
Aku melihat Sendi tersenyum tulus kali ini. Perlahan wajah yang tadi terlihat menakutkan, menunjukkan wujud aslinya. Pisau yang selalu menggantung di lehernya menghilang begitu saja. Dia terlihat cantik dengan wajah sempurna. Mungkin inilah salah satu alasan kenapa Bima mencintai Sendi. Wajah yang bersih itu terlihat sangat cantik, benar-benar cocok di kenal bunga desa. Dia menjulurkan tangan ke arah adiknya yang berdiri masih di belakang ku.
"Kamu mau pulang sama kakak?" Kata Sendi kepada Liya. Aku merasakan hawa dingin saat Liya melewati ku. Akankah kali ini pertemuanku dengan saudara sepupu ku akan berakhir sampai sini?
Baru juga tau kami saudaraan eh udah mau pisah aja. Tapi yah, urusan dan masalah mereka sudah selesai, bukankah lebih baik mereka pulang agar bisa beristirahat dengan tenang? Lihatlah wajah mereka terlihat ceria kali ini. Aku jadi sedih karena Bima tak bisa melihat kedua gadis yang dia sayangi pergi untuk selamanya.
"Bang, eh maksudnya pak, Sendi akan pergi sama Liya, Kak Sendi bilang dia sayang sama bapak, dan nyuruh bapak untuk segera cari pasangan hidup, lupakan dia dan cari seseorang yang bisa gantiin posisi dia," Rani berbisik pelan tak mau menggganggu suasana haru melihat Liya yang sudah menggenggam tangan Sendi.
Pak Bima hanya terdiam, namun beberapa saat dia tersenyum, seakan-akan memilih bahagia melihat orang yang dia sayangi akhirnya beristirahat dengan tenang.
"Kalian akan pergi sekarang?" tanyaku masih merasa tak ikhlas.
"Iya, jaga dirimu baik-baik Risa, dan Rani, jangan terus biarkan rasa takut menguasaimu, kamu punya Tuhan yang bisa di percaya, andalkan Dia dalam setiap urusanmu, kau terlalu pengecut belakangan ini," Sendi akhirnya bicara setelah sekian lama menghiraukan kami.
Aku dan Rani mengangguk sambil memberikan senyuman pada kedua arwah itu. Akhirnya satu masalah ku selesai, ini akhir dari masalah Liya. Yang perlu ku fikirkan selanjutnya hanya masalah Nathan.
"Risa, Rani, makasih udah mau bantuin aku, aku senang saat tau kalian bisa melihat ku, aku tak perlu minta bantuan orang lain, kalau saudaraku saja bisa di andalkan. Maaf kalau selama ini menyusahkan kalian," Kali ini Liya mengucapkan salam perpisahan.
Wah ternyaya hantu bisa juga mengucapkan salam perpisahan, menyenangkan melihat mereka tak perlu lagi sok-sokan seram. Sekarang mereka membelakangi kami. Mereka berjalan menjauhi kami, kedua gadis itu tak menua, dan pergi dengan wajah remaja mereka.
Selamat jalan buat kalian, Akhirnya mereka pulang.
__ADS_1
🐾🐾🐾🐾
Kami sudah pulang ke rumah nenek, besok kami akan kembali ke kota, namun sebelum itu ada beberapa hal yang harus di bicarakan dengan nenek. Ada perkataan Sendi waktu itu yang mengganjal di kepala ku, perkataan, yang membuatku kaget bukan main.
"Apa iya nenek punya ilmu hitam?" Yap, seperti biasa kalau masalah ingin tau Rani selalu duluan di depanku, baru saja mau bertanya, Rani sudah nyelonong duluan.
"hmm... kalian sudah mengetahui banyak hal dari saudara sepupu kalian itu ya?" Nenek duduk di depan kami dengan membawa dua gelas teh panas dan satu bungkus roti, yang kalau di makan dengan cara di celupin ke dalam teh pasti menambah kenikmatan dari roti tersebut.
"Iya nek, kok nenek gak cerita sih kalau kami punya saudara sepupu?" kataku sambil mengambil satu buah roti dan mencelupkannya ke dalam gelas berisi teh. Seperti yang aku sebutkan tadi.
"mama kalian yang larang, dia tidak mau kalian tau mengenai bibi kalian, karena katanyaitu hanyalah masalalu yang tak pantas untuk di kenang. Lagian kedua saudara sepupu kalian sudah tiada, tak ada yang bisa kami beritahukan pada kalian," Aku hanya mengangguk paham sedangkan Rani mendengarkan sambil mengikuti caraku memakan roti.
"terus bagaimana dengan pertanyaan Rani nek?" Rani ternyata masih menunggu jawaban dari pertanyaannya itu.
Aku bisa lihat betapa menyesalnya nenek, apalagi sampai ada yang meninggal di tangan nenek. Aku mengerti, sangat mengerti kesedihan yang nenek rasakan.
Hampir bersamaan kami memeluk nenek,menenangkan nenek.
"Nenek udah sungguh-sungguh bertaubat, semoga saja, mereka mau memaafkan nenek, nenek udah hebat karena berani keluar dari zona hitam itu," Aku mencium tangannya.
Berharap dia berhenti terus menyalahkan dirinya sendiri.
Setidaknya sekarang aku bisa mengambil sebuah kesimpulan, jangan pernah berani coba-coba melakukan hal buruk hanya karena suka, tertarik, atau sekedar untuk mencari kesenangan diri. Pikirkan matang-matang sebelum berani mengambil tindakan. Kita harus berfikir dewasa. Jangan usia saja yang bertambah dewasa sedangkan pola fikir masih dangkal. Ini pentingnya belajar agama, ini pentingnya hidup mengikuti aturan agama.
__ADS_1
🐾🐾🐾🐾
Ibu sudah menunggu kami di depan pintu rumah, ada ayah, Rudi dan Kelvin. Wah, hanya seminggu pergi, tapi pulangnya sudah di tunggu empat orang, seakan-akan kami pergi lama saja.
"Akhirnya si culun kita pulang," Kelvin mengusutkan rambut ku lagi dengan tangannya itu.
Dia selalu memperlakukan aku seperti adiknya saja.
"Siapa yang kamu bilang culun Vin?" Aku tak terima dong di bilang culun.
Walau gak gaul amat tapi aku juga gak pantas di bilang culun.
"Siapa lagi kalau bukan kamu Ris, bahkan Rani aja jauh lebih gaul dari kamu," kali ini dia menarik pipiku.
Dan keluarga ku hanya tertawa menyaksikan tingkah si Kelvin.
"Lama amat kak, Bang Kelvin kangen tuh, gak pernah pisah sama sahabatnya, di telpon tapi gak pernah di angkat," Kata Rudi sambil mengambil tas bawaan kami dan memasukkannya ke dalam rumah.
"Maaf, aku sibuk di kampung, jadi gak ada waktu megang hp," kataku sambil mengikuti Rudi ke dalam.
"Sibuk apa coba? Sampai gak bisa megang HP?"
"Rahasia dong,"
__ADS_1
Tentu saja rahasia, di jelasin pun gak bakalan percaya dianya.