Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
38


__ADS_3

Risa tak bisa menahan keterkejutannya, dia menatap tajam ke arah mata adiknya Rani. Seakan-akan dia siap melahap adiknya itu hidup-hidup.


"Ran! Jangan bercanda dong dek! Ga mungkin dia di sini, dia udah pergi Ran, gak gini caranya kalau kamu mau bujuk kakak, kamu keterlaluan dek!," Risa berteriak.


Melihat reaksi Risa, Sintia segera menenangkan amarah Risa yang sudah bergejolak itu.


"Tenang kak, yang di bilang Rani itu gak salah, Kelvin memang di sini, dia masih ada di sini, sepertinya ada hal yang membuat arwahnya tak segera pulang," kata Sintia menjelaskan.


Mendengar itu Risa beralih menatap Sintia dengan tatapan butuh penjelasan lebih.


"Lalu apa Kelvin tidak bisa hidup lagi? Maksudku, arwahnya di kembalikan ke tubuhnya?" Pertanyaan Risa membuat semua kening berkerut.


Itu tidak masuk akal.


"Tidak mungkin Ris, seseorang yang sudah meninggalkan jasadnya tidak akan bisa kembali memasuki jasad itu. Di tambah lagi, tusukan itu berhasil mengenai bagian fatal sehingga membuat darah Kelvin banyak keluar. Dia kehabisan darah, kita tak bisa membawa dia kembali ke tubuhnya yang sudah seperti ini," jelas Ahmad hati-hati takut memancing emosi Risa kembali meluap.


"Lalu... apa... apa yang harus aku katakan sama orang tuanya Kelvin? Aku... aku..." Risa tak bisa melanjutkan kalimatnya karena tangis yang mendorong ingin keluar.


"Aku kenal orang tua bang Kelvin, dia bibiku, dan... Bibi juga memiliki indra ke enam sama dengan ku, jadi aku rasa, orang tua bang Kelvin bisa mengerti," jawab Sintia.


"Iya, mungkin keluarganya bisa mengerti, tapi bagaimana luka yang di rasakan orang tuanya? Aku merasa sangat bersalah Sin, kalau tidak karena aku, Kelvin tidak akan ke sini, Kalau tidak untuk melindungiku dia tidak akan menjadi korbannya Sin! Ini semua salah ku!," Air mata Risa sudah membasahi lengan bajunya, semakin dia hapus air matanya, semakin banyak pula air mata yang berjatuhan, dia terus menepuk dadanya berharap sesak itu segera berakhir.


Tapi yang namanya sakit kehilangan seseorang yang kita sayang tidak akan semudah itu menghilang, walau seberapa kuat dada itu dia pukul.


"Risa...," Risa tertegun mendengar suara yang sangat dia kenal memanggilnya.


Dia mengira itu hanya ilusinasinya saja, ilusinasi yang terdengar begitu nyata.


"Sa...," Suara itu terdengar lagi, beriringan dengan dua pasang tangan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, tangan dingin itu melingkar di leher Risa. Dan dagu si pemilik tangan itu bersandar di atas kepala Risa.


"Vin?" Risa melihat ke arah tangan pucat itu.

__ADS_1


"Akhirnya kamu sadar juga sama keberadaan aku," Kelvin melepaskan lingkaran tangannya.


Dan sekarang dia berada tepat di depan Risa, di batasi jasad Kelvin yang sudah tak di huni rohnya lagi.


"jangan nangis lagi ya, jangan nyalahin diri kamu sendiri, kalau kayak gini aku gak bisa pulang dengan tenang, gimana aku bisa pulang, kalau orang yang aku cintai aja masih nangis kayak gini," perkataan Kelvin sukses membuat Risa terkejut.


"Orang.. yang kamu cintai Vin? Maksudnya?" Tanya Risa bingung.


Namun tanpa Risa sadari jantungnya berdetak kencang setelah mendengar pernyataan Kelvin.


Kelvin tersenyum tipis lalu menepuk kepala Risa pelan.


"Bahkan sampai aku mati kamu juga gak peka Risa? hah.. sepertinya aku memang gak pernah bisa dapat kesempatan untuk jadi yang spesial di hati kamu ya Sa, aku kira aku bakalan bisa ngambil hati kamu tapi rupanya enggak," Kslvin memasang muka sok sedihnya.


"Vin, maaf... aku... gak tau kalau...," Risa terduduk dan kalimatnya tak jadi dilanjutkan karena isyarat diam dari Kelvin.


"Risa jangan minta maaf sama aku ya, Hmm... bohong kalau aku bilang aku tak berharap kamu membalas perasaan ku Sa, Tapi aku juga tipikal cowok yang gak suka di kasihanin. Jika aku gak bisa dapetin cintanya kamu, semoga di masa depan kamu memberikan hati kamu buat orang yang juga rela berkorban buat kamu kayak aku, Aku gak mungkin lagi perjuangin rasa aku, jadi jangan pernah berfikir buat balas perasaan aku ya. Kamu kadang orangnya suka gak enakan," Kelvin terhenti sejenak.


