Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
43


__ADS_3

Seperti yang di rencanakan, Risa menunggu Cika di rumah Nathan. Posisi Risa kali ini tepat di luar pagar rumah Nathan bersama dengan Sintia.


"Masuk yuk kak...." Rengek Sintia, karena sudah hampir setengah jam mereka berdiri di situ.


Sedangakn Sintia yakin kalai Naell sudah ada di dalam rumah, lalu apa lagi yang di tunggu Risa?.


"Ya udah, kamu aja yang duluan masuk Sin, kakak lagi nungu orang nih," jawab Disa sambil melempar senyum tipis seperti biasanya.


"Yaaah... Sintia gak tega juga ninggalin kakak sendirian di luar, emangnya siapa sih yang kakak tunggu?" Tanya Sintia ingin tau.


"Teman aku Sin," Jawab Risa singkat.


"Teman?" Sintia sepertinya tak puas dengan jawaban singkat dari Risa.


Risa menganggukkan kepalanya pelan, sekilas dia melirik jam tangannya menghitung sudah berapa lama dia menunggu di sini.


"Udah lama loh kak, coba telpon aja teman kakak itu, jadi atau enggak dia ke sininya," Saran Sintia kepada Risa yang kelihatannya sudah hampir kesal.


Risa mengangguk setuju lalu merogoh tas kecil yang bersandar di bahu sebelah kirinya, lalu kemudian mengambil handphone dan menghubungi Cika yang entag da dimana sekarang.


"Gak di angkat kak?" Tanya Sintia saat melihat kerutan di kening Risa lalu melepaskan kaitan handphone di telinganya.


"Iya nih Sin, Kenapa ya? Apa lupa? Padahal kemarin udah sepakat buat ketemu dia di sini," Kata Risa dengan sedikit kecewa.


"Emangnya temen kakak itu penting banget ya? Sampai-sampai nunda waktu kita," tanya Sintia yang masih dengan rasa penasarannya.


"Hmm... iya Sin, dia mengenal seseorang yang cukup berperan besar dalam benang kusut masalah ini," jelas Risa kepada Sintia yang hanya memanyunkan bibirnya pertanda kalau pikirannya belum mencapai tingkat kata mengerti.


"Gini loh Sin, gimana ya aku ngejelesinnya, pokoknya teman kakak ini, dia punya kenalan yang di tuduh sebagai pembunuh teman kakak yang namanya Linda sekaligus temannya Nathan juga," jelas Risa singkat saja.


Yang di jelasin langsung ber 'O' ria dengan kepala yang di anggukkan berkali-kali.


"Berarti udah paham dong ya?" Tanya Risa kali ini.

__ADS_1


"Enggak," Sintia menjawab dengan senyum lebar yang sukses membuat Risa melayangkan pukulan ringan ke bahu gadis itu.


"Sakit kak," Ringis Sintia mengelus pundaknya yang barusan di belai kuat oleh telapak tangan Risa.


"Kamunya sih nyebelin," Risa mengalihkan pandangannya kembali ke jalan.


Dia berharap kali ini melihat orang yang sedari tadi dia tunggu.


Dan iyap! Penantian Sintia dan Risa ternyata tak berbuah gagal. Akhirnya orang yang di tunggu muncul dengan mengendarai motor matic berwarna merah bergaris hitam itu.


"Maaf Sa, aku telat, tadi hampir lupa, untung lihat panggilan gak terjawab kamunya, langsung deh aku ke sini," tutur Cika dengan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


"Kan, benar tebakan ku kak, pasti lupa," jawab Sintia dengan sedikit bangga.


"Gitu aja bangga," lagi-lagi Risa memukul bahu Sintia, cuman kali ini tidak sekeras tadi.


"Kakak kayaknya ada dendam deh sama aku, iyakan?" celoteh Sintia kepada Risa.


Cika yang di ajak hanya mengangguk dan menuruti Risa yang berjalan mendekati rumah Nathan.


