
POV AUTHOR
'Jangan lihat matanya!,' peringatan dari Sintia terngiang di telinga Risa. NafasRisa terengah-engah saat hantu itu mulai mendekatkan wajahnya pada Risa.
Dan sekarang rambut wanita itu sudah sampai di atas bahu Risa.
"Tolong, siapa saja tolong aku," Risa menggigit bibir bawahnya dengan kuat takut nanti akan teriak.
Perlahan-lahan tangan itu mulai mencengkram bahu Risa dengan kuat, Risa memejamkan matanya menahan sakit, saat menyadari kuku runcing milik wanita itu sudah melubangi bajunya. Perih, perlahan darah Risa mulai mengenai kuku hantu itu.
"Menjauh Wanita Tua!," Seseorang berteriak di ruangan itu, dan itu bukan Risa.
Risa yang memejamkan matanya menahan sakit, refleks membuka matanya lebar, seakan-akan merasa bahagia karena sepertinya pertolongan telah datang.
Tapi kenapa suara itu terdengar familiar?
"ARGH...." Tangan wanita itu terlepas berbarengan dengan wanita itu yang langsung melayang seperti di dorong dengan begitu kuat.
Risa langsung menoleh ke arah wanita itu terhempas, dia kaget bukan main saat melihat sosok lain yang berada di ruangan itu, benarkah ini?
__ADS_1
"Rudi?" Risa menutup mulutnya tak percaya, Rudi terlihat transparan, apakah benar Sintia bisa membawa rohnya Rudi kemari? Bukankah anak itu hebat?.
"Takjub ya sama gue?"Kata Rudi dengan gaya angkuhnya.
Tangan memegang pinggang dan berdiri dengan tegap, sambil menaikkan satu alisnya berkali-kali. Melihat tingkah adiknya yang banyak gaya itu membuat Risa menghela nafasnya.
"Sintia yang bawa kamu ke sini?" tanyaku sambil memegangi bahu yang rasa perihnya mulai terasa lagi.
"Hemm... nanti bahas itu, kakak punya banyak hutang penjelasan sama aku dan Rani, bagaimana bisa terlibat ke sini, dan bagaimana bisa kenal dengan anak aneh itu," kata Rudi yang Risa yakini anak yang dia maksud adalah Sintia.
Ternyata pernyataan Sintia yang ingin melibatkan adiknya Risa bukanlah omongan kosong belaka.
Terlihat di sana hantu yang barusan terhempas itu seperti ingin berlari karena ketakutan. Tapi anehnya dia tak bisa melewati dinding itu.
Entahlah, tiba-tiba saja aura Rudi terlihat begitu menakutkan oleh Hantu itu, dia terus berusaha kabur. Namun tak berhasil.
"Sebenernya aku mau ngusir lo pulang ke alam lo, tapi, Sintia ngelarang gue, karena bilang lo salah satu kunci buat nyelesaikan masalah ini, jadi sekarang lo bisa pergi, tapi mungkin tinggalin sedikit jejak rasa sakit juga bolehkan ya? Soalnya lo udah bikin kakak gue terluka,"Kata Rudi sambil melayangkan kunci yang berhasil dia dapatkan beberapa hari lalu.
Dia mengayunkan kunci itu tepat di wajah hantu itu dan tiba-tiba....
__ADS_1
"Argh...." Hantu itu berteriak kesakitan dan kemudian menghilang.
"Loh dia kemana?" Tanya Risa sambil berusaha berdiri.
"Dia kabur, sini, biar Rudi obatin luka kakak," tawar Rudi sambil mendekat.
"Gimana caranya Di? Kamukan lagi di wujud roh, mana mungkin bisa ngobatin kakak," Jawab Risa sambil mengayunkan tangannya agar Rudi mendekat ke arahnya yang berdiri di dekat kedus orang yang masih belum sadarkan diri ini.
"Sintia kemana? Dia gak datang sama kamu?" Tanyaku, sambil membenarkan posisi pingsannya Naell.
Bagaimana pun kalau posisi kepalanya agak miring itu mungkin akan membuat lehernya sakit, Risa berusaha memindahkan kepala Naell, walau bahunya terasa sakit saat di gerakkan.
Rudi yang melihat hanya meringis ngeri, tapi benar juga kata kakaknya, untuk sekarang dia belum bisa membantu.
"Sintia bilang aku harus cepat ke sini, dia masih ada urusan mendesak, katanya Naell tiba-tiba menghilang,"
Deg....
Perasaan Risa tiba-tiba tidak enak, apalagi saat mengingat Naell sempat mimisan tadi, apa ini ada hubungannya? Apa Naell dalam masalah?
__ADS_1