
POV RISA
"Hallo?" Ada jawaban dari sebrang, aku senang mendengar suara itu. Entahlah, teman sesaat yang sangat cerewet, entah kenapa suara itu terdengar sangat menyenangkan untuk di dengar saat ini.
"Hey, kakak masih ingat Risa?" Tanya ku memastikan apakah dia menyimpan nomer ku atau tidak.
"Risa? Ayolah, tentu saja aku ingat, siapa lagi kalau bukan si gadis cuek yang sok berani," jawab Dimas sambil tertawa senang karena telah mengejekku.
"Hey! Apa tadi? Gadis cuek? Sok berani? Enak aja ya kak, yang ada kakak tu yang sok berani," hilanglah sudah rasa senang mendengar suara Dimas kini berganti menjadi rasa dongkol yang dulu pernah ada saat di rumah petaka itu.
"Wah, gak berubah ya? Tetap aja galak, ngomong-ngomong ngapa nih nelpon? Rindu ya?" aku yang mendengar itu semakin di buat dongkol oleh cowok yang satu ini.
"Siapa juga yang rindu? Ini loh kak, aku nanya tentang kak Cika, kalian masih saling komunikasikan?" Tanya ku.
"Tentu dong, kitakan teman satu kampus, ngapa emang?" Tanya Dimas lagi.
"ehm... kangen aja sama kak Cika, kalau boleh tau kalian tinggal dimana sih? Aku mau ketemu sama kak Cika," aku beralasan dengan sangat mulus.
"Kangen sama Cika? Emang kalian sedekat apa coba?" Yah, itulah Dimas yang aku kenal, kepo tingkat tinggi, pengen tau aja semuanya secara detail. Paling anti di kasih penjelasan setengah-setengah, kalau di kasih penjelasan sedikit dia akan terus bertanya sampai komplit.
__ADS_1
"Gak usah kepo deh kak, Risa nanya kalian tinggal dimana, Risa mau ke sana, sekalian jalan-jalan, suntuk di rumah," jujur ini baru kali pertama aku membujuk seorang laki-laki. Kalau gak karena pengen tau siapa pembunuh Linda, amit-amit aku membujuk cowok ini.
"Oke deh, kami tinggal di kota kembang bunga, tau? Kalau tau ke sini lah," aku menyeringai mendengar penuturan Dimas. Bukankah kalimatnya barusan itu terdengar sok akrab. Ah sudahlah, siapa peduli mau dia sok akrab atau jual mahal?
"Oke, besok Risa ke sana, udah dulu ya kak, Assalamualaikum," langsung ku tutup sambungan kami, entah kenapa aku selalu tidak nyaman kalau cowol udah mulai sok-sokan dekat dengan ku.
Itulah mungkin kata Rudi, aku mungkin bisa-bisa menjomblo seumur hidup, setiap ada cowok yang mau jadi teman, oke, aku tak masalah, tapi jika mereka sudah menunjukkan sisi ketertarikan menjadi lebih dekat dari biasanya, atau berani mengungkapkan perasaannya, otomatis aku menjauh dan tak mau lagi memiliki hubungan yang dekat dengan mereka. Tembok akan terbangun di antara aku dan cowok itu.
Itu terjadi bukan tanpa alasan, orang-orang mungkin mengira bahwa aku terlalu sombong, jahat atau sok alim? Ah, mereka suka sekali berkomentar tanpa tau apa balik dari semua masalah itu, aku takkan seperti ini jika tak ada udang di balik batu. Kalian pasti mengerti setiap sifat yang tercipta pasti ada alasan di balik semuanya.
"Tapi kenapa masih nyaman dengan Kelvin?" Pasti akan ada yang bertanya seperti itu.
"Apakah kamu gak naruh rasa gitu sama Kelvin?" Aku yakin pasti ada yang akan bertanya seperti itu.
Aku tak mau jatuh cinta dengan Kelvin, benar-benar tak mau. Aku tak mau kehilangan sahabat lagi hanya karena perasaan cinta. Sudah cukup dia yang pergi, Kelvin jangan.
"Hah, lagi-lagi nangis," air mata mengalir begitu saja, saat tak sengaja mengingat masalalu yang sama sekali tak menyenangkan itu.
BRAAK...
__ADS_1
Seperti biasa, kalau rasa itu kembali muncul, rasa kehilangan itu datang, tanganku akan senantiasa dengan mudahnya memukul semua benda yang ada di dekatku. Kali ini meja belajar jadi sasarannya.
"Duh, kan sakit," punggung tangan di dekat jari-jariku terasa sakit setelah aksi meninju meja tadi.
Seandainya saja aku di kasur, pasti yang di tinju kasur, jadi gak bakalan sakit.
Kring....Kring...
Aku melirik ke arah hp yang baru saja berdering, sebagai pertanda ada chat baru masuk, dan chat itu pasti dari Kelvin, karena notifikasi pesannya aku beri nada khusus, jadi akan langsung tau kalau dia chat aku.
"Udah berangkat kerja belum? Kalau belum mau di jemput? Sekalian mama nyuruh aku ke pasar ni," Isi pesan Kelvin.
Mendapatkan pesan itu aku langsung berlari ke arah kamar mandi, baru ingat kalau ada jadwal ngajar, dan sialnya aku cuman punya waktu dua puluh menit, untuk mandi, berpakaian dan terjun ke runah siswa.
"Haish... sial! Pakai acara lupa lagi," dari kamar mandi aku balik lagi keluar mengingat pesan Kelvin belum di balas.
"Oke, Risa tunggu," ketik ku di layar hp lalu langsung menekan tanda kirim.
🐾🐾🐾🐾🐾
__ADS_1