Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Pria Pemain Piano - Episode 7


__ADS_3

"Mau lihat-lihat dulu gak?" Tawar Kelvin kepadaku yang masih bengong karena tak lagi melihat Nathan di situ.


Aku hanya mengangguk setuju dan berjalan berlawanan arah dari Kelvin. Kalau Kelvin berjalan ke arah kanan, aku berjalan ke arah kiri. Lampu yang remang-remang membuat penglihatan kami agak sedikit terhambat, tapi itu tak menjadi penghalang bagi kami untuk mencari tau lebih jauh.


"Sebenarnya apa sih yang mau kamu cari ke sini Sa? Nathan? Emang bisa di cari di sela-sela barang gitu?" Kelvin baru menyadari kebodohannya yang berusaha mencari Nathan, sedangkan dirinya tak bisa melihat orang yang sudah mati.


"Entahlah Vin, mana tau ada petunjuk di sini, soalnya seingat aku, ruangan musik itu udah kayak rumah kedua bagi Nathan gak sih? Dia lebih sering di sini ketimbang di kelas. Bahkan aku pernah dengan isu kalau dia sering ketiduran di sini. Mana tau, ada barang-barangnga yang tinggalkan?" Jawabku yang mungkin sedikit tak masuk di akal.


"Ya ampun Sa, dia cuman sering main ke sini, bukan berarti dia ninggalin barangnya di sini, lagian itu sudah dua tahun yang lalu, kalau pun ada barangnya yang tertinggal di sini pastinya sudah di buang." Kali ini jawaban Kelvin lebih masuk akal dari pada jawabanku.


Hanya saja perasaanku berkata lain, aku yakin pasti akan menemukan sesuatu di sini. Entah itu berupa barang atau penglihatan baru.


Karena sedikit pencahayaan aku memilih menggunakan senter di hp ku, dan syukurlah ini sedikit membantu.


"Aduh...," tanpa aku sadari kaki ku terkena paku yang menonjol dari meja yang di letakkan tepat di sudut ruangan.


"Kenapa Sa?" Kelvin berjalan ke arahku, dan dia mendapati tumitku yang terluka cukup panjang dan sukses mengeluarkan darah, walau darah yang keluar hanya sedikit, tapi rasa ngilunya cukup mampu membuatku meringis kesakitan.


"Kan udah aku bilang gak ada apa-apa di sini, mending keluar aja, di sini gudang, banyak benda tajam yang gak tau ada dimana," Kelvin berceloteh ria dan aku hanya menyimak tanpa mau meng-iyakan.


Kelvin berlebihan banget sih, cuman luka sedikit hebohnya udah kayak patah kaki aja. Lagian bukan aku namanya kalau mundur sebelum menuntaskan hasrat keingin tahuanku. Rasa kepo lebih membuncah sekarang dari rasa sakit itu sendiri.


"Eh, Mau ngapain?" kataku saat melihat Kslvin yang jongkok di depanku, dia meraih kakiku namun ku tepis segera dengan tanganku.


"Di tutupin dulu lukanya," entah dari mana ada sapu tangan ada di saku Kelvin, dia balik menepis tanganku dan meraih paksa kakiku.


"Gak usah lebay deh Vin, cuma luka kecil kok," Aku berusaha menolak, namun Kelvin sudah selesai membalut kaki ku dengan sapu tangannya.


Ketika dia sudah separuh berdiri, tiba-tiba saja dia berhenti, matanya langsung tertuju ke bawah meja tersebut. Entah apa yang dia lihat, dan aku lihat dia mencoba mengambil sesuatu yang berada jauh di ujung bawah meja.


"Ada apa Vin?" tanyaku kepada Kelvin yang masih berusaha mengambik benda yang terpojok itu.


"Kayaknya buku deh," jawabnya singkat.


Tak beberapa lama, Kelvin akhirnya mendapatkan buku itu, yang kini sudah berada tepat di tangan Kelvin, agak kotor di tutupi banyak debu dan jaring laba-laba.

__ADS_1


Sampulnya berwarna biru dongker dan polos, tak ada nama di sampulnya, saat aku ingin menyentuh buku itu juga tiba-tiba saja kepala ku kembali pusing. Dan sekilas ada sesuatu yang melintas di kepalaku, gambar seorang anak laki-laki sedang asik menulis di sebuah perpustakaan kah itu? Banyak buku di sana, namun di situ hanya ada anak laki-laki itu saja. Dia menulis dan sekilas aku lihat dia menangis?


"Sa?" Kelvin memperhatikan aku yang memegang kepala menahan sakit. Tidak, bukan sakit, lebih ke rasa denyut-denyut di bagian depan kepalaku. Pandanganku pun sesaat menjadi pudar, namun tak beberapa lama rasa sakit itu menghilang bersamaan dengan hilangnya bayangan yang terlintas di kepalaku.


Tanpa meminta izin dengan Kelvin, aku langsung mengambil buku itu dari tangannya. Hari ini sampai di sini dulu, sepertinya buku ini adalah petunjuk selanjutnya.


"Aku yang bawa buku ini Vin, sekarang kita pulang aja ya, sebelum sekolah semakin ramai," Kelvin hanya menganggukkan kepala saja. Sepertinya kali ini dia tak mau banyak bicara, apalagi saat melihatku yang hampir pingsan seperti tadi.


