Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
48


__ADS_3

Dentingan sendok dan piring terdengar berpantul-pantul dari satu piring ke piring lainnya. Tak ada yang berani bersuara, semuanya bungkam dengan makanan yang terus masuk ke dalam mulut mereka. Peraturan rumah itu di pegang oleh si putri sulung, seperti takut melawan, ayah dan ibu diam dan menuruti saja apa yang diinginkan si putri tunggalnya itu.


Linda yang melihat aneh dengan posisi duduk keluarga ini memilih diam dari pada bertanya, yang duduk di kursi utama adalah si putri yang di tuan putrikan. Sedangkan kepala rumah, ayah, dia duduk di samping istrinya dan berhadapan dengan Linda langsung.


Tatapan tak peduli dan bodoh amat tergambar di wajah sang ayah. Berbeda dengan mama di rumah itu, dia terlihat seperti ibu pada umumnya, tersenyum ramah kepada anak-anaknya dan juga Lindan, kecuali, kepada seseorang, dan seseorang itu bernama Nathan. Nathan menunduk menatap piringnya tanpa berniat menatap mata keluarganya yang lain. Mamanya mengambilkan nasi untuk semuanya, dan porsi paling sedikit jatuh kepada Nathan.


'Ada apa ini? Kenapa Nathan seperti di anak tirikan?' Pikiran Linda yang berkecamuk di otaknya membuat raut wajahnya penuy dengan tanda tanya.


"Kenapa Linda? Makanannya gak enak?" Tiba-tiba suara gadis iblis berwujud manusia itu memecahkan kesunyian.


"Eee... enak kok kak," Linda melemparkan senyum canggungnya.


"Kalau enak makan dong, jangan di aduk-aduk doang," nada bicara Gadis itu meninggi. Membuat Linda tersentak dan langsung memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.


'Sepertinya datang ke sini adalah sebuah kesalahan,' Kata Linda di dalam hatinya.


Nathan yang melihat itu benar-benar merasa bersalah, apa tujuan kakaknya itu sebenarnya?


Bukan hanua Nathan yang bertanya-tanya, tapi David tak kalah heran melihat perlakuan Kakaknya itu kepada Linda. Tak biasanya kakaknya itu mau berbicara dengan orang asing.


'Aish... andai saja aku tau apa yang terjadi sama Naell, pasti gak bakalan bingung kayak gini,' Gerutu David sendirian.

__ADS_1


🐾🐾🐾🐾🐾


Setelah acara makan-makan, semuanya kembali ke kamar masing-masing. Berbeda dengan Anak sulung mereka yang berlalu ke dalam kamar mandi dengan terburu-buru.


David selalu penasaran, kenapa kakaknya selalu ke kamar mandi usai makan? Tak mau terus penasaran, David memilih membuntuti kakaknya.


Baru saja mencapai pintu kamar mandi, David mendengar suara seseorang yabg sedang muntah. Mendengar suara itu, sudut bibir sisi kiri David terangkat. Apa yang selama ini dia curigai itu benar. Kakaknya sama sekali tidak menikmati makanan yang selalu mereka makan.


Dulu tak sengaja dia mendengar percakapan kakaknya dengan ibu mereka.


FLASHBACK


"Ma, nasi hambar, gak nikmat, perut aku gak suka ya masukin sesuatu yang gak enak kayak gitu," Si sulung duduk di atas meja makan sedangkan ibunya berdiri menatap penuh iba kepada putri semata wayangnya itu.


Mendengar tawaran ibunya, senyum lebar terpancar di wajahnya, kakinya yany menjuntai dari atas meja bergoyang kegirangan, persis seperti anak kecil.


"Ma, aku kemarin baru baca di artikel, dan aku baca tentang William-Seabrook, mama tau, katanya daging manusia itu rasanya sama kayak daging sapi. Pasti enak, aku mau coba dong ma, rasa daging manusia," Seringai Claudi sukses membuat mata ibunya melebar dari pada biasanya.


"Kenapa? Kaget?" Melihat ekspresi ibunya membuat Claudi sedikit terganggu, yang tadinya menyeringai senang kini raut wajahnya berubah kesal. Matanya menatap tajam mengintimidasi siapa pun yang dia tatap.


"Ee... enggak kok Nak," Seperti terpojokkan Ibunya menunduk ketakutan.

__ADS_1


"Mama cariin makanan aku ya, kalau enggak mama cari, mama sendiri yang bakalan jadi makanan aku," Kata Claudi sambil membelai pipi kiri mamanya dengan punggung tangannya.


Walau pun sedikit berbisik tapi David yang berdiri di sebalik vas bunga yang cukup besar itu bisa mendengar dengan jelas.


"Dia memang bukan manusia!," Bisik David lalu beranjak pergi menuju kamarnya seolah-olah tak mendengar apapun.


FLASHBACK OFF


Mendengar aktifitas dari kamar mandi sudah berhenti, David berniat segera pergi dari pada nanti ketahuan. Tapi siapa sangka, Dia duluan tertangkap basah oleh Claudi.


"Mau kemana Naell?"


"Eh, kak," David berusaha setenang mungkin.


"Belum cukup ya hukuman tadi? Mau di tambah hah?" Kata Claudi sambil menendang tulang kering David cukup kuat.


"Argh...." David memegang tulang keringnya yang terasa ngilu.


'Apa maksudnya?' pikir David yang memang tidak tau.


"Eh... denger ya, hari ini aku mau makan besar, kamu lebih baik tidur dalam kamar, kalau keluar, kamu berarti mau mendaftarkan diri," kata Claudi meninggalkan tatapan mengintimidasina lagi.

__ADS_1


"Waah... dia memperingatin lo tu bang, biar gue tebak, lo pasti tetap keluar," tebak Sintia yang di balas tawa kecil dari David.


__ADS_2