
Risa duduk di samping Rudi, sambil mengubyah nasi yang masuk ke mulutnya lengkap dengan sayur dalam sekali suap.
"Mau ikan gak?" Tawar Rudi, sambil mengangkat ikan panggang yang tadi di buat mamanya ke piring Risa.
PLAK...
Tanpa memberi aba-aba, tangan risa duluan mendarat di tangan Rudi sebelum ikan sempurna masuk ke piring Risa.
"Gak giti bercandanya Rud! Kamukan tau sendiri, aku gak suka ikan," kata Risa sambil mendorong tangan adiknya itu agar menjauh dari piringnya.
"Kak ikan itu enak loh, seriusan," jawab Rudi sambil memakan daging ikan yang bagian ekor.
"Bodoh amat!," Risa mencibir adik laki-lakinya itu.
Risa tak seperti ini dulu, Risa menyukai ikan, hanya saja suatu hari dia tak sengaja menelan tulang ikan dan selama seharian tulang itu menyangkut di tenggorokannya. Dia benar-benar tersiksa hanya karena satu buah tulang. Semenjak itu, seenak apapun ikan yang di hidangkan di depannya takkan pernah dia sentuh, tanpa terkecuali.
Mama dan ayah yang melihat hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anak mereka yang sudah besar ini masih saja seperti anak-anak. Berbeda dengan si bungsu yang makan dengan damai tanpa mengganggu dan tanpa gangguan. Benar-benar tertib, berbeda dengan kedua kakaknya itu.
Setelah selesai makan, Risa membantu mamanya mencuci piring dan Rani yang membersihkan meja siap makan, berbeda dengan Rudi yang kembalu fokus dengan HPnya.
Anak itu tak pernah lepas dari handphone. Matanya bergerak lincah di atas layar hpnya beriringan dengan mata yang bergerak dengan gesit menatap setiap inci layar handphone.
"Entar mata kamu tu copot, segitu banget sama hp," sempat-sempatnya Risa mengomeli adiknya walau sedang mencuci piring. Sedangkan Rani memilih diam, bukan tak mau ikut campur, hanya saja dia sibuk menatap gadis bergaun hitam yang selalu mengekori kakaknya ini. Bahkan saat mencuci piring pun hantu ini tak mau tinggal, rela berdiri menatap piring kotor itu tersentuh sabun dan di siram air.
"Bodoh amat!," Kini balasan Rudi yang menjawab dengan kalimat itu.
__ADS_1
Sepertinya kalimat 'bodoh amat' akan menjadi kalimat favorit Risa dan Rudi. Sedangkan Rani sepertinya hal yang menjadi favoritnya sekarang adalah 'diam menatap hantu bergaun hitam'.
"Ran, jangan di tatap mulu entar jatuh cinta," kata Risa yang menyadari apa yang di lakukan adiknya sedari tadi.
"Amit-amit jatuh cinta sama hantu kak," kata Rani sambil menggidikkan bahunya.
"Kamu kira aku mau sama kamu gitu, sok-sokan jijik," ternyata hantu itu tak mau diam jika di bicarakan.
"Ih... ngapain lo ngintilin kakak gue sampai ke rumah? Hantu Penguntit ya?" Tanya Rani sambil mengacungkan telunjuknya ke arah muka hantu itu.
Penbawaan Rani mulai santai, karena dia lihat hantu ini banyk seperti hantu yang dia temukan di jalan pada umum. Mereka tak mau menggaduh, hanya menyapa dan tersenyum, seperti layaknya warga biasa.
"Enak aja bilang aku penguntit, kayak gak ada kerjaan aja," jawab hantu itu tak kalah santainya.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Risa merasa heran.
"Ini baru pertama aku melihatnya," jawab Rani.
"Tapi ini sudah kali ke sekiannya aku melihatmu," jawab hantu itu lagi.
"Maksudmu sudah sering melihat Rani?" Tanya Risa.
"Ya, dia sering lewat di depan taman, tentu saja aku melihatnya," kali ini Risa dan Rani hanya mengangguk tanpa menjawab.
Saat beberaoa waktu terasa sunyi tanpa obrolan di dapur, Rani pun akhirnya berceloteh duluan.
__ADS_1
"Oh iya, ngapain lo ngikutin kakak gue? Rani baru ingat tujuan awalnya menanyai hantu itu.
"Kakak ada minta tolong sama dia, dan Rani belum saatnya kamu tau apa itu yang kakak minta tolongkan," Risa mengunci jawabannya agar Rani tak melanjutkan pertanyaannya. Membuat Rani memutar bola mata kesal.
Lagi! Kakaknya main rahasiaan, Rahasiaan yang pastinya berhubungan dengan hantu.
"Ya udah, kakak mau ke dalam kamar dulu, kamu juga cepat tidur, besok sekolah," Risa beranjak dari depan bak cuci piring menuju kamarnya. Rani pun memilih diam, tak mau ikut campur. Melihat kompas yang dia letakkan di sakunya tak berputar, berarti kali ini tak ada hantu jahat di sekitar kakaknya. Selama kakaknya baik-baik saja maka itu bukan masalah besar.
🐾🐾🐾🐾🐾
Seperti kegiatan Risa pada hari biasanya, bermain hp sampai jam mengajarnya tiba. Entah kenapa pagi ini terasa begitu tentram, serasa aneh dengan hari biasanya yang penuh gangguan.
"Hah... andaikan bisa kayak gini setiap hari," Risa bermain game tanpa menghiraukan matahari yang mulai meninggi.
BRAK....
Risa yang tangannya asik bermain di atas layar hp langsung terhenti seketika mendengar benda jatuh. Dia melirik ke arah benda jatuh itu, ada buku novelnya yang palinh tebal bergeletak di atas lantai. Risa mendengus kesal, sepertinya sedang ada hantu yang sedang caper (cari perhatian) padanya.
Risa kembali menatap layar hpnya berniat ingin kembali melanjutkan gamenya, namun, untuk yang kedua kalinya suara itu kembali menggaduh, kali ini yang terjatuh adalah sebuah foto yang terpajang di atas lemarinya.
"Apaan lagi sih?" Risa menggerutu kesal, saat kepalanya mendongak mencari siapa biang keroknya, dan ternyata itu gadis yang tak asing. Wajahnya terlihat sendu.
Untuk lagi dan lagi, air matanya berlinang di dalam pelupuk mata Risa.
"Linda?" Risa berdiri dari kasurnya. Wajah sahabatnya itu terlihat pucat, Risa tak tahan lagi. Dia ingin memeluk sahabatnya itu, tapi saat dia meraih tangan Linda, yang tergapai hanyalah angin kosong.....
__ADS_1