Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Kebenaran sesungguhnya


__ADS_3

"Bang? Itu lo?" dari belakang Rani dan Rudi datang 3 orang lagi. Dan yang berbicara itu adalah bocah laki-laki yang kelihatannya seusia Rudi.


"Denis? Cika? itu kalian?" kali ini Dimas yang bersorak. Ada kebahagiaan dari bola matanya itu.


Itukah adiknya Kak Dimas?


Terlihat dari wajah mereka bertiga dan juga Rani begitu kelelahan. Baju Adiknya Dimas dan juga kedua temannya sudah begitu lusuh, di tambah lagi baju perempuan yang aku ketahui namanya Cika itu ada bercakan darah di sana.


Apa saja yang sudah mereka alami sejauh ini?


"Mas, Li...liaam..." Cika menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tak pecah.


Aku yang ingat siapa Liam menjadi prihatin dengan Cika yang kini sudah di peluk adikku. Ah, adikku selalu peka akan setiap keadaan.


Sedangkan adiknya Dimas menundukkan kepala seakan-akan ada penyesalan yang tak bisa di ucapkan.


"Aku tau Cik, aku udah lihat sendiri jasad Liam," mendengar itu kepala Cika dan Denis mendongak menatap Dimas dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Apa? Lo udah ketemu sama Liam? Dan lo gak nyari kami Mas? Lo tau gak sih, setelah kejadian itu kami menjadi sangat ketakutan. Lo coba bayangin, di tengah hutan yang gak ada jalan keluarnya ini, cuman berdua sama Denis yang masih kecil? Jangankan ngelindungi Denis, gue yang cewek aja gak bisa neglindungin diri gue sendiri. Gue bahkan udah pasrah kalau nenek gila itu datang dan habisin kami! KENAOA LO GAK NYARI KAMI MAS!!! Gue kira lo udah mati!," Cika sudah berada di depan Dimas dan terus memukul Dimas tanpa henti.

__ADS_1


Bukan Dimas yang meringis kesakitan melihat Dimas di pukul, tapi malah aku. Kasian sekali kamu kak.


"Aku bukan gak mau nyari kalian. Setelah kami ketemu jasad Liam, kami nyari kalian, tapi gak ketemu, aku malah ketemu Ocha. Bahkan waktu aku mau nyari kalian, kami terus di intai, kami juga dalam bahaya. Maaf, aku juga dalam kondisi bahaya. Kita sama, maafin aku, kalau aku gak bisa nemuin kalian," mata Dimas berkaca-kaca, dan pukulan Cika juga mulai melemah.


"Maksud lo? Ketemu Ocha?" Aneh, bukannya senang dengar salah satu temannya juga selamat. Tapi Cika malah menatap mereka dengan tatapan tanda tanya.


"Iya, itu Ocha," Dimas menunjuk ke arah gadis itu tadi berdiri.


Mata Dimas dan aku membulat tak percaya, ada apa ini?


"Gak ada orang di situ Bang," kali ini Denis yang menjelaskan.


"Loh bukannya tadi Ocha berdiri di situ?" Dimas menatapku begitu juga aku.


"Sa! Bukankah aku nyuruh kamu buat jagain Ocha?" Pandangan Dimas seperti ingin menelanku.


"Tunggu, maksud lo Ocha hilang gara-gara gue? Tadi dia masih di sana! Aku mana tau kalau dia bakalan pergi," kataku kesal.


Pandangannya mengintimidasi. Itu agak menyakitiku.

__ADS_1


"Lo gimana sih Sa! Jangan gitu dong! Kalau lo gak suka sama Ocha gue gak masalah! Tapi jangan tinggalin dia sendirian!" Dimas membentakku kali ini.


"Jangan bentak Risa Dimas! Kalau Risa tau Ocha bakalan pergi dia pasti gak akan lepasin Ocha. Jangan saling tuduh seperti ini. Mungkin Ocha cuman pergi sebentar," Kelvin berdiri dari duduknya.


Dia menatap Dimas dengan tatapan tak suka. Pria ini, selalu membelaku, memang sahabat yang baik.


"Sudah berhenti berdebat tentang kak Ocha! Kak Ocha itu sudah gak ada lagi, dia udah meninggal bang," Kata Denis yang membuat aku, Dimas, Kelvin dan Rudi kaget bukan main.


Meninggal bagaimana? Jelas-jelas dia bersama kami tadi, dan aku baru sebentar ini menggenggam tangannya. Wah, sepertinya Denis bercanda tidak pada waktu yang tepat.


"Meninggal? Tapi tadi aku masih lihat dia Nis, iyakan Bang?" Rudi yang sedari tadi diam, kini ikut melayangkan ketidak percayaannya kepada ucapan Denis barusan.


"Denis gak bohong Rud, Ocha memang udah meninggal,waktu kami di serang oleh nenek itu, Ochalah yang pertama kali terkena pisau nenek, lukanya cukup dalam di dadanya. Dan Liam langsing menghadang hunusan pisau yang kedua. Saat Liam nyelamatin Ocha, Dia menyuruh kami pergi sambil bawa Ocha jauh dari situ. Tapi sebelum kami mau ngobatin lukanya Pcha udah keburu gak ketolong. Dan kami berdua yang ngubur Ocha. Jadi Ocha memang udah meninggal," jelas Cika.


Yang membuat bulu kuduk ku berdiri lagi, dan seperti biasa tubuhku kembali bergetar hebat, jadi yang selama ini bersama kami itu siapa? Kenapa Sherly dan S tidak memberi tahu kami tentang Ocha.


Kaki ku lemas, sebelum sempurna jatuh ke tanah, Kelvin langsung menyambutku. Nafasku terasa tersengal-sengal. Berbeda dengan Dimas, dia seperti patung kali ini. Tak berbicara, tak menangis. Hanya diam, layaknya waktu di sekitarnya telah berhenti berputar.


Aku sungguh prihatin.

__ADS_1


__ADS_2