Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Gadis berkerudung hitam


__ADS_3

Rani dan Risa menatap fokus ke atas meja belajar Rani yang di atasnya ada tusuk rambut Risa pemberian dari nenek. Mereka berusaha mencari sesuatu yang ganjal dari tusuk rambut itu, tapi mereka tak menemukan apapun. Tusuk itu terlihat elegan dan kuno, namun daya tariknya benar-benar membuatnya terlihat indah.


"Apakah ini salah satu dari rahasia nenek?" Kata Risa setelah sekian lama terdiam.


"Entahlah kak, tapi, kakak ingat gak sih? Nenek pernah bilang tentang 3 senjata, apa jangan-jangan ini senjata yang nenek maksud?" Rani mengeluarkan kompas yang sudah menjadi miliknya dari dalam laci meja dan meletakkannya di samping tusuk rambut Risa.


Dan tiba-tiba kedua benda itu bergerak saling mendekat, seperti magnet berbeda kutub, langsung menempel begitu saja. Anehnya, seperti ada yang memberontak keluar dari kedua benda itu.


"Kok bisa gitu?" Rani memeluk pinggang kakaknya .


Sesuatu yang aneh dan tak masuk akal terjadi lagi.


"Kakak gak tau," Risa segera meraih tusuk rambutnya itu, berusaha memisahkan tusuk rambut itu dari kompas Rani.


Dan...


"Loh? kok langsung lepas sih? Kirain bakalan susah," kata Risa heran melihat tusuk rambut itu sudah berada di dalam genggamannya.


"Rani gak tau," Kata Rani langsung meraih kompasnya dan menyimpannya ke dalam laci lagi.


Dia gak tau apa lagi yang akan terjadi nanti jika kedua benda itu di biarkan saling bertemu.

__ADS_1


"Bukankah tadi kayak mau keluarin sesuatu?" Rani menunjuk ke arah kompasnya dan tusuk rambut itu bergantian.


"Iya, tapi anehnya seperti terkurung gitu, apa jangan-jangan harus menunggu senjata ke tiga?" entah dari mana pemikiran itu datang.


Tapi bukankah itu cukup masuk akal?


"Tapi dimana senjata yang ke tiga?" tanya Rani yang di balas gelengan dari Risa.


"Kata nenek, senjata itu bakalan datang sendiri ke Rudi, tapi kayaknya Rudi belum dapetin senjata itu," Risa mengurut pelipisnya lagi.


Kepalanya benar-benar tak mau di ajak kerja sama. Rasa sakit itu membuat pandangannya goyang. Rani yang menyadari keadaan kakaknya memilih memapah Risa menuju kamar. Mereka berjalan dengan perlahan, takut orang tua mereka tau Risa sakit. Karena jika sampai mama tau Risa sakit bisa kapok Risa di kasih banyak obat.


Padahal Risa gak suka banget sama obat, mama itu kalau menyangkut kesehatan Risa selalu over dosis carenya.


"Astagfirullahalazim," Rani mengucap ketika melewati kamar Abangnya si Rudi.


"Kenapa Ran?" Tanya Risa sambil mendongakkan kepalanya ke depan.


Dan...


BRAAK...

__ADS_1


Risa terlepas dari pegangan Rani, tubuh Risa meluncur begitu saja ke atas lantai, Risa tak sadarkan diri. Setelah melihat apa yang di lihat Rani.


"MAMA!!!!," Rani berteriak saat itu juga.


Risa tak sadarkan diri dan tubuh Rani sudah menggigil ketakutan,


'ma, cepat! Rani takut," Wajah Rani berubah pucat.


Akankah dia menyusul kakaknya pingsan?


'Oh Tuhan, sadar Ran, tetap sadar," Hawa dingin mulai terasa.


Dan tubuh Rani kembali menggigil hebat, dia sangat ketakutan kali ini. Rumahnya tak lagi aman seperti dulu.


TAAAP


"AAARHG....," Rani memekik begitu kuat saat merasakan sesuatu menyentuh pundaknya.


Rani gelagapan, dia tak peduli lagi dengan orang rumah yang akan kaget mendengar teriakannya, yang pasti sekarang dia tak bisa menahan rasa takut yang ingin keluar.


"Rani! Ini mama! Kamu kenapa? Kakak kenapa juga pingsan?" Mama memeluk Rani berusaha menenangkan teriakan Putri bungsunya itu.

__ADS_1


"Dia ada di sini ma, Dia ada di sini," Rani terus meracau, dia tak berhenti panik, Panggilan mamanya tak dia gubris.


Tanpa mamanya sadari wanita berkerudung hitam itu terus berdiri di belakang mereka memperhatikan ke tiga wanita yang tak asing baginya.


__ADS_2