
PERHATIAN!
Sebelum mulai baca, elmi cuman mau kasih tau, ini semua murni imajinasi elmi.... jadi mohon di mengerti, bahwa ini semua murni imajinasi author semata....
πΎπΎπΎπΎπΎ
Ahmad berjalan terhuyung karena kesadaran yang belum sempurna terkumpul. Saat sudah melihat iblis itu yang berdiri tepat di depan Risa dengan seringai tajamnya, membuat Ahmad mau tak mau harus berlari walau kepalanya masih sedikit pusing.
Sintia yang melihat dari belakang meremas bajunya khawatir. Dia tau, bahwa kali ini akan lebih susah dari sebelumnya, seperti di masalalu, dimana salah satu temannya harus menjadi korban karena kejadian yang seperti ini. Sintia tak tau, apakah dia akan kehilangan seseorang lagi?
"Hah... seandainya saja aku manusia biasa," Sintia merutuki kekurangan yang dimilikinya, yap, pastinya bagi orang lain itu adalah sebuah kelebihan. Tapi tidak baginya, apa yang orang sebut 'kelebihan' ini adalah hal yang paling mengusik ketentraman hidupnya.
"Menjauhlah!" Ahmad sekarang tepat di belakang iblis yang begitu tinggi dan besar itu.
"Waah, manusia kecil sepertimu masih mau melawanku, setidaknya kau harus tau diri," jawab Iblis itu dengan membalik kebelakang, menatap Ahmad yang sedang menatapnya juga.
"Kaulah yang harus tau diri! Sadarlah akan derajatmu yang tidak sebanding dengan kami," Jawab Ahmad dengan tak mau kalah.
"Derajat tak sebanding? Aku rendah dari kalian? Begitu? Tapi sifat kalian menunjukkan sebaliknya, kalian, jelas-jelas sangat takut denganku, dengan sikap pengecut itu masih mau bilang derajat kalian lebih tinggi? Hah... Manusia memang makhluk yang suka menyombong, tapi sayangnya, sifat sombong mereka mengambarkan kebalikannya dari kenyataan yang terlihat," Iblis itu berbicara dengan percaya diri. Merasa bahwa dia benar-benar di atas manusia, karena rasa takut yang dia berikan kepada para manusia itu.
Ahmad bukannya tersindir, tapi malah tersenyum miring, entah itu senyum miris menyadari bahwa apa yang di katakan Iblis itu ada benarnya juga. Atau mungkin itu adalah senyum mengejek, karena pemikiran dangkal dari si Iblis.
"Kau tau sendiri, mana yang takut dengan mu, mana yang tidak, kau juga pasti tau, mana yang beriman mana yang sekedar manusia separuh iblis? Aku sadar betul, ada segelintir manusia yang tunduk serta patuh padamu! Bahkan ada yang menjadikanmu Tuhan tempat meminta! Dan kau merasa bangga, oleh beberapa orang yang dangkal ilmu itu? Kau bangga, di atas orang yang bahkan tidak peduli tentang akhirat, yang mereka tau hanya nafsu mereka di dunia. Lalu bagaimana dengan beberapa orang yang dekat dengan Tuhan? Apakah mereka juga lemah darimu? Hehe.... itu masalahnya, rasa takut! Benar yang kau katakan, kami tak perlu punya rasa takut denganmu, maka dengan begitu, kau bukan tandingan bagi kami." jawab Ahmad sambil terus mendekat selangkah demi selangkah.
Mata Iblis itu terlihat gentar, menyadari tak ada ekspresi takut maupun marah dari Ahmad. Setidaknya, marahlah, karena dengan begitu celah dari manusia akan terbuka. Karena marah adalah salah satu emosi yang sangat buruk, marah adalah sifat aslinya Iblis itu sendiri. Kalau mereka sudah marah, maka dengan begitu manusia sendiri yang membiarkan Iblis mengambil posisi di hati mereka.
__ADS_1
Makanya, banyak yang menasehati, jangan marah, jangan marah, berkacalah saat kamu marah, bukankah ekspresi wajahmu menjadi menyeramkan. Bukankah di saat marah, rasa egois perlahan merasuki hatimu? kata-kata yang keluar jadi ngelantur? Iyap, marah benar-benar tidak memberikan manfaat sedikit pun.
Terlihat dari ketenangan yang dimiliki Ahmad, itu membuat Iblis yang awalnya bisa membuka celah Ahmad, seketika terlintas dibenatnya kata kalah. Akankah manusia itu membunuhnya?
Ahmad terus maju dengan lafaz ayat-ayat suci alqur'an yang terus mengalir di bibirnya. Iblis yang tadi bisa bergerak bebas, kali ini dia yang terkunci. Matanya makin memerah, dan tiba-tiba dia berteriak menahan rasa sakit yang tiba-tiba menjalari tubuhnya.
