
Liya menangis dan aku hanya bisa menyaksikan, ingin menenangkan tapi gak bisa. Ya sudahlah lebih baik diam dari pada banyak bicara teriak-teriak gak jelas yang ada nanti energi ku terkuras. Dengan santai, aku duduk di atas tanah itu tanpa beralas apapun. Tenang saja, bajuku takkan kotor, bahkan sebutir debu di sini saja tak bisa menyentuhku.
Karena pada dasarnya aku di sini cuman menonton tapi berdiri langsung di dalam TV yang sedang di putar. Kali ini aku yang menjadi gaib. Keren.
Sudah cukup lama Liya tak juga berhenti menangis. Dia terus menenggelamkan wajahnya di balik kedua lutut mungilnya. Dia pasti sangat terluka aka semua masalah dan tuduhan tak berdasar menghantuinya. Liya masih kecil dan harus menerima semua beban ini.
"Liya!," dengan kompak aku dan Liya melihat ke arah asal suara.
Demi melihat si pemilik suara Liya bahkan tak ingat menghapus air mata yang sudah berserakan di pipinya.
"Waah, cantik," pujiku saat melihat wajah pucat Liya tersenyum.
Bagaimana tak terpesona, gadis yang tak pernah tersenyum selain menangis itu tiba-tiba saja menyunggingkan senyuman yang sangat menawan.
"Kamu gak apa-apakan?" Orang yang memanggilnya itu adalah seoran pria yang sepertinya sama besar dengan S.
Pria itu berlari ke arah Liya, dan aku melihat dia mengeluarkan sapu tangan yang ada di dalam tasnya. Guratan dari wajah tampan itu tak sengaja mengukir rupa yang sedang marah. Aku bisa melihat jelas, pria itu mengeraskan rahangnya menahan marah.
__ADS_1
Aku yakin, dia dan aku memiliki rasa kesal yang sangat kepada S. Oh, mungkin saja rasa marah pria ini lebih dari ku, tangan kirinya menggepal, dan urat tangannya menonjol dengan jelas.
"Ayolah S, kau membuat raja singa marah," siapa pria itu? Jangan tanya, aku sama sekali tidak kenal.
Jangankan pria itu, Liya dan S saja aku gak kenal semasa mereka hidup. Jujur ini baru pertama kali ku melihat cowok itu.
"Kamu kenapa diam aja setiap di pukulin kayak gini! Kenapa kamu pasrah saja ha? Sekali-kali lawan dong Ya!" Pria itu terus saja berceloteh, sedangkan Liya hanya diam saat pria itu mengelap air matanya dan memberikan obat mengurangi rasa nyeri di pipinya.
S mungkin seorang perempuan, tapi tamparannya, tenaganya tak ada bedanya dengan laki-laki. Dia saja di juluki laki-laki cantik. Tenaga laki-laki tapi rupa begitu cantik.
Aku termanggu menatap kekuatan Liya, bisakah aku lihat wanita sehebat itu di zaman ini? Tentu saja sangat sulit.
🐾🐾🐾🐾
POV AUTHOR
Risa seperti habis menonton film romantis, tapi kali ini dia tidak jijik, dia malah meneteskan air mata, mengingat seberat apa beban yang Liya tanggung. Siapapun pria itu, Risa sangat berterimakasih ada di samping Liya sebelum Liya benar-benar mati.
__ADS_1
"Ya, jangan diam aja, kamu dengar gak kata abang?" Pria itu memegang kedua bahu Liya. Dia menatap Liya dengan penuh kasih sayang.
"Dengar bang, tapi saran abang gak bakalan Liya lakuin," Liya tersenyum lagi, dan setiap senyum yang Liya buat terlihat begitu ikhlas, senyum yang tidak di buat-buat.
"Loh Kok gitu?" Pria itu mengerutkan keningnya tak mengerti, maksudnya Liya mau terus jadi samsak tinju mereka? Begitukah?
"Hmm, gak ada gunanya Liya melawan, semakin Liya melawan mereka akan semakin menyiksa Liya, biarkan saja semua seperti ini, Liya tinggal harus melakukan pekerjaan rumah dengan baik, dan mengikuti perintah kakak," Liya mengakhiri ucapannya dengan sebutir air mata yang kembali meluncur dari pipinya.
"Tapi Ya...." belum selesai pria itu bicara, Liya langsung berdiri dari duduknya.
"Abang jangan khawatirin Liya lagi ya? Liya bisa kok nyelesain ini sendirian, dan Liya mohon, abang jangan temuin Liya lagi, kalau kakak lihat, Liya bisa di hukum," Liya meraih sapu lidinya dan pergi dari hadapan pria itu.
Risa menatap perpisahan kedua sejoli itu yang sama sekali tidak seperti film romantis yang dia tonton di drama. Ini bukanlah ending yang Risa mau. Jangan berpisah, tapi kerja sama.
"Hah... Berapa lama lagi Ujian hubungan mereka ini?" Risa menggaruk kepalanya yang tidak gatal seiringan dengan Liya yang berjalan menembusnya.
"Aku benar-benar kayak hantu sekarang," Dengus Risa kesal.
__ADS_1