Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
22


__ADS_3

Suasana seketika menjadi sunyi. Tak ada yang ingin memulai percakapan. Sintia yang biasanya berbicara sibuk dengan dunianya sendiri. Entah apa yang di lakukan anak itu. Dia tiba-tiba menjadi diam setelah minum air pemberian dari Naell. Apa jangan-jangan Naell menaruh sesuatu di dalam air Sintia? Ah tidak mungkin.


Mungkin Naell emang kasar, tapi entah kenapa aku yakin dia tidak jahat.


"Dia kenapa? Dari tadi diam aja, katanya mau menjelaskan sesuatu," kata Naell sambil menekan layar smart phonenya itu.


"Hah... i dont know," jawabku yang juga tak tau mengapa anak ini menjadi begitu diam?


"Kak, pegang tangan aku," tiba-tiba Sintia berbicara padaku dan mengulurkan tangannya tepat di depan wajahku.


Aku hanya menurut tak mau banyak tanya. Gelagat anak ini sudah aneh dari tadi, semoga saja dia tidak kesurupan.


Pejamkan mata kakak, dan perlahan-lahan jangan fikirkan apapun, biar kakak bisa ikut sama aku," kata Sintia dan entah kenapa aku menurut begitu saja.


Sedangkan Naell hanya diam memperhatikan Sintia yang bertingkah seperti dukun.


Dan tiba-tiba.....


Tubuhku seperti di hisap sesuatu, di tarik begitu kuat hingga rasanya perutku begitu mual, pandanganku gelap, aku belum berani membuka mata sebelum mendengar perintah dari Sintia.

__ADS_1


"Kak, buka matanya," Sintia mengayunkan tanganku yang dia genggam.


"Apa ini!" Refleks tubuhku langsung mundur tepat di belakang Sintia, tanpa ku sadari kakiku seperti menginjak sesuatu yang keras tapi panjang.


Dengan hati-hati aku melirik ke bawah dan.....


"AKH....HM...." Teriakan ku terhenti seiringan dengan tangan Sintia yang membekap mulutku.


"Jangan teriak kak, volume yang terlalu besar itu bisa membuat konsentrasi ku kacau, bisa susah nanti kembali ke tubuh kita," Sintia lalu perlahan-lahan melepaskan tangannya dari mulutku.


"Jadi maksudmu hanya arwah kita yabg ke sini? Tapi kenapa aku bisa merasakan tangan itu? Seharusnya kan gak bisa tersentuh apapun?" Tanyaku tak paham.


"Ini adalah ruang makan kakaknya bang Naell," jawab sintia yang sudah tau apa yang sedang aku fikirkan.


"Apa maksudmu? Kenapa ruang makannya tersendiri? Dan kenapa ada tangan orang?" Tanya ku bingung dan sama sekali tak paham.


"Kakaknya menyukai daging manusia dan hewan mentah, dia tidak bisa makan sayur, seleranya sangat ekstrim, dan orang tua Naell hanya ibunya yang tau, sedangkan sang ayah tidak tau menahu. Karena itu, ibunya bang Naell harus mau menjadi pembunuh agar bisa memberi makan anak gadisnya yang kelainan itu," Sintia menjelaskan dengan santai. Membuatku ingin memukul kepalanya setidaknya sekali saja.


Dia menyampaikan berita mengerikan itu dengan ekspresi biasa saja, dan dia melihat tangan itu pun tidak sekaget aku.

__ADS_1


"Coba kakak lihat ke depan," Sintia menunjuk ke arah depan yang belum sempat aku perhatikan baik-baik yang aku lihat tadi hanya dinding yang penuh bercak darah, selebihnya belum sempat di tangkap oleh mataku.


"Haaa...ini gila... benar-benar gila!," kataku sambil meremas rok yang ku kenakan. Ini kali pertama aku melihat tubuh manusia tercincang di atas lantai secara langsung.


Jangan tanya bagaimana kondisiku, aku berusaha agar bisa menahan rasa mual dan takut, tapi instingku untuk muntah tak mau di undur, aku lepas kendali dan mu tah begitu saja.


Tapi aneh tak ada yang keluar dari mulutku, padahal aku yakin makanan yang ku makan tadi rasanya keluar melalui tenggorokan.


"Kakak muntah di rumah bang Naell tempat kita duduk tadi, di sini gak bakalan kelihatan," Sintia berbicara sambil menahan ketawa.


Mungkin sekarang dia membayangkan bagaimana wajah kesal Naell harus membersihkan lantai yang terkena noda dari makanan yang keluar dari perutku.


Ah... sepertinya nanti harus meminta maaf kepada Naell.


"Claudi.... kamu sudah kenyang kan?" ada suara seorang wanita yang terdengar begitu lembut.


Aku langsung menoleh ke arah suara itu, an terlihat di sana, seorang gadis kecil yang mengepang rambut hitam panjangnya sedang di suapi oleh seorang wanita yang ku tebak dia adalah ibu Naell... dan perempuan kecil itu adalah Claudi.


"Didi udah kenyang mam, didi mau tidur," jawab anak itu dengan suara manjanya. Ibunya langsung mengambil tissue yang ada di atas meja. Dia membersihkan mulut anaknya dan melepaskan serbet yang tergantung di leher anak itu.

__ADS_1


__ADS_2