Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
39


__ADS_3

Entah sudah berapa hari sudah berlalu, Sintia sudah menghubungi Risa, tapi gadis itu tak kunjung menjawab.


"Harus berapa lama dia berduka? bukankah semakin lama masalah ini tidak di selesaikan, maka akan semakin susah mencari bukti?" Sintia sudah geram.


Naell yang ternyata koma sudah sadar tiga hari yang lalu, Sintia takut Naell berubah pikiran dan tak berniat melanjutkan pencarian siapa pembunuh Linda dan Nathan. Itu hanya akan merugikan diri Risa sendiri. Linda akan terus mengganggunya, Hantu tak pernah mau tau kalau kita sedang sibuk atau susah, yang penting bagi mereka masalah mereka bisa cepat di selesaikan.


"Assalamualaikum," Sintia sudah berada di depan rumah Risa sekarang.


"Wa'alaikumsalam," seorang gadis menyaut dari dalam rumah.


Dia adalah Rani, Rani tersenyum lebar melihat siapa yang datang.


"Kakak, cari kak Risa ya?" Tanya Rani sambil mempersilahkan Sintia masuk.


"Iya ni Ran, Masih ngurung diri dianya?" Tanya Sintia sambil mengikuti Rani yang menuntunnya ke kamar Risa.


"Iya kak, tapi kemarin alhamdulillah udah mau keluar makan bareng sama kami," jawab Rani yang mengisyaratkan kalau Risa sudah mulai membuka dirinya lagi.


Sintia mengangguk mengerti, dia paham Risa butuh waktu, dan ini sudah melebihi batas waktu itu.


"Kak... ada kak Sintia ni," Rani mengetuk pintu kamar Risa berkali-kali.


Dan tak beberapa lama pintu itu terbuka juga. Terlihat dari dalam keadaan kamar yang sudah cukup bisa di bilang kacau, tak biasanya kamar Risa seperti ini. Kain berserakan di atas kasur dan di atas kursi, buku tak tertata rapi di dalam rak. Dan tisu pun sudah memenuhi tempat sampah kecil di sudut meja belajar.


"Udah cukup ya kak kacaunya, kehidupan bang Kelvin mungkin sudah berakhir, tapi kehidupan kakak masih berlanjut, mau sampai kapan kayak gini terus?" Bukan Rani, tapi Sintia yang mengomel geram.


Lihatlah rambut panjang sepinggul Risa itu, dalam keadaan di jalin tapi sudah banyak yang keluar dari ikat rambut, oh Tuhan, sudah berapa lama rambut itu tidak di sisir?


"Kakak mau aku bantuin keramasin atau keramas sendiri? Mau gak mau, sekarang kita ke rumah sakit nemuin Naell, udah cukup istirahatnya," Sintia mendorong punggung Risa ke dalam kamar, berniat mencari dimana handuk si pemilik kamar itu.


"Gak usah Sin, kakak bisa keramas sendiri, kamu tunggu di bawah, siap mandi nanti kakak susul, oke?" akhirnya suara Risa terdengar juga, walau agak sedikit serak karena sudah lama tak berbicara.


Namun wajah lesu itu belum juga berniar minggat dari wajah Risa yang dulu cukup ceria.


Mendengar perkataan Risa, Sintia dan Rani tersenyum puas. Ini dia jawaban yang mereka tunggu. Tak mau berlama-lama kedua gadis remaja itu langsung berlari kegirangan keluar dari kamar Risa, takut kalau terlalu lama berdiri di sana Risa berubah pikiran.


"Aku tunggu ya kak!," Teriak Sintia setelah keluar dari kamar Risa.

__ADS_1


Risa yang melihat kepergian kedua gadis itu hanya bisa menghela nafasnya, entah kenaoa dia masih enggan melihat dunia luar. Biasanya setiap keluar dari pagar rumah ada sosok laki-laki yang akan menunggunya di atas motor kesayangannya, Kelvin.


"Iya, kehidupan aku belum berakhir, tapi entah kenapa rasanya semua sudah berakhir di hari dimana dia berkorban sekaligus pergi dariku, mungkin kehidupanku berlanjut, tapi apa duniaku masih bisa berjalan seperti dulu?" Risa berbicara sendiri sambil menutup pintu kamarnya.


Handuk sudah bertengger di bahunya, tak lama kemudian dia menepuk keningnya merasa malu dan jijik dengan perkataan yang baru keluar dari mulutnya.


"Kok aku jadi puitis gitu sih?" geram Risa, lalu berlalu melangkah ke dalam kamar mandi.


🐾🐾🐾🐾🐾


Selesai berpakaian Risa berniat untuk turun ke bawah menemui Sintia. Tapi langkahnya terhenti saat tak sengaja merasakan ada perubahan hawa di kamarnya.


Saat mengetahui apa itu, Risa memejamkan matanya seakan-akan sedang menahan sesuatu.


