
Mari saling follow... @sapitrielmi
🐾🐾🐾🐾
Entah ada yang masih ingat atau tidak, dengan kalung merpati yang pernah Sherly berikan dulu padaku, kalung itu entah bagaimana caranya kembali ke tangan asli pemiliknya. Yaitu nenek ku!
Keahlian dari kalung itu bisa membuat apa yang tersamarkan menjadi terlihat wujud nyatanya. Aku kira itu hanya akan berfungsi di alam yang berbeda dengan kami. Namun aku salah, nenek memberikan kalung itu kepadaku sebelum pergi tadi. Dia bilang kalung ini sangat berfungsi untuk membuat mata orang awam melihat apa yang tersamarkan. Mutiara kecil di mata liontin burung merpati itu, sama dengan permata yang ada di ujung tusuk rambutku.
Tinggal dekatkan kedua permata itu di depan Bima. Biarkan benda itu yang meresap semua yang gaib ke dalam seluruh indra pak Bima. Dengan begitu matanya, telinganya dan seluruh anggota tubuhnya akan melihat apa yang dia kira mustahil selama ini.
"Pak duduk di situ," aku menunjuk ke arah depanku.
Pak Bima menurut, dia bersimpuh di atas lantai tepat di depanku dengan di tengah-tengah kami adalah kalung punya nenek dan tusuk rambut yang sudah menjadi milikku.
"Apa itu!," Pak Bima kaget saat melihat ada cahaya merah terpancar dari kedua merpata itu. Tubuh pak Bima merasakan panas yang hebat.
Ini luar biasa! Aku hanya meletakkan mereka berdampingan, dan kemudian aku meminta tusuk rambutku untuk berbaur dengan kalung nenek. Siapa sangka tusuk rambut itu bisa mendengarkan ku.
__ADS_1
Seperti kompas Rani waktu itu, Rani menyuruhnya berhenti berputar, kompas itu langsung berhenti berputar. Apa setelah terikat dengan kami benda itu menjadi patuh dan menurut dengan pemiliknya? Apa sebenarnya benda aneh yang di berikan nenek pada kami?
"Aarhg.... mataku..." Aku dan Rani yang tadi hanya fokus pada cahaya yang di pancarkan kedua benda ajaib itu langsung beralih menatap pak Bima yang tiba-tiba mengerang kesakitan pada kedua matanya.
"Pak! Bapak kenapa?" Rani mendekat, berusaha melihat lebih dekat.
"AAARGH...." dan dalam sepersekian detik Rani juga ikut berteriak.
"Kamu kenapa dek?" aku cemas. Apa ada sesuatu tak baik yang terlihat oleh Rani?
"Darah, ada darah yang mengalir di celah-celah jari pak Bima. Kayaknya matanya berdarah deh," Rani mengigil ketakutan.
Dan aku tenggelam dalam kebingungan, pak Bima terus dengan teriakan kesakitannya. Apa nenek salah mengajariku? Atau aku yang salah mempraktekkannya?
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara dingin dan keras itu memecahkan kepanikan ku.
Isakan Rani menjadi redam sedikit, dan pak Bima yang mendengar suara itu langsung berhenti berteriak.
__ADS_1
"Se....se...Sendi? Itu kamu?" Pak Bima membuka matanya yang di tutup oleh kedua telapak tangan kekarnya.
Benar! Matanya berdarah, wajah pak Bima sudah di penuhi darah sekarang! Aku tak bohong!
Matanya belum terbuka, namun sepertinya telinga pak Bima masih akrab dengan si pemilik suara dingin yang tegas itu.
"Bima?" Sendi menatap sendu ke arah pria yang sekarang masih terpejam itu.
Mendengar namanya disebut, pak Bima menggigit bibir bawahna cemas. Perlahan dia memaksakan matanya terbuka, sepertinya dia sangat ingin melihat wajah si pemilik suara. Ada rindu yang sudah lama tak terobati, dan sekarang adalah saatnya, untuk kembali melihat wajah gadis yang membuat dia hidup penuh kesalahan selama ini.
Sekali lagi aku terkaget dengan ke ajaiban benda ini! Lihatlah pak Bima membuka matanya,.
Bima tertegun seketika, melihat gadis yang cantik itu kini memiliki wajah hancur dengan pisau menancap di lehernya.
"AA...AA...Aku... A... ku , aku rindu kamu Sen. Ada sesuatu yang belum sempat aku katakan kepadamu,"
TES...
__ADS_1
Air mata terjatuh dari pelupuk mata Bima.