
Sudah waktunya Rani berangkat,dengan yakin Rani menemui nenek yang sudah berkumpul di ruang keluarga bersama ayah dan ibunya.
"Ran kamu yakin bisa pergi sendiri? Ibu gak mau ngizinin kamu," mata ibu mulai berkaca-kaca.
Sepertinya dia belum siap melepas Rani pergi mwncari kakaknya. Dia tak sanggup lagi melepaskan satu lagi anaknya ke dalam hutan. Dia takut ketiga anaknya tak bisa pulang. Ibu benar-benar takut.
"Nak, percaya sama amak. Amak akan melindungi Rani selama Rani di sana. Ambil ini Ran, jangan pernah lepaskan kalung ini dari lehermu. Ingat, cuman dengan cara ini kita bisa saling terhubung." Pesan nenek sambil menyodorkan sebuah kalung kepada Rani.
Rani mengangguk dan mengambil kalung itu. Ibu yang melihat itu membantu Rani memasang kalungnya.
"Ran, tolong jaga keselamatan kamu, maafin mama gak bisa nemenin kamu," tangis ibu pecah dan dia memeluk putrinya itu dengan erat.
Seperti akan melepas anaknya pergi perang, ibu maupun ayah tak tau apakah nanti anak-anak mereka akan pulang dengan selamat. Seandainya bisa orang lain, mungkin ayah akan menawarkan dirinya sendiri.
Ayah saat ini benar-benar merasa tak berguna. Tapi dia bisa apa? Kalau nenek sudah mengambil keputusan mereka harus setuju. Lagian nenek Intan tak pernah gagal dala hal apapun yang dia lakukan. Orang tua Rani percaya, Nenek pasti akan melindungi putri mereka.
__ADS_1
"Ma, yah, Rani pergi dulu," setelah berpamitan dengan orang tuanya.
Rani dengan yakin keluar dari rumah dengan di temani senter sebagai penerangnya. Baru juga lima langkah dia meninggalkan rumah nenek, badan Rani sudah menggigil ketakutan.
Rani, jangan takut. Ingat Rani punya Allah.
Rani terus mengulang kata-katanya itu. Dia terus berjalan. Mengikuti kemana arah kompas menuntunnya.
🐾🐾🐾🐾🐾🐾
Sudah cukup jauh Rani berjalan, kakinya terasa sangat pegal, semakin jauh Rani ke dalam semakin gelap hutan yang dia tempuh. Rani tak pernah berniat untuk melihat kebelakang walau selama perjalanan ada saja suara yang memanggilnya.
"Enak," Rani berhenti melangkah saat mendapati ketiga bocah sedang duduk membelakanginya, bocah itu terus bilang 'enak'. Sepertinya mereka sedang makan.
Rani tersenyum senang, akhirnya dia bertemu dengan seseorang di sini. Tapi kalau begitu berarti dia belum sampai ke hutan gaib jika masih bertemu manusia.
__ADS_1
Dengan semangat Rani menghampiri ke tiga bocah itu dan meletakkan Kompasnya ke dalam saku. Tanpa melihat kompas itu terlebih dahulu, padahal kompas itu sudah berputar-putar memberi tanda bahwa dia dalam situasi bahaya.
"Hei, kenapa kalian makan di tengah hutan kayak gini? kalian maka apaan sih? Rani menundukkan kepalanya sedikit agar bisa seimbang dengan anak-anak yang duduk membelakanginya.
Anak-anak yang tadinya asik tertawa dan menyantap makanannya terdiam saat mendengar suara Rani.
"Kok kalian diam sih?" Tanya Rani lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
Perlahan bocah yang berdiri di belakangnya membalikkan badan, menoleh untuk melihat ke arah Rani.
"Kami makan ini kak," kata bocah itu lirih, sambil menunjukkan seonggok daging mentah dengan mulutnya berlepotan darah.
Mata Rani membulat, dia langsung menutup mulutnya agar tak berteriak. perlahan Rani berjalan mundur.
"Kakak mau?" Kata salah satu anak paling ujung sambil menyodorkan tangan seekor monyet yang sudah lepas dari badan monyet itu.
__ADS_1
Sedangkan yang satu lagi, masih sibuk makan sambil terus mengoyak tubuh monyet yang sudah tak bernyawa. Sial ini mengerikan dan juga menjijikkan....
lari.....