagi.
"Hmm… mungkin sebesar rasa sayang lo ke Linda," mata Cika dan Risa bertemu, nasib kedua gadis ini tak jauh berbeda, atau mungkin malah sama? Perpisahan yang mengenaskan harus ada dalam hubungan persahabatan mereka.
__ADS_1
"Maaf," David berbicara pelan, tapi walau pelan, Sintia di sampingnya berhasil menangkap kata itu di telinganya.
Sintia menatap David heran, kenapa dia minta maaf? Dan kepada siapa? Sintia semakin penasaran, alur cerita sepertinya masih panjang.
🐾🐾🐾🐾🐾
"Kak?" Melly mengetuk pintu yang sudah tertutup itu.
"Masuk aja Mel," sahut Claudi dari dalam.
Dengan ragu - ragu Melly membuka pintu kamar itu. Entah kenapa rasa cemas sudah menyelimuti hatinya, dia selalu takut jika sudah berhubungan dengan kakak sahabatnya itu.
Baru saja membuka pintu itu setengah, tapi Melly sudah bisa melihat apa yang tak seharusnya dia lihat. Seorang gadis yang tak dia kenal, seumuran dengannya, sedang tergeletak tak bernyawa dengan luka besar di bagian lehernya.
"AAAARGH…." Melly terduduk di depan pintu itu. Dia langsung memejamkan matanya dan menutup mukanya dengan kedua tangan yang gemetaran itu.
Perlahan dia mendengar langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya, Melly berusaha berdiri, tak baik jika dia terus di sini, dia harus pergi. Jika tidak, bisa saja nasibnya sama dengan gadis di dalam kamar itu.
Sekali, dua kali, dia terus terjatuh saat ingin berdiri, kakinya terasa mati rasa. Air mata sudah membasahi pipinya.
"Ei… mau kemana? Ambil ini, sekarang kamu pelaku yang sudah menghabisi perempuan itu. Cepat bilang iya!, Bentak Claudi tepat di telinga Melly.
" Apa maksud kakak? Aku bahkan tidak pernah melihatnya, menyentuhnya apa lagi membunuhnya, jelas ini semua perbuatan kakak!, Melly berbicara dengan suara penuh isakan tangis.
Melihat itu hati Cika benar- benar sakit. Begitu juga dengan Risa yang sudah terduduk lemas dengan tangis tak bersuara sambil menunduk dia menggigit bibirnya untuk meminimalisir suara tangisannya. Dia bahkan tak sadar sahabatnya sudah terbunuh, saat dia melihat pembunuhan itu, dia bahkan tak bisa menghentikannya. Claudi dia bukan manusia tapi lebih buruk dari iblis itu sendiri.
"No no no…. Pisau sekarang sudah ditangan kamu sayang, jelas sidik jari kamu sudah berada di sana," senyum menyeringai itu mengakhiri kalimat tak beradab dari Claudi.
"Enggak! Enggak!!! Melly melempar pisau itu dari tangannya. Dan pisau itu jatuh tepat di depan Nathan yang sedang membawa bantal serta selimut tebal untuk Linda.
"Pisau apa ini?" Tanya Nathan kepada Melly, orang terakhir yang memegang pisau itu.
"Itu… itu .." Melly tak tahu bagaimana menjelaskannya.
"Kakak tadi pergi sebentar mengangkat telepon, tiba-tiba Melly berlari dari pintu depan dan melukai Linda, lihat tu," Claudi berakting pada waktunya. Wajah ketakutan itu tak cocok untuk dia, benar-benar terlihat palsu.
"Linda! Kok.. Mel… lo… lo apain Linda!! Linda! Bangun!," Suara meninggi untuk pertama kalinya keluar dari mulut seorang Nathan.
Air mata pun ikut keluar bersamaan dengan rasa marah yang sudah meliputi hati Nathan.
"Bukan aku!!! Bukan aku yang ngelakuin itu!!!" Melly panik, dia berlari keluar dari rumah itu. Kepergiannya diiringi senyum puas dari Claudi,"
"Melly!!! Melly!!!, Nathan meneriaki nama orang yang dituduh sudah membunuh Linds, gadis yang dia sukai.
"Nathan, sabar ya, kita akan laporin Melly ke polisi, kamu yang kuat," lagi-lagi dia berperan dengan sangat baik. Claudi benar-benar sudah pro.
Di lain sisi David bertepuk tangan melihat akting hebat dari kakaknya, dia merasa salut dengan kakaknya itu.
"Lo kapan keluarnya? Gak lo bantuin tu si Nathan?" Tanya Sintia mulai greget saat melihat Claudi sudah mengambil pisau barunya untuk menikam punggung Nathan dari belakang.
"Sin, jangan lupa, pahlawan tiba tepat waktu," kata David menatap pintu kamarnya yang masih terkunci itu.
"Lo gak tepat waktu Vid, lo telat, Linda sudah dibunuh sama Claudi" Risa berbicara lirih.
__ADS_1
"Maaf untuk itu Sa… aku telat untuk sahabat lo, Claudi menang selangkah dari gue. Gue janji, setelah ini gue akan menerima ganjarannya karena terlambat nolongin Linda," balas David sambil menepuk bahu Risa yang masih terduduk di samping.
"Maaf Vid, bukan itu maksud aku," Risa merasa bersalah karena membuat David memiliki perasaan bersalah terhadap Linda. Karena bagaimanapun yang harus merasa bersalah itu adalah Claudi. Bukan Nathan, David, apalagi Naell.