Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Pria Pemain Piano - Episode 18


__ADS_3

Rani dan Rudi menatapku penuh tanda tanya setelah masuk ke dalam rumah, terutama Rudi yang menatap dengan tatapan tak suka. Anak satu itu suka sekali mengintimidasi dengan tatapan menusuknya itu.


"Kemarin bawa hantu, oke, Rani paham, mungkin dia ngekor sama kakak, tapi kali ini manusia? Semenjak kapan kakak ku yang penyendiri ini membawa teman ke rumah?" Tanya Rani sambil menatap ke arahku dan Sintia bergantian.


Iya, aku membawa Sintia pulang ke rumah dengan berbagai alasan yang di lontarkan Sintia pada ibunya. Aku tak tau apa alasan terakhir yang di berikan Sintia pada ibunya sehingga mengizinkan anak gadis ini pergi dengan ku yang baru pertama kali dia temui.


"Sambut dulu tamunya baru di kasih pertanyaan," kata ku sambil melenggang masuk setelah memberikan isyarat pada Sintia agar mengikutiku.


"Eh iya, adek lupa, aku Rani, nama kakak siapa? Maaf ya, soalnya ini baru pertama kalinya kak Risa bawa teman ke rumah selain bang Kelvin, makanya Rani agak kaget gitu" adikku itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan dirinya.


Sintia tersenyum ramah, senyum yang sangat manis. Entah semenjak kapan anak itu bisa memberikan senyum semanis itu, kapan dia latihan mengukir senyum indah di wajahnya? Setau ku sedari tadi dia hanya tersenyum genit meminta ikut denganku.


"Aku Sintia, salam kenal ya Rani," jawab Sintia sekenanya.


"Kok kakak bisa kenal dia?" Rudi yang sedari tadi diam sambil melipat tangan di atas dadanya menatap tajam ke arah Sintia.


"Gitu amat lo Rud, sama temen sendiri juga," kata Sintia yang mengundang ke terkejutan aku dan Rani.


"Loh, kalian saling kenal?" Tanya ku dan Rani hampir serentak.


"Iya, kami teman satu sekolah plus satu kelas " oke, aku hampir saja lupa kalau Rudi dan Sintia seusia dan satu sekolah. Makanya mereka saling kenal.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu ke kamar kakak dulu Sin, letakin barang kamu di kamar kakak, nanti baru kita lanjutin ngobrol," ajakku yang hanya di balas anggukan dari Sintia.


"Rudi juga punya kelebihan kak?" Tanya Sintia di sela perjalanan kami.


"Enggak tu, dia gak bisa lihat hantu, cuman aku sama Rani aja," kataku.


"Kamu juga merasa dia berbeda Sin?" Gadis bergaun hitam yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Hantu itu bertanya kepada Sintia.


"Waah, apa hantu juga bisa merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan?" Sintia takjub dengan pertanyaan si gadis gaun hitam.


"Emangnya apa yang berbeda dari Rudi?" Aku tak tau, dan sekarang harus tau.


Kenapa pikiran Rudi tak dapat di baca? Apa anak mama semuanya tak bisa seperti manusia normal? Aneh.


"Kamu tau kenapa?" Tanyaku pada gadis bergaun hitam itu. Entahlah, sampai sekarang aku tak tau harus memanggilnya apa, dia tak pernah mengenalkan dirinya, dan saat di tanyai pasal siapa namanya, dia hanya bilang tak ingat lagi siapa namanya. Toh hantu gak perlu panggilan.


"Entahlah, tapi yang pasti, adik mu itu punya sesuatu yang positif di dalam dirinya, anak itu menarik, hanya saja karena salah pergaulan dan pila fikirnya yabf menyimpang membuat dia menjadi keras." Jelas hantu kecil itu padaku.


"Tenang saja, sifat keras kepalanya itu akan hilang secara perlahan oleh aura baiknya. Ada yang mengikuti Rudi sedari kecil, dan sepertinya dia ingin mengambil alih tubuh Rudi," penjelasan Sintia membuatku benar-benar tak percaya.


"Ada yang mengikuti Rudi? Kenapa aku gak bisa lihat?" Tanya ku lagi.

__ADS_1


Bukankah aku bisa melihat mereka? Ini sama sekali tak masuk dalam logikaku, apa ada hantu yang tidak bisa ku lihat.


"Auranya sangat besar, dia bahkan bisa mengambil alih tubuh manusia, kakak bisa melihat bukan karena penglihatan yang terbuka secara alami, tapi penglihatan kakak di buka paksa oleh seseorang. Jadi lambat-laun, kakak pasti bisa lihat." Sintia menjelaskan sambil mengeluarkan baju sekolahnya.


Anak ini benar-benar berniat untuk menginap cukup lama, lihatlah berapa banyak baju yang dia bawa.


"Lalu apa Rani bisa lihat?" Tanyaku penasaran.


"Menurut Sintia sih, Rani bisa lihat," untuk yang kesekian kalinya, orang yang bernama Sintia ini memberikan aku keterkejutan semenjak awal bertemu dengannya. Aku tak tau apa yang akan terjadi jika aku terus bersama gadis ini. Bisa-bisa terkena serangan jantung mendadak karena hal baru yang terjadi tanpa ku duga.


"Oke, jadi sekarang Rudi bagaimana? Apakah dia akan di ambil alih oleh makhluk itu? Apa yang harus aku lakukan? Berapa lama lagi waktu yang tersisa untuk menyelamatkan Rudi?" Aku benar - benad di bikin sakit kepala oleh semua masalah yang tiba.


"Rudi masih punya banyak waktu, apa lagi sesuai apa yang di bilang hantu kecil ini bahwa Rudi mempunyai aura yang cukup kuat, itu akan membuat benteng tersendiri untuk dirinya, jadi sekarang mendingan kita fokus dengan masalah Nathan dulu," aku hanya mengangguk setuju.


Mungkin Sintia memang lebih kecil dariku, tapi pengalaman dan pengetahuannya tentang makhluk lain lebih banyak dariku. Apa lagi anak ini mau membantuku, semoga ini selesai dengan cepat.


"Tapi tunggu dulu, apa kamu nolongin kakak karena ada udang di balik batu?" aku merasa agak sedikit aneh dan curiga, bagaimana mungkin seseorang mau menolong tanpa mendapatkan imbalan.


"Tenang kak, aku gak punya niat buruk, aku punya niat baik, gak usah pikirin aku, pikirkan saja apa yang harus kita lakukan sekarang," skak mat...


Anak ini lebih bijak dari ku, dia benar-benar plus dariku.

__ADS_1


__ADS_2