
Setelah selesai berbincang di ruang tamu, Kelvin meminta izin untuk pulang, begitu pula dengan aku dan Rani. Rasanya cukup lelah selama di perjalanan. Padahal yang berjalan itu mobil, tapi entah kenapa kami ikut-ikutan lelah.
"Ma, kami ke kamar dulu ya, mau istirahat," mama mengangguk mendengar perkataanku. Sedangkan ayah, sudah sedari tadi kembali ke tempat kerja bersamaan dengan Kelvin yang keluar dari rumah.
"Iya, kalian pasti capek kan? Tidur aja dulu," mama mengusap kepala Rani dan berlalu membawa piring yang sudah kosong itu ke dapur.
Sebelum sampai ke kamar ku, aku harus melewati kamar Rudi dulu, dan saat sampai di depan kamar Rudi, aku terkejut. Hampir saja aku lupa dengan wanita yang memiliki kunci menancap di matanya. Dia menatapku dengan tatapan kosong. Auranya entah kenapa terasa lebih mengerikan dari pada sebelumnya.
"Dia belum mau kasih kuncinya, kalau aku cabut sendiri bisa gak kak?" Rudi yang baru saja datang dari kamar mandi berdiri di sampingku sekarang.
"Entahlah, kakak juga gak tau, nanti kakak coba cari tau, jangan terburu-buru," aku menepuk bahunya pelan dan berlalu melewati hantu itu untuk menyapa kasur ku yang empuk yang pastinya sudah sangat aku rindukan.
"Padahal udah gak sabar lihat apa kelebihan tu kunci," sekilas aku bisa mendengar perkataan Rudi.
Tapi untuk sekarang, aku malas untuk befikir dulu. Biarkan hari ini menjadi hari yang damai buatku. Yah.... sehari.... aja....
Sebelum tidur aku letakkan tas kecil yang sedari tadi ku bawa ke atas meja belajar. Ada hp, casnya, serta kotak milik Nathan yang segera ku letakkan di atas meja belajar.
Isinya masih sama, sebuah kalung. Dan misteri akan di mulai dari kalung itu jawabannya pun mungkin akan di temuka dari kalung itu juga. Semua akan di mulai kembali. Menjelajahi kehidupan orang yang telah tiada akan di mulai. Ups... tapi bukan sekarang.
Bantal guling yang terletak rapi di atas kasur sekarang sudah berada di dalam pelukan, lampu yang menyala sudah di matikan. Selamat tidur untuk siang ini.
🐾🐾🐾🐾
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Saat ingin membuka mata kepala ini terasa sangat pusing, seperti baru terbentur sesuatu yang cukup keras.
"Loh, Kok..." aku terkejut saat berhasil membuka mata dengan lebar, apa aku tidak berada di kamar? Semua di sini serba putih, tak ada warna lain selain warna putih. Bahkan bajuku pun...
"Loh, kapan aku ganti baju?" Perasaan tadi masih mengenakan baju yang sama dari rumah nenek. Tapi kenapa sekarang aku nemakai baju daster dan itu warnanya putih!
"Hmm...Hmm..Hmm...," sayup-sayup aku mendengar suara perempuan yang sedang bersenandung. Karena penasaran aku memilih mencari sumber suara.
Saat kaki ku sempurna menginjak lantai, rasa dingin menjalar di kaki, ubinnya sangat dingin. hampir saja aku berteriak karena kaget. Tak menduga bahwa akan sedingin ini.
__ADS_1
Satu meter, dua meter, lima meter dan aku belum menemukan apapun. Sampai di beberapa meter kemudian, ada seorang gadis berambut panjang membelakangiku dengan rambutnya di jepit dengan rapi. Dari belakang saja sudah terlihat cantik, apa lagi dari depan? Entah kenapa nuansa putih yang ku lewati tak ku temukan di dekat gadis itu.
Yang ada hanya hamparan bunga berwarna kuning cerah terpampang di depannya. Sekilas aku terpana oleh kecantikan bunga itu dan gadis yang menambah keindahan itu berpuluh kali lipat.
Jiwa penasaranku semakin memberontak, mungkin sekarang aku berada di alam mimpi. Untuk yang kedua kalinya aku bisa sadar di dunia mimpiku. Ini benar-benar menakjubkan.
Saat aku semakin dekat dengan gadis itu hanya berjarak satu meter di antara kami. Entah kenapa aku merasakan bahwa siluet gadis ini tak asing, punggung dan rambutnya terlihat familiar.
