
"Kalian mau berangkat sekarang?" tanya nenek sebelum turun dari tangga rumah.
"Iya nek lebih cepat lebih baik, nenek gak papa kami tinggal dulu? kalau enggak kita tunggu dulu sampai tante datang," kataku agak bimbang meninggalkan nenek sendirian.
"Gak apa-apa sayang, bentar lagi tante juga datang, kalian pergi aja dulu, takutnya nanti pulang kemalaman," seperti sudah menjadi kebiasaan nenek, dia selalu mengelus kepala kami sebelum berpisah.
Aku dan Rani mengangguk setuju, yang nenek katakan benar, kami harus cepat mencari tau dimana keberadaan Bima. Karena yang namanya Bima itu tidak hanya satu orang. Sebagai jaga-jaga kami membawa foto Liya dan Sendi, sebagai jalan untuk mengenali Bima.
"Kita mulai dari mana?" Tanya Rani sebelum pergi.
"ikuti arah kompas kamu sayang, kalian punya alat yang bisa kalian gunakan untuk membantu," jawab nenek sebelum sempurna masuk ke dalam rumah.
"Kompasnya bisa cari Bima?" Tanya Rani padaku.
"Entahlah, kita coba ikuti kata nenek, semoga saja berhasil," kataku.
Rani mengangguk dan langsung mengeluarkan kompasnya dari kantong tas, hari ini semua harus cepat selesai. Saat kompas itu terbuka, jarumnya berputar dengan cepat. Itu aneh, kami saling pandang tak paham, apa maksudnya?
"Bisa berhenti berputar? Tunjukkan saja arah untuk menemui Bima!," Rani berteriak kesal ke arah kompasnya yang berputar sedari tadi.
SHEEESH....
Jarum kompas itu berhenti begitu saja, seakan-akan mematuhi perintah adikku itu. Awalnya kami masih tak yakin, tapi kami tak punya petunjuk harus kemana, apa salahnya mengikuti arah kompas itu.
"Ayo," Rani menarik tanganku begitu saja, dia sepertinya benar-benar terburu-buru.
"Kamu kok buru-buru banget sih?"
"Itu!," Rani menunjuk ke arah samping ku, tak paham, aku melirik ke arah yang di tunjuk Rani. Sial, Liya memperhatikan kami dari balik jendela. Wajah pucatnya makin menyeramkan dengan mata yang melotot tajam. Gak usah pakai acara melotot dong. Udah di tolongin, masih sok nakutin.
"Ya udah ayo, kalau gak karena kasihan gak bakalan aku bantu," gerutu ku sebelum berlalu dari halaman nenek.
__ADS_1
Terserah, kalau aku di bilang menolong dengan hati dongkol itu tidak baik, yang salah itu si Liya, udah mending kami mau nolongin, tapi bukannya bilang makasih, malah bodoh amat gak mau bantuin.
🐾🐾🐾🐾🐾
Sudah hampir dua jam kami menyusuri jalan setapak yang mendaki lalu menurun, berkelok-kelok tidak lurus. Dan di setiap persimpangan selalu menemui kerbau yang sedang asik memakan rumput dengan tali tersangkut di hidung mereka, yang ujung talinga di ikatkan pada salah satu pohon kelapa. Tak heran jika setiap beberapa meter, bau kotoran Kerbau melayang-layang di udara dan mampir ke hidung kami. Busuk, tapi apalah daya, kami harus mengikuti arah kemana jarum kompas menuntun.
"Gak ada gitu jalan yang lebih bagus? Atau lebih dekat gitu? Mau putus kaki Rani rasanya kak," Rani berhenti dan memegangi lututnya yang terasa mau copot itu.
"Hah... kakak juga capek Ran, mau duduk dulu?" tanyaku sambil mengambil nafas. Tapi kemudian berhenti mengambil nafas dalam-dalam, karena aroma kotoran Kerbau juga ikut masuk. Membuat ku ingin muntah.
