Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Terbongkar 1


__ADS_3

"Pak, aku dekat dengan salah satu perempuan di sana," jawabku sekenanya tak mau menjawab lebih detail. Bagaimana nanti salah orang? Cuman buang tenaga menjelaskan semuanya.


Pak Bima seperti berfikir sebelum menjawab, matanya masih tertuju ke arah foto yang sekarang di tangannya. Dan tiba-tiba ujung foto itu di pegang dengan kasar. Alhasil foto itu menjadi kusut.


Karena takut rusak, Rani langsung menarik foto itu, kami belum menemukan Bima, tapi masa iya fotonya udah rusak duluan?


"Jangan gitu megangnya dong pak, ini punya orang, hati-hati," kening Rani berkerut tak suka.


Rani memang tipe orang yang seperti itu, paling tak suka kalau ada orang yang bertingkah tidak bertanggung jawab. Lihatlah, mulutnya manyun menahan kesal.


"Maaf dek," bapak itu terlihat sedikit menyesal.


"Pak, bapak belum jawab pertanyaan saya, bapak kenal mereka yang ada di foto?" Tanyaku penasaran.


Dan lagi-lagi, dia kembali terdiam, sesusah itukah menjawab IYA atau TIDAK?


"PAK!," Rani membentak juga akhirnya. Aku tak tau, kenapa belakangan ini emosi adikku itu tidak stabil. Mungkinkah dia sedang masa-masa bulanan? Entahlah, aku tak tau.

__ADS_1


"Eh iya?" Ayolah! Kenapa mengeluarkan kalimat tanda tanya lagi? Bapak ini cukup menguras emosi.


Terlalu bertele-tele.


"Haah... iya, saya kenal mereka, mereka teman bapak waktu masa kecil dulu, kenapa tiba-tiba mencari saya?" Jawaban dan pertanyaan di lontarkan sekaligus.


Aku dan Rani bernafas lega setelah sekian lama terasa sesak menahan rasa penasaran. Hari juga semakin larut, tapi kami baru saja menemukan kunci jawabannya tinggal menunggu pintunya terbuka.


"Bapak taukan kalau mereka berdua udah meninggal?" tanya ku yang sama sekali tak hati-hati.


Membuat muka pak Bima terlihat sendu, mungkin karena teringat masalalu yang tak menyenangkan yang belum sempat aku bongkar.


Sekarang mungkin aku gak tau, tapi beberapa saat lagi semua hal yang bikin mumet ini akan terjawab.


"Iya saya tau, kejadiannya sudah cukup lama, dan saya gak bisa lakukan apa pun waktu itu, saya.... saya memang bodoh, seharusnya saya jujur sama Sendi, seharusnya saya gak cuman diam, seharusnya saya membantu Liya. Dan gak membiarkan dia terus menderita. Ini semua karena saya!," pak Bima terus berbicara dengan pemborosan kalimat.


Bicaranya di sertai dengan isakan kecil yang berusaha dia tahan. Aku tak paham, apalagi Rani. Tapi melihat betapa tersiksanya pak Bima setelah sekian lama. Membuat aku yakin masalah mereka benar-benar tak pernah di selesaikan bahkan sampai kedua gadis itu meninggal.

__ADS_1


"Bapak pengen ngejelasin semuanya ke Sendi dan Liya?," tanya ku lagi.


Kali ini aku yang banyak bicara, sedangkan Rani hanya diam sambil mencerna apa yang sebenarnya yang terjadi. Ah, aku tak pernah punya waktu untuk menceritakan tentang masalalu Liya yang telah ku baca. Mungkin itu akibatnya Rani agak sedikit bingung, karena tak tau inti semuanya ini ada dimana.


"Saya sangat ingin dek, tapi itu gak mungkin, Sendi udah pergi, dan Liya juga harus menjadi korban," jelas bapak itu.


"Bapak bilang Liya korban? Apa itu berarti Liya meninggal karena di bunuh? Dan kalau ada korban berarti ada pelaku, siapa pelakunya?" Ternyata benar, Rani sedari tadi sedang mencerna informasi yang dia dapat. Sekarang giliran Rani yang bertanya.


Namun sayang pertanyaan Rani sepertinya menyinggung perasaan pak Bima, terlihat dari bola matanya yang membesar tak suka.


"Ee... aku salah bicara ya kak?" Tanya Rani padaku sambil berbisik.


Aku cuman bisa tersenyum canggung, tak tau apakah harus menggeleng atau mengangguk.


"Pak, kami bisa bantu bapak buat ngejelasin semuanya ke Sendi," aku melewatkan muka sok imut Rani, dan mulai kembali berbicara dengan pak Bima.


"Kalian bantu saya berbicara dengan Sendi? Mustahil" Oke, siapa pun yang mendengar kata-kata kami tadi pasti juga akan mengatakan itu.

__ADS_1


Tapi percayalah, itu bukanlah hal yang mustahil bagi kami. Kami akan merapikan semua yang sudah kacau sedari awal.


__ADS_2