Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Menghadapi masalah


__ADS_3

Rani melipat kembali mukenahnya, entah kenapa hatinya lebih tenang setelah selesai membaca Al-Qur'an. Benar kata mama, Al-Qur'an adalah obat paling ampuh untuk masalah hati.


"Kau sudah selesai? Apa sekarang bisa keluar? Kakakmu harus segera di selamatkan!," Rani yang tadi mau duduk di atas kasurnya terperanjat kaget mendengar suara dari bawah kakinya.


"Ngapain di situ sih!," Rani menghentakkan kakinya kesal.


"Kau mengusirku selama beribadah. Setelah selesai aku datang lagi, hehehe,"


Rani memukul keningnya, dia benar-benar merasa sudah tidak normal. Kenapa harus bisa melihat hantu sih! Kenapa harus bisa ngobrol sama mereka! Nganggu tau gak!.


"Kamu kenal kakak ku?" Rani melompat ke atas kasurnya. Malas melihat muka mengerikan hantu itu yang sekarang berbaring di ujung kasurnya.


"Kau lupa! Raksasa itu ke sini karena kakakmu! Dia mau menghambat kau untuk membantunya. Tak lama lagi, nyawa kakakmu tak kan selamat Ran,HAHAHAH.....," hantu itu tertawa terbahak-bahak tanpa memikirkan telinga Rani yang sudah terasa nyeri mendengar tawa hantu ini!


"Kau jangan menakutiku Setan!,"


"Aku tidak menakutimu, sekarang keluarlah, cepat cari cara menyelamatkan kakakmu," Hantu itu melayang dan kini menempel di dinding seperti cicak.


"Kenapa kau peduli dengan kakakku?" Kening Rani berkerut.


Rani sangat tau jelas, tidak ada hantu yang mau menolong tanpa meminta imbalan. Hantu memang licik!.


"Karena kalau masalahmu selesai, kau bisa membantuku," Dia tersenyum.

__ADS_1


Mukanya tertutup dengan rambutnya, tapi Rani bisa melihat jelas senyuman hantu itu dari sela-sela rambutnya. Rambutnya sangat tipis! Sampai Rani bisa melihat ubun-ubun kepalanya itu.


"Kalau aku tak mau membantumu bagaimana?" Rani masih setia di atas kasur.


"Aku akan terus mengganggumu," Lagi-lagi hantu itu tersenyum lebar.


Hah... kalau hantu tersenyum entah kenapa bulu kuduk menjadi berdiri. Beda ceritanya kalau manusia yang senyum.


"Terserahmu," Rani menjawab singkat tanpa menatap hantu itu lagi.


Dengan langkah pasti Rani berjalan ke arah pintu kamarnya. Dan kedua pasang mata hantu itu melihat setiap pergerakan Rani.


TAP


"Bismillahirrahmanirrahim," Rani menyebut nama Allah. Dengan percaya diri dia mendorong pintu itu dengan jantung yang berdebar-debar.


KREEK...


Bunyi khas pintu tua, berdecit sebelum sempurna terbuka. Kali ini mata Rani sudah bisa melihat daerah di luar kamarnya. Rani bernafas lega saat tak lagi melihat raksasa penuh bulu itu di depan pintu kamar.


Dengan rasa senang itu dia berlari keluar rumah, mencari neneknya. Entah kenapa dia merasa nenek bisa membantu dan memberikan jalan keluar. Rani tak tau dari mana asal pemikiran itu. Yang pasti dia sangat yakin dengan yang dia rasakan sekarang.


"Nek," Rani mendapati neneknya yang sedang asik duduk di pinggir teras dengan di temani mama.

__ADS_1


"Ran, udah keluar?" Nenek menggenggam tangan Rani hangat. Dia tersenyum ramah ke cucunya yang paling kecil itu.


"Iya nek," Rani sekarang berdiri di tengah mama dan neneknya.


Pandangan Rani kini tertuju ke depan, ke arah dimana banyak pohon kelapa berjejer dengan rapi. Yang di sela-sela pohon itu di tanami pohon coklat yang sepertinya sudah tiba waktu untuk di panen.


"Nek, ada yang bilang sama Rani, kalau kakak gak bisa lama-lama disana, bisa-bisa kakak gak selamat," sekarang Rani mulai berbicara serius ke arah neneknya.


Entahlah, saat pertama kali menginjak rumah ini dan bertemu nenek Intan, dia merasakan aura yang berbeda dari si nenek. Sepertinya ada sesuatu yang di miliki nenek. Auranya lebih menakutkan buat Rani, walau begitu nenek tetap tersenyum ramah dan berbicara dengan akrab bersama cucu dan anaknya. Sehingga membuat Rani agak mengesampingkan instingnya itu.


Tapi sekarang, entah kenapa dia yakin, neneknya pasti tau sesuatu!


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Muka mama berubah khawatir, berbeda dengan neneknya yang terlihat gusar. Rahang nenek mengeras, sepertinya dia marah.


"Haruskah aku bertindak agar Kintan tak menyakiti cucuku?" Gumam nenek yang terdengar oleh Rani.


"Apa nek?" Rani bertanya memastikan apa yang baru saja neneknya katakan.


"Nak, bisa tinggalkan amak berdua saja dengan Rani, ada yang pengen amak bicarakan dengan Rani," kening Rani dan mamanya berkerut.


Tapi melihat wajah nenek yang serius, dengan berat hati mama pergi meninggalkan Rani berdua dengan neneknya. Dia sangat penasaran apa sebenarnya yang ingin di sampaikan amaknya itu kepada putrinya. Walau begitu dia tetap tidak berani menguping. Bagaimana pun jika amak sudah meminta, tugas anak adalah mengikuti, itu prinsip yang di pegang oleh ibu Rani.


"Kamu mau membantu nenek untuk nyelamatin kakak? Tapi ini agak sedikit berbahaya!," Seketika, tubuh Rani bergetar hebat.

__ADS_1


Apa yang harus dia lakukan? Seberapa bahayanya ini?


__ADS_2