
Rani berjalan ke arah dimana Kelvin dan yang lainnya berdiri. Dengan susah payah Rani bernafas, karena setiap dia menghirup udara yang tercium malah bau amis darah entah dari mana. Bukan hanya Rani, Risa dan Dimas pun merasakan hal yang sama.
Tetapi kenapa yang lainnya tak merasakan hal yang sama juga? Kenapa? Rani tak tau, dan tak ada waktu untuk mencari tau.
"sekarang harus gimana?" Tanya Dimas kepada Kelvin.
"Cari mayatnya Tarjo, hanya itu," kata Kelvin singkat padat dan susah.
" Kemana mau di cari? Selama aku tinggal disini tidak ada yang mencurigakan," kata Dimas sambil menepuk kepalanya dengan telunjuk. Berusaha mengingat mana tau ada sesuatu yang dia lupakan.
"Kita periksa dulu, bahkan yang tak mencurigakan ternyata menyimpan sesuatu yang besar. Semua yang ada di sini harus di curigai,"kata Kelvin sambil memberikan isyarat kepada Rudi untuk menggantikan posisinya yang berdiri di depan pintu kamar Kintan yang di ikat dengan tali oleh Kelvin.
"kamu di sini Rud, biar aku yang bantu mencari Tarjo. Denis, Rudi dan Cika jika ada hal yang aneh langsung beri kode!," Kata Kelvin lagi sebelum dia kembali fokus menatap kedekatan kedua insan yang bernama Risa dan Dimas itu.
__ADS_1
"Ayo!," Risa pergi memencar sambil menggandeng Rani. Dia tak mau terpisah dari adiknya itu.
Sedangkan Kelvin dan Dimas memilih memencar, tak bagus jika mereka berjalan bersama. Yang ada nanti saling berdebat. Di tambah lagi, Kelvin yang sudah mulai cemburu dengan Dimas. Tidak baik jika dia bersama dengan orang itu.
Ruangan di sini tidak banyak. Hanya ada tiga kamar, Risa dan Rani memilih masuk ke kamar yang pernah di tempati Risa, sedangkan Dimas dan Kelvin? Mereka malah saling pandang saat Risa dan Rani sudah masuk kamar.
"Hmm, aku yang masuk?" Tanya Kelvin sambil menunjuk ke dirinya sendiri.
"Tidak usah, aku saja," Dimas menggeleng dan maju ingin membuka pintu.
Ayolah, di saat begini malah sibuk berebut untuk masuk ke dalam kamar itu. Rudi, Cika dan Denis yang melihat itu hanya menggelengkan kepala tak paham. Mereka dari tadi berlagak dewasa, bicara penuh wibawa. Tapi sekarang? Berebutan layaknya anak-anak yang ingin memilik mainan yang ada di depan mata. Luar biasa!.
"Masuk bareng aja ngapa sih? Jangan berdebat! Nanti kalau Kintan bangun gimana?" Denis ternyata sudah berada di belakang kedua pria itu.
__ADS_1
Mereka kembali adu tatap, saat mendengar perkataan Denis. Seperti ada rasa jijik satu sama lain dari mereka untuk bekerja sama.
"Kalian punya masalah?" Denis menelengkan kepalanya sedikit, menatap penuh tanya.
"Enggak, emang kita punya masalah apaan?" Tanya Dimas tak paham.
"Lalu kenapa kayak enggan gitu kerja sama? Aneh," jawab Denis sambil menepis tangannya.
"Iya juga ya," Kata Dimas. Padahal di dalam hatinya dia juga tak mengerti kenapa ada rasa tak suka dengan pria yang bernama Kelvin itu.
"Ya sudahlah, jangan memperlambat keadaan ayo masuk," Kelvin mendorong pintu kamar itu.
Dia masuk di susul oleh Dimas dari belakang, mereka masuk berdua seakan-akan tadi tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Denis yang di tinggalkan tanpa sepatah kata pun dari kedua abang-abang itu hanya menghela nafas kesal. Inilah kenapa dia malas melerai perdebatan dua orang itu. Ujung-ujungnya di tinggal tanpa ucapan terimakasih.
MUAK!