Tak lagi tanpa suara, tangisan itu kini mengeluarkan isakan, isakan yang membuat hati Kelvin semakin pilu.


TAP...


Untuk yang pertama kalinya Risa di peluk oleh seorang laki-laki, dan laki-laki itu adalah Kelvin. Pelukan dari Kelvin adalah untuk yang pertama dan terakhir kalinya buat Risa.


"Di bilangin jangan nangis, oh iya, ini bukan kesalahannya kamu Sa, aku nyelamatin kamu karena keinginanku sendiri, dan aku gak menyesal untuk itu, kamu gak perlu merasa bersalah ya? Dan aku juga yang akan menjelaskan semuanya sama mama, aku akan nemuin mama dulu sebelum pergi, Risa.... Aku sayang sama kamu, sayang banget," Suara Kelvin terdengar jelas di telinga Risa.


Risa membalas pelukan itu, namun tak beberapa lama, Kelvin menghilang meninggalkan pelukan kosong di tangan Risa. Risa menggigit bibirnya, dia memejamkan matanya berusaha menahan tangis, dia mengingat kembali kata-kata Kelvin.


jangan nangis! Kelvin menyuruhnya jangan nangis.


Rani saat menyadari tak lagi merasakan aura Kelvin beralih berjalan mendekati kakaknya dan memeluk Risa, mengusap punggung Risa pelan, berharap yang di peluk bisa semakin tenang.

__ADS_1


Kelvin, dia mungkin menemui ibunya, untuk mengucapkan perpisahan terakhir antara ibu dan anak.


"Untuk jasadnya Kelvin, biar aku yang urus, Sintia, Rudi, kamu antar mereka pulang, aku sudah hubungi orang tua Kelvin," jelas Ahmad kepada mereka berempat.


"Abang kenal keluarga bang Kelvin?" Tanya Rudi.


"Aku, Sintia dan Kelvin, kami itu saudara sepupu, punya nenek yang sama, orang tua kami bertiga itu kakak beradik," jelas Ahmad yang membuat semua terlihat jelas sekarang.


Tak ada lagi Kelvin, nama itu benar-benar tinggal sebuah nama, sebuah nama yang akan tetap di kenang oleh seorang gadis yang bernama Risa.


Risa bukan hanya tidak pernah peka dengan perasaan orang di sekitarnya tapi juga tidak pernah peka dengan perasaannya sendiri. Dia tidak pernah mengerti apa yang namanya cinta, seperti apa rasanya jatuh cinta, atau mungkin selama ini dia sudah mencintai Kelvin? Entahlah, tidak akan ada yang akan mengetahui itu.


Risa takkan pernah melupakan semua kenangannya dengan Kelvin. Karena bagi Risa Kenangannya dengan Kelvin bukanlah untuk di lupakan tapi untuk di kenang. Suatu hari, akan tiba dimana saat Risa mengenang kebersamaannya dengan Kelvin tidak lagi di iringi air mata, tapi di iringi senyum kerinduan.


๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ


"Kelvin, semoga kita bisa di pertemukan kembali, terimakasih untuk semuanya, aku juga menyayangimu," ucap Risa di atas batu nisan Kelvin.


Dia tak pernah membayangkan akan melihat nama Kelvin di atas batu nisan. Tangan Risa meremas erat nisan itu. Tangannya beralih menatap ponselnya, di sana ada foto seorang laki-laki yang tersenyum lebar, sangat lebar, senyuman manis yang hanya akan tinggal kenangan.



"sok ganteng kamu Vin," Risa tersenyum dan tertawa kecil menatap foto itu, mengingat bagaimana jahilnya Kelvin sewaktu dulu.


๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ


maaf semuanya๐Ÿ˜ข. Author gak bisa ngembaliin Kelvin, kadang harus ada yang berkorban untuk cintanya. Kematian Kelvin udah author rancang dari awal, sebenarnya ada yang pengen author sampaikan sama kalian dari setiap masalah yang ada di cerita ini. Kayak halnya dengan Kelvin, kalian bisa nyimpulin sendiri, cinta itu bisa membuat seseorang terlihat bodoh, atau mungkin cinta itu sebenarnya membuat seseorang sadar bahwa ada yang lebih harus dia jaga melebihi dirinya sendiri.


Mungkin sebagian orang mengira cinta seperti itu adalah 'bodoh', tapi sebenarnya itulah yang namanya tulus dan setia. Apakah yang Kelvin lakukan adalah sebuah pengorbanan? atau sebuah kebodohan? Obsesi? terserah bagaimana orang menyimpulkannya.


Intinya, semua orang harus bijak dalam mengontrol perasaan yang bernama cinta tersebut. Kamu boleh mencintai dia, tapi kamu juga harus bisa lebih mencintai dirimu sendiri. Gak lucu dong, kalau kamu udah berkorban begitu banyak buat dia, tapi ternyata dianya tak memiliki perasaan yang sama sepertimu.

__ADS_1


__ADS_2