
Rani membuka pintu kamarnya sedikit. Dia menggerutu di dalam hati. Haruskan melihat raksasa besar itu lagi? Rani tidak mau, tapi bocah kecil yang tak menginjak tanah itu terus memperhatikannya. Tak berniat mengalihkan pandangan dari Rani walau sedetik saja.
Hantu ini menyusahkan.
TAAAP
Rani menghentakkan kakinya dengan keras, dia mulai muak di suruh-suruh oleh hantu kecil itu. Siapa dia berani memaksa Rani? Kakaknya aja tidak pernah memaksanya seperti ini.
"Aku gak mau keluar! Itu hanya menyusahkan ku saja!" Ucap Rani setelah menutup pintu kamarnya lagi. Karena Raksasa itu tak juga beranjak dari sana.
"Kau harus bertanggung jawab! Kehadiran dia hanya mengacau saja nantinya! Aku gak mau orang yang aku sayangi terganggu karena raksasa itu! Bagaimana pun caranya kau harus mengusirnya!" Setiap kata yang di keluarkan hantu itu, rasanya menusuk gendang telinga Rani.
Dia terus berteriak, padahal Rani tidak budeg. Tapi kalau dia terus berteriak seperti ini, Ranin takkan menjamin gendang telinganya akan baik baik saja. Mungkin setelah ini dia harus kedokter spesialis telinga, memeriksa apakah gendang telinganya pecah.
__ADS_1
"Aku gak tau gimana ngusirnya! Jangan palsa aku dong!" Rani memelas, suaranya terdengar sayu.
Dia juga ingin keluar dari kamar. Dia tidak tahan berdiam diri terlalu lama di dalam kamar. Karena Rani bukan Risa. Risa mungkin bisa berhari-hari menghabiskan waktu sendirian. Malah mungkin Risa akan dengan senang hati duduk sendirian di kamar sibuk dengan bukunya atau leptopnya. Karena pribadi Risa memang seorang introvert.
Berbeda dengan Rani yang tak nyaman di rumah duduk diam tanpa ngapa ngapain. Dia tidak suka berdiam diri di bawah atap terlalu lama. Apalagi dengan tingkahnya Rani yang cerewet! Dia suka sekali ngobrol apa saja. Mungkin semenjak bangun dari tidur sampai tidur lagi, mulut Rani takkan berhenti ngobrol bahkan dengan hewan sekali pun.
Pernah sekali, semua orang di rumah sibuk dan Rani tidak di bolehkan keluar, menonton tv juga gak ada yang menarik. Sehingga Rani memilih ngobrol masalah temannya yang suka menyalin tugasnya di sekolah dengan si kucing peliharaan Rani. Walau tak mendapat jawaban selain meongan, Rani tak peduli, dia terus mencerocos. Yang penting ngomong!
Namun sayang, sekarang Rani begitu malas untuk mengobrol karena yang ada di ruangan ini bukan kucing tapi malah hantu yang lagi datang bulan mungkin, karena terus marah bahkan ketika Rani tak membuat kesalahan.
"Emangnya kalau aku keluar hantu itu mau pergi?"
"Ya enggak, mungkin dia akan terus mengikutimu, sampai tuannya menyuruh pergi, atau membunuhmu!"
__ADS_1
"Dia hanyalah makhluk gaib tidak akan bisa membunuhku!" Rani meninggikan nadanya. Bagaimana mungkin, makhluk yang kodratnya lebih rendah dari manusia bisa membunuhnya?
"Kata siapa tidak bisa! Ayolah, kau bisa mengusirnya." Hantu itu mulai melembut.
Sepertinya api di kepalanya mulai padam.
"Caranya gimana setan!?" Kali ini Rani yang ngegas! Dia mulai muak dengan hantu yang terus menyuruhnya untuk mengusir hantu itu! Padahal dia tidak tau caranya.
"Kau kenal Tuhan Rani! Tanyakan sama Tuhan, semenjak kau pindah ke sini, kau bahkan lupa dengan kewajibanmu," Rani tertegun mendengar penuturan hantu itu.
"Aku sibuk mikirin kakak," Rani berusaha mencari alasan
"Khawatir boleh, tapi bukan berarti kau harus lupa sama apa yang wajib Rani! Karena itu mereka mudah mengganggu mu! Karena ditubuh mu tidak ada tameng!"
__ADS_1
Wah ternyata hantu ini bisa bijak! Rani sampai terdiam di buatnya. Rani tak berani mencari alasan lagi! Karena apa yang di katakan hantu itu benar! Tidak ada yang salah.