🐾🐾🐾🐾🐾


"Langsung istirahat, untuk jadwal ngajar lesnya tunda dulu aja. Pikirkan kesehatanmu dulu," baru juga sampai di depan rumah, Kelvin kembali dengan tingkah cerewetnya.


"Aku sehat kok Vin, gak lagi sakit kok,"


"Emang aku percaya sama omonganmu? Tadi jelas muka mu udah pucat gitu, tu kaki juga masih sakit, jangan di paksain Sa, kalau kamu ngotot kerja hari ini aku kaduon tante aja, biar kamu di kasih obat banyak-banyak," wah kali ini Kelvin mulai berani mengancamku hanya karena sudah semakin dekst dengan keluargaku.


Teman yang satu ini makin dekat malah makin melunjak.


"Iya deh iya, ish...," aku berlalu masuk ke rumah, begitu juga dengan Kelvin yang pergi menggunakan sepeda motornya.


Buku itu terlihat cukup tebal, entah apa isinya, entah itu buku tulis atau buku bacaan. Sebentar lagi aku akan tau. Halaman pertama terbuka, di sana aku dapatkan petunjuk siapa pemilik buku ini, tertulis di sana NATHAN....


Aku menemukannya! Ini punya Nathan, berarti laki-laki yang ku lihat tadi memang benar Nathan.


Halaman kedua sekarang juga terbuka. Ku temukan di sana tulisan yang cukup rapi untuk seukuran seorang laki-laki, tulisannya terbuat dengan tinta warna biru, sesuai dengan sampulnya.


"28 april 2016? Wah, udah cukup lama dong bukunya,"


Sepertinya sebuah diary. Aku tersenyum miring mengingat ini buku seorang laki-laki. Ternyata ada juga ya laki-laki punya buku harian. Setau ku, sewaktu sekolah dulu, teman-temanku berfikir bahwa buku harian itu cuma pantas untuk anak cewek, anak cowok tak cocok memiliki buku harian. Katanya terkesan lebay. Padahal menurutku adanya buku harian bukanlah terlihat lebay, dia hanya seperti ingin mengabadikan apa yang dia lalui hari itu. Hanya tak ingin melupakan kejadian penting yang telah berlalu. Buku harian adalah salah satu sarana paling pas untuk bercerita sekaligus menyimpan kenangan.


Tak mau bertele-tele terlalu lama, aku mulai saja membaca buku yang terkesan rahasia itu. Tapi bukankah dia sudah mati?, mungkin tak masalah jika aku membacanya.


°°°°


Hari ini mereka bertengkar lagi, dan lagi-lagi karena masalah siapa yang salah? Aku takut setiap kali mendengar ibu berteriak kepada ayah dan ayah yang terus menyangkal pernah berbuat kesalahan. Aku muak, andai aku bisa seperti Naell... Dia seolah tak mau tau dan keluar rumah begitu saja. Sifatnya yang tidak mau peduli dengan urusan keluarga itu membuat ku semakin membencinya. Tapi kenapa orang tua ku lebih menyayanginya dan membanggakannya? Aku benci dengan wajahku sendiri, sama bencinya dengab Neall...

__ADS_1


°°°°


Aku mengerutkan dahi bingung. Iya seingatku pernah melihat orang tua Nathan yang bertengkar, dan aku juga melihat Nathan di situ, tapi ...... Neall? Siapa dia?


Ada anggota baru lagi dalam permasalahan ini, Si Nathan aja belum ketemu dari kemarin, lah ini malah ada si Neall, apa Neall ini masih hidup atau udah mati juga?


Ini masalahnya kalau selama sekolah aku tak punya teman, semuanya tak tau, bagaimana cara aku mencari tahu tentang Neall?


Aku menggaruk kepalaku padahal tidak gatal.


TING...


Notifikasi hp, sepertinya ada pesan baru dan itu dari Kelvin.


'Sa, kamu di rumah aja kan?' - Kelvin.


'Iya, ngapa Vin?' - Risa


'Enggak mastiin aja' - Kelvin.


Entah kenapa temanku yang satu ini mulai membuat risih, aku tak suka jika ada orang yang banyak tanya dan mengatur-atur ku seperti ini.


Eh tapi tunggu dulu, bukankah Kelvin banyak tau tentang Nathan? Mungkin dia juga tau alamat Nathan. Dengan begini aku bisa cari tahu langsung ke rumahnya.


'Oh ya Vin, kamu tau rumah Nathan?' - Risa


'Tiba-tia nanyain rumah Nathan? Mau ngapain?' - Kelvin


'Kasih tau kalau tau Vin, aku nanya minta jawaban bukan minta pertanyaan lagi,' - Risa


Aku mulai kesal di buatnya, ada apa denan Kelvin belakangan ini? Dia lebih sering ikut campur belakangan ini. Dia seharusnya tau batasan.


'Iya, nanti aku kirim alamatnya,' - Kelvin


Oke kali ini dia mau bekerja sama dengan baik. Aku harap kamu tidak ikut campur terlalu jauh tentang aku Vin. Aku tak suka itu.

__ADS_1


__ADS_2