
Perlahan-lahan tubuh Ocha menjadi butiran pasir yang terbang terbawa angin, semua mata terpana menatap itu. Bukan hanya terpana tapi juga mulai berlinangan air mata. Gadis itu akan pulang, cintanya yang tulus ikut pergi bersamanya. Meninggalkan orang yang di cintai di sini. Air mata menetes saat wajah itu berubah menjadi wajah Ocha yang cantik, saat rambutnya berubah menjadi butiran pasir. Dimas kehilangan keseimbangan, untung saja Denis dengan cepat menahan tubuh abangnya itu.
WUUUSH....
Angin berhembus kuat membuat beberapa rambut tertiup, mata terpejam karena butiran pasir itu menghantam mata mereka. Ocha telah pulang, pulang bersama angin yang berhembus kencang.
TAAK...
Semua mata berusaha terbuka, saat mendengar suara benda jatuh, butuh beberapa waktu mata yabg pedih terkena pasir itu baru bisa terbuka, walau agak sedikit memerah dan berair.
Sebuah kertas yang di ikatkan pada batu yang cukup besar. Entah punya siapa itu, yang mereka tau benda itu datang bersamaan dengan kepergian Ocha dan jatuhnya tepat di tempat Ocha berdiri tadi.
__ADS_1
Rani maju dengan yakin, jiwa penasarannya sudah mulai aktif, dia rasa semuanya sudah di mulai. Dan Rani sangat yakin ini adalah salah satu hal yang membuat mereka mulai melangkah. Tanpa ragu Rani mengambil kertas itu dan melepaskannya dari batu itu.
Hanya satu orang! Mereka butuh satu orang lagi untuk bisa mewujudkan impian mereka membangkitkan tubuh Tarjo! Mayatku, di temukan oleh nenek sialan itu! Kaki kananku sudah tak lagi di jasadku. Aku tak bisa marah, toh itu bukan milik ku lagi. Aku tak mau membantu kalian, tapi karena ada Dimas di sana, aku ingin dia bisa bebas. Hati-hati jangan sampai satu orang harus mati! Biar aku jadi korbannya dan jangan kalian. Terutama Risa, dia sepertinya menginginkan Risa sebagai tumbak terakhirnya. Yang pastinya tumbal terakhir adalah orang yang memiliki hubungan darah dengan Kintan. Karena itu akan lebih mempermudah tujuan mereka.
Isi surat itu sukses membuat Rani kaget bukan main. Nyawa kakaknya dalam bahaya.
"Menurut surat ini, bukan hanya nyawa kak Risa dalam masalah, tapi juga Rudi dan Rani. Bukankah kalian juga cucu dari nenek itu?" Kesimpulan Denis membuat semua orang menelan ludah susah payah.
"Kau benar Denis, jika kau tak mengatakan itu mungkin kita hanya akan fokus sama Risa sampai melupalan dua kandidat lainnya, " Kelvin memuji kejelian Denis.
"Gak kandidat juga dong bang, istilahnya kok bikin kesel ya," Rani memutar bola matanya kesal.
__ADS_1
Semenjak kapan dia menyalonkan diri jadi tumbal Kintan? Sampai-sampai harus menjadi kandidat segala.
"Yang di katakan Kelvin itu benar Ran, kamu dan Rudi juga harus kita jaga. Kemungkinan kecil mereka tak akan membunuh kita, karena yang dia butuhkan cuman ketiga cucunya ini." Kata Dimas kemudian.
"Lo udah selesai galaunya?" Sepertinya Cika adalah Ocha yang keduan.
Mulutnya itu bena-benar luar biasa tak ada otaknya. Bisa-bisanya dia ngomong kayak gitu. Lihatlah, seluruh mata menghantamnya dengan pandangan tak suka. Tapi untunglah Cika punya sisi malu, dia langsung menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah.
"Maaf aku gak maksud ngomong kayak gitu," kata Cika rilih kepada Dimas.
"Hhhah... Sudahlah Cik, aku cuman mau dengerin kata Ocha, dia ingin aku bisa jalanin hidup dengan baik. Dia juga ingin kita bebas dari sini, kalau aku tetap egois dengan perasaan ku yang sedang tak enak ini. Maka kita akan tambah lama di hutan ilusi ini," Kali ini, sepertinya Dimas menggunakan otaknya dengan baik.
__ADS_1