
Aku awalnya tak percaya dengan apa yang aku saksikan sekarang ini. Ku kira manusia yang memakan daging manusia itu hanyalah cerita belaka, tanpa ada kenyataannya. Tapi siapa sangka, manusia seperti itu memang ada dan sekarang tepat di depan mataku.
Dia hanya seorang gadis kecil kisaran 10 tahun, dengan gaun berwarna biru muda. Aku tak tau kenapa belakangan ini aku sering melihat orang memakai gaun seperti itu? Gaun yang lengannya pendek dengan rok setinggi lutut.
"Ma, Didi mau tidur ya?" Ucap anak itu setelah serbet pembatas baju dan darahnya lepas dari lehernya.
"Iya di, kamu duluan aja ya," kata ibu itu sambil mengusap kepala anak perempuan satu-satunya itu. Aku bisa melihat jelas bahwa di matanya sudah terbendung air yang akan segera terjun cepat atau lambat. Dia berusaha menahan agar genangan air di pelupuk matanya tak jatuh di depan sang buah hati.
"Mama gak mau tidurin Didi?" Rengek anak itu menggoyangkan lengan kanan ibunya.
"Ibu bersihkan dulu kamar ini ya Di, biar baunya gak sampai keluar," jelas ibu itu di balas anggukan paham dari bocah yang di panggil Didi.
Iya, namanya Claudi namun dia lebih senang di panggil Didi. Sepetinya dia tidak tertarik dengan awal namanya itu, sehingga dia sendiri yang membuang panggilan depannya itu. Katanya dia tak suka dengan semua yang berhubungan dengan perempuan. Tanpa dia sadari Claudi adalah seorang perempuan.
"Itu...." mata ku menyipit ke arah sebuah gelang yang tergeletak begitu saja di dekat bercak darah yang ada di sudut kiri di bawah meja, gelang berwarna pink yang terbuat dari tali kecil. Perasaanku tiba-tiba menjadi tidak nyaman.
"Iya kak, gelangnya mirip sama gelang di tangan kakak," itu Sintia, sepertinya dia sudah membaca pikiranku.
Dalam sekejap, mataku langsung tergenang air mata, dadaku sesak rasanya sangat marah. Melihat aku yang sudah mulai emosional dengan tanda tangan Sintia yang aku genggam dengan kuat membuat si pemilik tangan merintis kesakitan.
__ADS_1
"Kakak mau pulang? Kalau gak sanggup besok kita lanjutin," Sintia menahan sakit di pergelangan tangannya karena aku. Melihat wajahnya yang memerah menahan cengkramanku, dengan cepat aku lepaskan tanganku darinya.
"Maaf Sin, kakak gak bermaksud,"
"Iya gak apa-apa, yok keluar," Sintia menarik tanganku namun duluan ku hentikan.
"Eh, kenapa?" Sintia menatap mataku, seperti ingin kembali membaca pikiranku. Aku malas mengalihkan pandangan, biarkan saja anak itu membaca sesuka hatinya, toh nanti dia sendiri juga yang capek karena energinya terserap hanya karena membaca ingatab orang lain setiap detiknya.
"Kita ikutin Claudi dulu ya? Setidaknya bukan hanya satu informasi yang kita dapat," kali ini Aku yang menarik tangan Sintia.
Dia hanya mengangkat bahunya pasrah dan membiarkan aku hang mengambil alih perjalanan.
"Kalau bisa di buka kenapa enggak?" kataku tak peduli.
"Eh, kok gak bisa di gerakin?" kataku saat gagang pintu itu tak mau terbuka.
"Kita cuman bisa merasakan, tidak untuk menggerakkan," Sintia menjawab malas sambil menarik tanganku begitu saja menembus dinding dan begitu saja kami tiba di luar kamar.
"Andai saja manusia bisa kayak gini di dunia nyata, mungkin gak perlu capek beli pintu," celotehku yang hanya di balas sunyi oleh Sintia.
__ADS_1
"Nathan? Eh... atau Naell?" Aku berteriak saat melihat salah satu dari anak kembar itu berdiri di depan Claudi, menatapnya dengan pandangan tak suka.
"Kayaknya hubungan mereka gak baik deh," Sintia berargumen kali ini.
"Coba baca pikirannya," suruhku yang mulai kesal melihat mereka yang hanya diam tanpa berbicara, seakan-akan yang berbicara itu bukan mulut mereka melainkan mata mereka.
"Aku cuman bisa baca pikiran manusia yang nyata bukan ilusi yang berasal dari masalalu," mendengar jawaban Sintia aku mendengus kesal.
"Kalau lo berani ganggu dia lagi, gua gak akan biarin lo," tiba-tiba si kembar yang tak aku tau entah Naell atau Nathan mengancam Claudi.
"Jangan atur aku, lo ngerti?" jawab Claudi lalu melenggang begitu saja menuju kamarnya.
"Siapa yang di ganggu Claudi." tanya ku heran.
"Bisa jadi dia Linda," jawab Sintia begitu saja berargumen tanpa ada penjelasan.
"Kenapa Linda?"
"Karena gelang yang ada di dalam kamar tadi mirip dengan gelang persahabatan kalian," jawab Claudi sukses membuat aku takut.
__ADS_1
Takut kemungkinan kalau temanku selama ini di ganggu oleh Claudi, seorang perempuan kanibal.