TESS...
Bukan bunyi air hujan, tapi air mata mengalir begitu saja di mataku. Ada perasaan rindu yang tak tertahan, yang aku tak tahu entah kenapa bisa merasakan perasaan ini. Air mata mengalir begitu saja tanpa ku ingini, terasa begitu sedih dan terluka. Ada apa dengan ku?
"Hey..." aku dan gadis itu menoleh ke asal suara.
Seorang pemuda tinggi mendekat ke arah gadis itu. Namun sayangnya aku tak melihat senyuman di wajah pria itu, apa mereka ada masalah?
AISH.... Kenapa aku masuk ke mimpi kayak gini sih? Ni orang berpasangan? Lah aku jadi apanya? Pajangan gitu?
"Nathan, Aku kira kamu gak bakalan datang," kata perempuan itu lirih namun dengan nada yang ceria. Tapi bukankah nada cerianya seperti di buat-buat? Ah apa aku salah dengar.
Eh... tunggu!
'Nathan?'
Aku membulatkan mataku tak percaya, sekali lagi aku menatap ke arah pria itu yang sudah dekat dengan kami.
"Waah... benar itu Nathan!, Jadi sekarang maksudnya aku sedang berada dalam masalalu Nathan, begitu kah?"
"Katanya mau ngomong penting, langsung aja ke intinya, aku gak punya banyak waktu," Nathan berbicara dengan nada datarnya.
__ADS_1
Cowok ini terkesan dingin kah? Kok beda sama yang terakhir kali aku ingat? Atau fikiran aku aja kali ya yang sedang kacau.
"Hah... kamu benar-benar keterlaluan ya Nath," perempuan itu tertawa kecil.
Lalu dia menyodorkan sebuah kotak, dan itu?
"Itu kotak yang ada sama aku! Jadi kotak itu dari cewek ini? Atau emang punya Nathan tapi di pinjem cewek ini? Aduh gimana sih?." Aku memukul kepalaku yang kayaknya sedang loading.
Menunggu proses pencernaan otak ku yang butuh waktu lama, aku memilih untuk merekam kejadian ini dulu melalui mataku. Nanti pas udah bangun baru aku selesaikan. Sekarang lebih baik aku nonton siaran yang sedang berlangsung ini.
"Simpan baik-baik ya, anggap ini kenang-kenangan dari aku, Nathan, aku serius suka sama kamu, tapi yah... aku juga gak bisa maksain perasaan kamu kan? Semoga kamu bisa jadi Nathan yang ceria lagi, aku pamit ya?" Perempuan itu meraih tangan Nathan.
Dan meletakkan kotak itu di atas tangan lebar Nathan, saat aku ingin menangkap wajah gadis itu lebih jelas, angin malah meniup rambut gadis itu sehingga menghalangi penglihatan ku.
"Maju aja kali ya?" Aku melangkah sedikit ke depan agar bisa melihat siapa gadis itu, namun...
BRAAK...
Tubuh ku seperti menabrak dinding kaca, terpental begitu saja, aku tak bisa mendekat. Sial! Padahal sedikit lagi tertangkap tuh cewek.
"Bye Nathan," Gadis itu pergi menembus bunga-bunga yang sedang bermekaran. Namun Nathan hanya berdiri menatap punggung gadis itu.
Dan sekilas aku melihat air mata terjun di pipinya.
Haish... kalau gak mau di tinggalin kejar dong! Ini malah di biarin, kan bego!
Tapi kemudia gadis itu berhenti sebelum sempurna menjauh. Aku tertegun, kenapa dia berhenti?
"Nathan, Kotak itu terdiri dari dua ruangan, buka ruang yang ada di bawahnya, kamu tinggal menggeser kotak di atasnya. Ada yang ingin aku sampaikan padamu di kotak itu." Aku mengangguk, sekarang aku tau, kotak itu ada isi yang lain.
"Nathan! Lupakan aku ya!," Gadis itu berteriak dan membalikkan badannya.
Saat badannua sempurna berputar mengarah kepadaku dan Nathan, seketika perutku langsung memberontak ingin mengeluarkan isinya.
__ADS_1
"Sial! Apa mimpi ini mau mengerjaiku?"
Wajah gadis itu cantik sebelah dan sebelahnya lagi membusuk dan sudah ada belatung di situ. Sial! Belatung lagi!