Sintia yang di kacangi mendengus kesal dengan berulang kali menghentakkan kakinya pertanda dia masih marah. Risa yang melihat itu berusaha menahan tawanya agar tidak lepas. Setidaknya kali ini dia bisa sedikit menghibur dirinya dengan bantuan Sintia. Entah nanti kalau dia sendiri, apa bisa tertawa seperti sekarang ini?


"Assalamualaikum?" Risa mengetuk pintu dari luar, berharap orang yang di dalam membukakan pintu.


"Iya sebentar," Bukannya menjawab Salam, Naell malah mengucapkan 'Iya', sepertinya dia lupa bagaimana caranya menjawab salam yang benar.


"Udah datang? Ya udah masuk aja dulu," Kata Naell dengan kebiasaannya, nada datar dan tatapan tak bersahabat.


Tapi sepertinya Sintia dan Risa sudah terbiasa dengan tingkah Naell, sehingga tak ada lagi perasaan takut atau terintimidasi seperti kali peetama bertemu dengan orang bernama Naell itu. Berbeda dengan Cika, yang masih terpaku di tempat dia berdiri, sedangkan dua gadis yang lain sudah melenggang masuk.


"Gak masuk Cik?" Tanya Risa heran.


"Ee... oh... iya Sa, tunggu," jawab Cika setelah lamunannya pecah oleh Risa.

__ADS_1


"Kok tadi bengong Cik?" Tanya Risa kepada Cika yang sekarang berada di sebelah kirinya. Sedangkan Sintia di sebelah kanannya Risa.


"Aku kayak lihat Nathan tadi, eh... ternyata dia bukan Nathan, melainkan Naell,"Jawab Cika kemudian.


"Loh, emangnha Cika gak tau kalau Nathan punya kembaran? Bukankah kemarin Cika bilang kalian dulu tetanggaan? harusnyakan tau kalau dia punya saudara kembar," Risa menyampaikan argumennya.


"Tau dong Sa, Cuman bedanya, Naell gak pernah sekasar itu tadi, yabg biasanya kasr kayak gitu tuh Nathan, kasaenya juga pas dia lagi sedih gitu. Nathan kalau lagi sedih itu dia pasti lebih emosional, di ganggu sedikit udah meledak itu anak, Tapi Naell, setau ku gak kayak gini, atau.... apa itu karena dia kehilangan Nathan? Makanya temperamennya berubah?" Tanya Cika yang gak tau di lontarkan kepada siapa.


"Oo... gitu toh, berarti kamu juga kenal sama kakak perempuannya dong?" Tanya Risa lagi.


"Hmm.. tau, tapi sih, kalau sama kakak mereka itu, ketemunya aku sama kakak it bisa di hitung, mungkin cuman empat kali? Soalnya dia jarang keluar rumah, jadi aku gak terlalu kenal dia," Jawab Cika.


Yang di balas anggukan dari Risa dan 'O' Ria dari Sintia.


"Kalian duduk dulu," kata Naell tiba-tiba.


"Kali ini david kah?" Tanya Risa saat menyadari tatapam seram itu tak terlihat lagi dari tubuh pria itu.


"Benar kamu Sa, kok tau?" Tanya david.


"Itu gak penting, yang penting sekarang, jadikan kita kembali ke masalalu?" Tanya Risa.


"Oke, lebih cepat kebih baik," jawab David kemudian.


Saat mau menganggukkan kepalanya tanda setuju, Sintia malah di alihkan dengan rasa ragu, ada yang aneh dengan firasatnya, dia lalu menatap Cika, terlihat dimata Cika sebuah amarah yang sedang di pendam.


"Cuka marah? Tapi sama siapa,?"


🐾🐾🐾🐾


Hayo.... Cikanya marah sama siapa?


Oh iya, sebelumnya author mau minta maaf, kemarin gak up soalnya ada kerja yang harus segera di selesaikan, kemarin author gak tidur, dan sekarang udah ada kesempatan tidur. Kira-kira sekarang sudah jam tiga pagi, author pengen usahain tetap up. Gak mau buat kalian kecewa terus.

__ADS_1


__ADS_2