
"Maaf aku gak maksud ngomong kayak gitu," kata Cika rilih kepada Dimas.
"Hhhah... Sudahlah Cik, aku cuman mau dengerin kata Ocha, dia ingin aku bisa jalanin hidup dengan baik. Dia juga ingin kita bebas dari sini, kalau aku tetap egois dengan perasaan ku yang sedang tak enak ini. Maka kita akan tambah lama di hutan ilusi ini," Kali ini, sepertinya Dimas menggunakan otaknya dengan baik.
Memang seharusnya begitu, semua orang tau sebetapa rapuhnya kamu, tapi pada dasarnya tak ada gunanya kita melihatkan kerapuhan kita, karena itu hanya akan membuat semua orang ikut larut dalam luka kita. Jadilah manusia kuat, secinta apapun kamu pada insan manusia, semuanya pasti akan pergi, pulang kepada tempatnya. Jangan terus berlarut dalam air mata, jangan tenggelam dalam sungai air matamu. Bangkitlah, karena orang yang kamu cintai itu pun pasti sangat sedih di sana melihat kamu terluka seperti ini.
Menangis boleh, menyesal boleh, tapi jangan berlarut. Karena yang sudah pergi takkan pernah kembali, dan waktu yang berlalu takkan kembali.
Itulah mengapa lebih baik kamu menghargai seseorang yang sekarang ada di samping kamu, jangan melihat terlalu jauh sampai kamu lupa siapa yang selalu ada di samping kamu dengan tulus.
Tidak ada yang taukan usia manusia? Bagaimana kalau dia yang selalau kau abaikan pergi? Jangan sampai menyesal seperti Dimas.
__ADS_1
Semua orang terdiam lagi, dan kedua hantu yang memantau dari jauh hanya bisa diam saat ini. Entah kenapa kejadian hari ini agak sedikit menguras emosi mereka. Keadaan Ocha membuat mereka merasa sangat iri.
Waktu yang mereka habiskan waktu masih hidup sama sekali tak bermanfaat. Sherly yang hanya berteman dengan berandalan kampung tak tau apa artinya berbuat baik, tak tau apa artinya saling peduli. Bertengkar satu sama lain, merebutkan hal yang sebenarnya tak begitu berguna.
Bersama orang tua pun selalu membangkang, Sherly selalu berharap kalau dia di berika kesempatan untuk bertemu lagi dengan kedua orang tuanya. Mengatakan bahwa dia sangat mencintai ibu dan bapaknya dan mengatakan ucapan maaf atas semua yang dia lakukan selama ini.
Tapi begitulah, hidup ini hanya tentang waktu, kamu tak menghargainya maka kamu akan terlena oleh kelalaian yang berujung penyesalan.
"hmm... Kak jadi gimana?" Rani memilih memecahkan keheningan duluan, karena jika tak dia yang memulai pembicaraan bisa jadi Cika atau Denislah yang akan berbunyi duluan.
Yang Rani tau, dua orang itu tak bisa di andalkan mulutnya. Tak ada saringan yang cocok untuk mulut mereka berdua. Entah kenapa Dimas bisa memiliki teman dan adik seperti ini, sedangkan terlihat dimata Rani, Dimas itu manusia yang normal seperti Kelvin.
__ADS_1
"Bukankah semuanya bermulai dari rumah tua itu? Maka kita harus memulai semuanya dari rumah itu juga," Kelvin yang terkenal bersuara kapan butuhnya saja ini menyaut dengan jawaban yang bikin tercengang.
"Kembali kerumah itu? Jangan bercanda Vin, kita gak tau sekarang kayak mana rumah itu, entah apa yang telah di siapkan Kintan di rumah itu," Risa menggelengkan kepala tak setuju.
"Menurut kamu gimana Ran," sepertinya Kelvin mulai mempercayai kelebihan Rani, dia bertanya kepada gadis kecil itu.
"Abang benar, jalan satu-satunya kembali ke rumah itu, hanya di situ ada tempat yang pas untuk menghabisi Tarjo," semua kepala menggeleng tanda tak setuju, kecuali Kelvin yang tersenyum senang.
Ternyata bukan dia sendiri yang pemberani disini.
"Kenapa? Kalian takut? Kita punya Tuhan, yang selalu jaga kita, percaya sama Tuhan. Tidak ada yang lebih hebat dari Tuhan kan? Mereka cuman makhluk rendahan, jadi jangan takut dengan mereka. Aturannya kita yang buat mereka takut dengan kita." Rani berbicara seperti orang tua yang sudah banyak pengalamannya saja.
__ADS_1
Tapi yah, yang di katakan Rani itu benar sekali. Gadis kecil yang bijak!