
Kring... Kring... Kring...
Hp ku tiba-tiba berdering, membuatku kaget dan tanpa sengaja menusuk tanganku sendiri dengan jarum pentul, pasti itu dari Kelvin, dia udah sampai apa ya?
"Udah sampai Vin?" tanyaku sambil mengaktifkan speaker hp, karena sekarang masih memasang jilbab yang sedari tadi susah sekali rapinyan dan di tambah lagi ujung jari telunjukku perih mengeluarkan darah karena tertusuk jarum yang cukup tajam.
"Udah, dari tadi malahan, ngapaian aja sih Sa? Gak biasanya lama kayak gini, hitam aku nanti kalau kelamaan nunggu di bawah sinar matahari gini," gerutu Kelvin, yang langsung melengking ke telingaku karena speaker yang aktif.
"Iya, bentar, ini aku turun, lebay amat sih, langsung bikin hitam" jawabku sambil menyambar tas yang ada di atas kasur sambil mematikan sambungan telepon dengan Kelvin.
"Vin, katanya mau ke pasar, ngapain serapi itu?" Kataku setelah selesai mengunji pintu rumah dan meletakkan kuncinya di bawah pot nomor tiga dari pintu.
Tak ada orang di rumah, dan biasanya kami selalu meletakkan kunci di bawah pot itu, jika nanti ada yang pulang mereka bisa langsung masuk ke rumah.
"Gak boleh emangnya rapi-rapi ke pasar?" Jawab Kelvin sambil menyodorkan helm padaku.
Aku menghela nafas mengalah kepada anak satu ini, dia selalu bersifat seperti ini dengan Risa. Kalau ada orang lain pasti akan berubah seratus delapan puluh derajat.
"Boleh Vin, boleh, terserah Vin aja," aku sudah siap siaga menunggu anak ini melajukan motornya.
__ADS_1
Aman, Kelvin tak pernah ngebut kalau ada aku di belakangnya, anak ini sudah kapok beberapa bulan lalu. Waktu itu, kami hampir saja terlambat menghadiri reunian SMA. Karena terkejar waktu Kelvin melajukan motornya seperti dia saja yang punya jalan dan orang lain cuman ngontrak. Nah saat itu lah punggung Kelvin sudah menjadi samsak tinju oleh. Tak mau ketinggalan mulutku pun melengking keras menyuruh dia untuk menurunkan kecepatannya.
"Udah puas Sa mukulnya? Di kirain gak sakit apa?" Kata Kelvin waktu itu dengan muka menahan rasa nyeri di punggungnya.
"Salah sendiri, siapa suruh ngebut, lain kali kalau ngebut lagi, kepala mu ni yang bakalan jadi korban berikutnya," jawabku sambil mengarahkan kepalan tangan ke kepalanya.
Kalau mengingat waktu itu aku akan tersenyum sendiri di buatnya. Kelvin yang tak pernah peduli dengan omongan siapa pun tiba-tiba menuruti perkataanku bahkan sampai saat ini. Bukankah dia penurut?
"Udah sampai Sa," kata Kelvin seiringan dengan motor yang berhenti di sebuah halaman rumah salah satu murid ku.
"Makasih ya Vin,"
"Hmm," Kelvin mengangguk sembari mengambil helm dari tanganku.
"Nanti Sa juga tau, ya udah aku duluan ya, kalau udah pulang telpon aja ya," Kelvin berlalu dengan meninggalkan senyumannya kepadaku sebelum melaju.
"Wah...," aku berdecak kagum dengan rumah murid baru ku ini. Begitu besar dengan warna putih yang menambah elegan rumah itu, di kelilingi bunga dengan pot yang juga berwarna putih. Rumah itu tak bertingkat, tapi besar dan tak terlihat mewah namun sederhana dan mengundang ke kaguman di mata yang pertama kali menatapnya.
"Buk Risa?" Ke kaguman ku terganggu saat mendengar namaku di panggil. Terlihat seorang wanita yang kira-kira setua mama berdiri di depan pintu masuk. Benar-benar sederhana polesan bedak yang tak tebal dan baju kurung berwarna dongker.
__ADS_1
"Assalamualaikum buk, " aku maju ke depan pintu itu dan menyalami wanuta separuh baya itu dengan menyunggingkan senyuman yang wajib di gambar di muka.
"Waalaikumsalam, silahkan masuk buk," dia membalas dengan senyum manisnya juga.
DEG...
baru juga masuk, perasaanku sudah tak enak, apalagi saat melihat seorang gadis yang sepertinya seusia dengan Rudi menatapku penuh selidik.
'Apa yang di fikirkan anak itu' fikirku.
"Oh iya buk, dia Sintia, anak tertua saya, sedangkan Ferdi ada di kamarnya," jelas ibuk itu sambil menyebut nama anak didik baru ku.
Iya, kali ini muridku seorang anak laki-laki berumur 4 tahun, aku bertugas mengajarkan mereka pandai membaca dan menghitung. Iyap, aku guru les yang juga ikut mengajar anak-anak.
"Sin, kok gitu nengok ibuknya, yang sopan," tegur ibu itu saat melihat anaknya yang mempelototi ku.
"Eh maaf buk, kenalin saya Sintia, oh iya buk, temennya baik ya," kata anak itu sambil mengulurkan tangan ingin berjabatan padaku.
"Teman?" tanyaku sambil menyambut tangannya.
__ADS_1
"Iya, kakak yang pakai baju hitam," dia tersenyum dan aku terpaku.
Apa maksudnya si gadis bergaun hitam?