Maklumlah, ini baru kali pertama aku mencium yang namanya bau kotoran kerbau.
"Enggak kak, di sini bau, istirahatnya di tempat yang udah bersih aja," Rani berjalan lagi, dan mendahuluiku yang masih tegak dengan tangan di pinggang.
Siapa bilang akan mudah? Malah sepertinya hari ini akan menjadi hari yang melelahkan. Setiap warga yang kami lewati menatap kami bingung, mungkin heran saja karena baru pertama kali ini melihat kami. Seperti bertemu orang asing, mereka menatap kami dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan lucunya semua orang memandangi kami seperti itu. Benar-benar membuat risih dan jengkel.
BRUUUK..
"Kenapa berhenti tiba-tiba sih dek?" gerutu ku.
"Kakak yang ngapa nabrak Rani, kemana aja tuh mata, kok gak lihat-lihat orang ngerem," Cibir Rani tak mau kalah.
"Hah, mau tau aja," gak mungkin dong aku jawab kalau sedari tadi aku memperhatikan cara orang-orang kampung ini memperhatikan kami? Seperti orang yang kurang kerjaan saja.
"Lihat deh kak, jarumnya berputar lagi, tapi gak secepat tadi," Aku langsung melirik ke arah kompas yang Rani pegang.
Benar! Jarum kompas itu berputar lagi, dan yang aneh bukan hanya kecepatan berputarnya tapi arah berputarnya juga berlawanan dari pada sebelumnya.
"Apa yang mau di kasih tau kompas mu ya dek?" Tanya ku kepada Rani yang pastinya takkan mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Rani mana tau, dia juga baru pertama kali melihat jarum itu bertingkah seperti ini.
__ADS_1
Makin lama, Jarum itu putarannya makin pelan, dan tiba-tiba berhenti dengan jarum menunjuk ke arah kiri ku, tanpa aba-aba aku dan Rani melihat ke arah yang di tunjukkan kompas dan...
"ARGH..." Aku dan Rani serentak kaget dengan seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba saja berdiri di sampingku.
"Kalian bikin kaget saja," kata ibuk itu sambil mengusap dadanya.
"Maaf buk," kataku sambil menundukkan kepala sedikit.
"Iya, apa yang kalian lakukan di tengah jalan kagak gini? Kalian sepertinya bukan orang sini," tebak ibuk itu yang benar sekali.
"Ee... kami sedang mencari seseorang buk," jawabku to the point.
"Siapa?"
"Ee... kalau gak salah namanya Bima, apa ibuk tau?" Mendengar pertanyaanku kening ibuk itu berkerut.
"Nama Bima itu banyak, Bima yang mana? Nama anak ibuk juga Bima," Kata ibuk itu lagi.
"Ee... kira-kira dia berusia tiga puluh empat tahun?" Aku coba menghitung usia Bima yang mungkin seusia dengan Sendi bila masih hidup.
"Loh anak ibu juga tiga puluh empat tahun, ada keperluan apa kalian mencari Bima itu?" Ibuk itu bertanya lagi.
"Ee... gini buk, kami punya teman yang kenal sama Bima, dia mau ngasih sesuatu sama Bima itu," maaf Ya Allah kali ini Risa bohong.
KRUUUK...
Belum sempat ibuk itu menjawab kata-kataku perut Rani duluan berbunyi menandakan bahwa dia butuh makan.
"Hahah, kamu lapar? Ya udah ke rumah ibuk aja dulu yuk, kebetulan ibuk baru siap makan, sekalian ketemu sama anak ibu, mana tau Bima yang kalian cari itu anak ibuk," aku dan Rani menganguk setuju.
Ingat kata nenek, aku tidak boleh melewatkan apa pun. Semuanya harus di curigai, semuanya gak boleh di lewatkan. Ada petunjuk langsung ambil. Kita tak tau kalau ada peluang emas yang bakalan terlewatkan bukan?
__ADS_1