"Linda sabar ya, aku bakal usahain biar Linda bisa tenang nyusul Kelvin di sana, aku bakalan berusaha agar Linda bisa pulang tanpa beban lagi," ujar Risa kepada Linda yang ternyata sedang berdiri di belakangnya.


Tak menunggu jawaban dari Linda, Risa pun pergi ke ruang tamu dimana sudah ada yang menunggunya di sana.


"Udah kak? Yok berangkat," ajak Sintia sambil menarik pelan tangan Risa.


Dengan ulasan senyum yang cukup lebar, Rani mengangguk paham. Setelah melihat Risa sudsh keluar bersama Sintia, Rani tiba-tiba teringat sesuatu.


"Mampus, nanti kalau di tanyain mama kakak pergi kemana harus jawab apa dong?" Rani mengerutkan keningnya mengasihani dirinya sendiri yang nanti pasti akan di hadiahi pertanyaan dari mama dan ayahnya jikalau pulang.


Rudi? Dia pasti sudah keluyuran lagi di luar mencari angin segar. Yah... Rudi tak jauh berbedanya dari Risa, dia juga cukup terpuruk atas kepergian Kelvin, mengingat betapa dekatnya dia dengan abang itu.


🐾🐾🐾🐾🐾


"Sin, aku kok takut ya?" Risa menarik lengan Sintia saat mereka tepat di depan pintu kamar tempat Naell di rawat inap.


"Takut? gak apa-apa, kan ada aku kak, udah tenang aja, nanti biar aku yang bicara, kakak milih nyimak aja oke?" Sintia memberikan saran yang di balas anggukan dari Risa.


"Bang Naell?" Sintia masuk dan menyapa prua yang sedang terduduk di atas kasurnya sambil menatap ke arah jendela yang ternyata masih di tutupi tirai jendela.


"Aku buka tirainya ya biar cahayanya masuk," tawar Sintia sambil melenggang ke arah jendela.


"Gak usah Sin, silau, aku yang nutup tadi," jawab Naell tanoa berniat mengalihkan pandangannya kepada Sintia.

__ADS_1


Mendengar itu, sintia mengurungkan niatnya untuk membuka tirai jendela dan memilih untuk duduk tepat di atas sofa yang ada di bawah jendela.


"Kita langsung ke intinya aja, oke?" Kata Sintia sambil melipat tangannya di dada.


Risa yang memilih untuk menyimak tetap berdiri di belakang Naell, tak berniat untuk ikut dalam pembicaraan itu, cukup mendengarkan saja, entah kenapa dia merasa sedikit lesu hari ini.


"hmm..." Naell mengangguk sekali, dan kembalu hanyut menatap kosong ke arah depan.


"Jadi gimana? Lo udah bisa nerima kenyataan kalau Nathan mati karena ibu lo sendiri?" Tanya Sintia.


Risa yang mendengar itu terkejut walau pun dia sudah menjadikan itu sebagai salah satu kecurigaannya.


Naell yang mendengar itu pun meremas kasur yang dia duduki dengan begitu kuat, mukanya memerah seperti ingin meluapkan api yang membara di dadanya itu.


"Hah... dan Kakak lo, dia juga ikut serta menghabisi Nathan beserta teman perempuannya, dan luar biasanya, lo sendiri juga hampir sempat jadi korban berikutnya kalau tidak karena Nathan, Lalu apa yang ayah lo lakukan saat itu?" Sintia bertanya menyelidik.


Dan Risa memusatkan pendengarannya lebih baik lagi. Siapa teman perempuan Nathan yang juga jadi korban? Risa bertanya-tanya, tapi ini belum saatnya untuk melontarkan pertanyaan itu.


"Lo curiga sama ayah gua?" Naell akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Sintia.


Dengan yakin Sintia mengangguk, entah kenapa dia merasa instingnya berkata benar kali ini.


"Coba lo ceritain versi lo, apa yang ayah gua lakukan jika dia adalah salah satu pembunuh Nathan," Naell malah bertanya hal yang Sintia sendiri belum tau kebenarannya.


Tapi dengan yakin, Sintia mencoba menjelaskan semua hal yang selama ini jadi kecurigaannya.


Melihat Sintia yang bersiap-siap untuk menjelaskan kecurigaannya, Naell malah memotong keinginan Sintia itu dengan memanggik Risa.


"Risa, lo gak capek tegak aja? Lo bisa duduk kok," Kata Naell sambil menatap Risa dengan tatapn yang sedikit menakutkan.


Risa mengangguk ragu, sambil berusaha menyingkirkan rasa takut yang makin menyelimutinya.


'Ada apa sebenarnya? Kenapa makin ke sini aku makin takut?' Batin Risa terus bergejolak.


Perasaannya terus tak menentu.


Dan sekelebat dia seperti melihat, bahwa tatapan yang Naell beri itu bukan tatapan Naell yang biasa dia lihat, tatapan itu seperti tatapan dari orang lain, bukan dari Naell.

__ADS_1


__ADS_2