"Aku mungkin akan kalah, tapi setidaknya, aku tak mau mati sendiri!," Iblis itu menatap penuh amarah ke arah Ahmad.
"Matilah sendiri! Jangan ajak orang lain denganmu! Tamatlah riwayatmu saat ini!," Sekarang Ahmad benar-benar sudah berada di dekat Iblis itu.
Sintia yang merasakan sihir Iblis itu tiba-tiba tak lagi mengunci kakinya langsung berlari ke arah Risa yang sepertinya belus sadar bahwa dia bisa pergi menjauh dari Iblis itu.
Namun, sebelum Sintia sampai di bawah tangga, Iblis itu telah duluan melirik Risa dan ingin menangkapnya.
Ahmad menahan sekuat tenaga, dan terus berusaha agar Iblis itu tak menyentuh Risa. Bagaimana pun Ahmad tak punya kuasa untuk mengatur gerakan Iblis itu, semuanya berjalan atas kehendak Tuhan.
"TIDAK!," Sintia dan Rani refleks menutup mata, berbeda dengan Ahmad yang langsung Refleks membesarkan matanya terkejut akan apa yang dia saksikan...
Sebuah pengorbanan, terlihat di depan mata Bima.
Darah menetes tepat di depan Risa. Risa yang awalnya menutup mata ketakutan, perlahan membuka matanya perlahan-lahan. Dan seketika, teriakan Risa memenuhi ruangan itu.
"KELVIN!!!!," Risa terduduk di tempat dia berdiri.
Seseorang tertusuk di depannya, seseorang yang selama ini selalu di sampingnya. Kelvin terbaring di depan Risa dengan tongkat sapu yang dia bawa sebagai senjata tadi malah menancap di perut bagian sebelah kanannya.
__ADS_1
Kelvin meringis kesakitan, dia menatap orang yang selama ini dia kasihi dalam diamnya, dengan susah payah dia membuka mulutnya berniat ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelum kalimat itu meluncur di bibirnya, ajal telah duluan menjemput seorang Kelvin. Dengan darah yang mengalir di area perutnya beriringan dengan air mata yang juga merembes keluar karena sakit yang Kelvin rasakan.
Akhirnya Kelvin pergi dalam keadaan yang dia inginkan. Yaitu melindungi gadis ceroboh yang sangat dia sayangi. Dia berusaha menghambat sesuatu yang ada di depan Risa saat melihat muka ketakutan yang terlihat di mata Risa.
Dia mungkin tidak bisa melihat apa yang Risa lihat, tapi dia bisa melihat bahwa Risa dalam bahaya, apa lagi saat dia menyadari kalau Sintia berlari dengan cepat ke arah Risa.
Namun na'as, saat dia tepat di depan Risa, dan tongkat yang dia acungkan ke depan entah untuk siapa, malah membuat senjata makan tuan. Iblis itu membuat angin yang begitu besar, Tongkat sapu yang di tangan Kelvin, lepas dari pertahanan, sehingga meluncur ke arah perut Kelvin, yang membuat Tongkat itu menerobos masuk perut Kelvin sampai Membuat darah menetes ke atas lantai yang dia pijak.
"Hehe.... manusia bodoh!," Iblis itu terlihat senang, tak seperti yang lainnya, terduduk tak berdaya, karena luka kehilangan.
"IBLIS SIALAN!," Teriak Risa....
Yang tanpa iblis itu sadari, dia membuka pintu nerakanya sendiri.
πΎπΎπΎπΎ
Hargai dia yang selalu setia di sampingmu, jangan sakiti hati dia yang rela berbuat apapun demimu, kamu tidak tau, bagaimana sakitnya mencintai dalam diam. Ingin memilikimu tapi tak bisa menyampaikannya. Jangan sampai cinta itu datang terlambat.... π, sebelum dia pergi, dan penyesalan menghantui....
πΎπΎπΎπΎπ
Oh iya.. karena komentar kalian akhirnya author menyadari kesalahan dalam pembuatan nama....
aturannya Ahmad author buat jadi Bima... Kesalahannya itu karena author lihat episode yang author buat di memo hp...
author minta maaf atas ketidak nyamanannya... author akan memperbaiki semua episode, karena sudah banyak yang menganggap nama guru Rani Ahmad. maka di episode sebelumnya akan author ganti dari Bima menjadi Ahmad.
__ADS_1
sekali lagi maaf, dan terimakasih untuk koreksinya... oh iya .. author senang kalau ada yang koreksi novel ini... terimakasih banyak yaπ