Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Tentang Risa


__ADS_3

Rani terbangun dari tidurnya tepat pukul setengah lima pagi. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar sudut rumahnya.


"WAAAH...Syukurlah, hantu itu tak ada," Rani bernafas lega karena tak melihat pemandangan buruk di pagi harinya.


Dengan cepat dia bergegas menuju kamar mandi, segera mandi, berpakaian dan beribadah.


"Adek? Udah bangun?" Risa memilih mengetuk pintu kamar Rani.


Tidak seperti biasanya, Rani mengunci pintu kamar! Ini pertama kali kamar adiknya itu terkunci, apa ada yang dia sembunyikan?


"Rani udah siap kak," Rani keluar dengan baju merah putih melekat rapi di badannya tak ketinggalan hijab menutupi rambut cantiknya.


"Ya udah sana sarapan, nanti kakak yang antar ke sekolah,"


"Kakak mau kemana? Kok rapi gitu pakaiannya?" Tanya Rani sebelum menutup pintu kamarnya.


"Mau ngajar les, nanti pulang les langsung mampir ke sma kakak dulu," jelas Risa.


"Loh udah ngajar les lagi?" kali ini Rudi yang menyaut dari belakang.


"Iya,"


"Terus ngapain ke SMA?" tanya Rani lagi.

__ADS_1


"Ada deh... pengen tau aja," kata Risa sambil mencubit pipi Rani.


Yang di cubit merasa dongkol dengan kebiasaan kakaknya itu yang gak pernah berubah.


Kata mama, dulu saat Rani lahir, Risa selalu gemes dengan pipi adiknya itu. Setiap hari tak pernah lupa untuk mengelus bahkan mencubit pipi Rani. Dan itu kebawa sampai sekarang. Sudah berulang kali Rani protes, tapi si Risa tak mau mendengarkan.


Risa sebenarnya pribadi yang penyayang dengan adiknya. Hanya saja, dia pribadi introvert yang lebih banyak diam. Bahkan saat berkumpul dengan keluarga dia juga jarang berbicara. Dia hanya akan berbicara jika di perlukan. Dan tak suka berlama-lama berkumpul denhan temannya. Setiap kali temannya mengajak keluar dia jarang setujui. Katanya gak seru ngumpul rame-rame. Capek dan bikin lelah, enak duduk di kamar sibuk sama kegiatannya yang Rani tak tau apa yang di kerjakan kakaknya itu di dalam kamar.


Dia pribadi yang rajin belajar, namun sayang pas tes masuk universitas dengan bidikmisi dia gagal. Semenjak itu dia bilang kerja dulu, cari uang baru kuliah.


Padahal mama mau membantu biaya kuliah kakak, tapi dia bilang gak mau repotin orang tua, apalagi Rudi sebentar lagi tamat SMP dan Rani dua tahun lagi akan masuk SMP. Itu akan mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Cukup bebannya dia tanggung sendiri.


Seperti saat ini, dia mengajar les dari rumah ke rumah dan juga kerja di laundry. Katanya jadi biaya tambahan.


Baru juga meneguk air, kakaknya sudah buru-buru.


"Sabar dong kak!," Akhirnya Rani berlari mengejar kakaknya yang sudah siap menyalakan motor.


Berbeda dengan Rudi yang masih santai menyuap nasinya pelan-pelan. Seperti seorabg tuan putri, mengunyah begitu lambat, menelan juga perlu 5 detik. Ayah yang melihat itu di buat kesal. Anak laki-lakinya yang semata wayang ini tak pernah melakukan hal dengan cepat.


Makan lambat, kerja lambat, bangun lambat, jalan pun demikian. Terkadang dengan susah payah dia menahan emosinya. Rudi juga tak pernah mendengarkan perkataannya. Nilai di sekolahnya sangat buruk, sering bolos ke warnet. Entah kenapa anaknya yang satu ini berbeda dengan kedua saudarinya yang pintar dan selalu sigap kalau di beri nasehat.


🐾🐾🐾🐾

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan jam enam sore, matahari sudah mulai melambai-lambai mengucapkan selamat malam. Begitu juga dengan burung-burung yang terbang berombongan ke arah sarang mereka. Terlihat juga suasana di dekat sekolah SMA ini masih Ramai oleh anak-anak basket.


Risa menginjak kakinya kembali ke sekolah ini, Sudah hampir dua tahun dia melepaskan predikat murid SMA. Matany berkaca-kaca saat kembali mengingat kenangan yang di tinggalkan di sekolah ini.


Bagi Risa sekolah ini punya banyak cerita yang membuat pilu hatinya. Tak seperti anak SMA lainnya yabg menganggap masa SMA masa bahagia, bagi Risa masa SMA adalah masa awal dimana dukanya di mulai, dan duka itu takkan pernah hilang!.


"Linda, aku datang lagi ke sekolah kita, selamat ulang tahun ya," Risa mengambil kalung yang terpakai di lehernya, kalung itu memiliki liontin berbentuk bintang dengan warna peraknya. Risa memandang ke arah labor Fisika yang sudah lama tak terpakai, bahkan sampai sekarang labor itu masih di biarkan terbengkalai. Di sini lah, di labor ini, semua duka itu tercipta, walau sakit Risa masih harus datang ke sini, sebagai janjinya kepada sahabatnya, Linda.


Sedang sibuk dengan kenangan masa lalu yang mampir ke ingatannya dia malah di ganggu dengan suara piano yang di mainkan dengan indah dari ruang musik yang hanya di batasi satu ruangan dari labor fisika.


Karena penasaran Risa memilih untuk melihat siapa yang memainkan piano itu, lagu yang di mainkannya adalah lagu kesukaan Risa, CANON IN D.


Risa mengintip dari jendela yang cukup tinggi, sampai dia harus memanjat kursi agar bisa melihat isi di dalam dari balik jendela itu.


Terlihatlah sosok laki-laki dengan rambut berwarna hitam dan seragam berwarna putih abu-abu. Anak laki-laki itu terus memainkan lantunan piano itu dengan sangat merdu, hingga Risa di buat terhanyut ke dalam ke indahan lagi itu.


Tapi tak beberapa lama, dentingan piano itu berubah kacau seperti di tekan sembarangan, Risa kaget saat suara mengerikan terdengar dari dalam. Anak itu berteriak.


Risa berusaha melihat dengan jelas. Setelah tertangkap dengan matanya apa yang terjadi, Risa langsung menutup mulutnya.


'Apa yang baru saja aku lihat? Itu nyatakah?'


Tanpa banyak berfikir Risa berlari menjauh dari ruangan itu, dia sudah mati ketakutan, apa lagi kejadian tadi terlihat begitu nyata!

__ADS_1


__ADS_2