Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Di Mulai


__ADS_3

"Kenapa? Kalian takut? Kita punya Tuhan, yang selalu jaga kita, percaya sama Tuhan. Tidak ada yang lebih hebat dari Tuhan kan? Mereka cuman makhluk rendahan, jadi jangan takut dengan mereka. Aturannya kita yang buat mereka takut dengan kita." Rani berbicara seperti orang tua yang sudah banyak pengalamannya saja.


Tapi yah, yang di katakan Rani itu benar sekali. Gadis kecil yang bijak!


"Tapi kita gak punya apa-apa buat musnahin Tarjo Ran," Risa sepertinya mulai hilang ke percayaan diri.


"Kak, kita punya Allah, ayolah. Sebelum mencoba jangan mundur dulu! Pengecut namanya, dan kalau masalah senjata, aku sudah di bekali nenek Intan. Ini dapat membunuhnya dalam satu kali serangan. Aku sendirian yang akan menyerangnya dengan senjata. Tugas kalian cuman pastikan keadaan aman, dan lindungi aku. Hanya itu!," Rani menekankan di kata 'Hanya itu' yang membuat semuanya mulai malu dengan gadis kecil itu.


Seorang bocah yang lebih kecil dari mereka saja berani, kenapa mereka tidak?


"Bahaya Ran, biar aku saja," Denis yang tadinya meremehkan Rani tiba-tiba menawarkan diri?

__ADS_1


"Kau meremehkan ku lagi Denis?" Mata Rani memerah karena marah.


"Tidak! Bukan meremehkan mu, tapi semua orang pasti takut terjadi apa-apa denganmu, jika kau berdiri paling depan, itu akan memberikan keberuntungan buat mereka mendapatkan tumbal yang cocok!," Denis berusaha agar Rani tak salah paham padanya.


"Tapi tak bisa Denis, hanya aku yang bisa menyerangnya, hanya aku yang bisa menggunakan senjata itu. Karena senjata itu di ciptakan hanya untuk ku." Mendengar penuturan Rani, Risa dan Rudi menatap heran.


"Maksud kamu Ran?" Seakan-akan sudah paham dengan pertanyaan kedua saudara tertuanya itu, Rani mengangguk mantap.


Sambil mengeluarkan Kompas yang sedari tadi nyangkut di lehernya, ada tombol kecil di samping kompas itu. Saat di tekan mengeluarkan sebilang pisau kecil seukuran kelingking, berwarna perak dengan bentuk yang tipis. Menunjukkan seberapa tajamnya Pisau itu. Tunggu! Lebih tepat itu bukan pisau tapi pedang kecil yang di buat sedemikian kecil.


"Kenapa kamu sudah dapat dek? Bukankah, kita akan mendapatkannya jika kita menemukan jati diri sifat murni kita yang sesungguhnya?" Tanya Rudi dengan pandangan tak lepas dari pedang Rani.

__ADS_1


"Aku tak tau bang, nanti kita tanya nenek, yang penting sekarang kita harus segera bergerak. Waktu kita tak lama. Aku cuman di kasih waktu 5 hari sama nenek," Rani berdiri dari duduknya.


Seperti komandan yang di ikuti para prajurit semua berdiri mengikuti Rani.


"Kaami mengandalkanmu bocah," bisik S ke telinga Rani.


"Ck.. kau bau darah, menjauhlah," Rani mulai berani. Dan Sherly merasa senang untuk itu.


Gadis ini sudah banyak belajar dari semua masalah yang menimpanya. Gadis ini lebih dewasa dari pada usianya. Itulah pikir Sherly.


"Sombong kau bocah," S terbang menjauh, membuat semua orang semakin takjub dengan Rani.

__ADS_1


Seharusnya S tadi sudah mencekik atau setidaknya membentak Rani, tapi S bahkan tak menyentuh sehelai rambut Rani. Ada sisi liar biasa dari gadis ini.


🐾🐾🐾🐾


__ADS_2