Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Denis dan Rani


__ADS_3

Ocha, si gadis cerewet itu sudah sadar. Tapi dia tak kunjung berbicara. Dimas dan aku sudah berulang kali memanggil gadis itu, tapi dia tak kunjung keluar dari lamunannya. Kami khawatir. Sangat khawatir.


Memang kadang Ocha sangat menyebalkan. Tapi lebih menyebalkan melihat dia diam kayak orang kesurupan. Aku tak suka melihat dia seperti ini. Apakah Ocha masih di badannya? Hanya pertanyaan itu yang terus melintas di pikiranku.


"Ocha masih bengong juga ya Sa?" Dimas berdiri di sampingku sekarang.


Kami berdua berdiri di belakang Ocha, karena gadis itu terus memberi jarak saat kami mendekat.


"Iya kak, Oh ya, mana yang lain?" Tanyaku setelah sadar bahwa Rudi dan Kelvin tak ada di dekat kami.


"Tadi katanya mau cari air dulu," kak Dimas menunjuk ke arah kiri kami.


Namun yang terlihat tetap hanya kabut tebal. Makin lama kabutnya makin tebal. pandangan kami hanya tembus sampai 3 meter saja.


SREEEK....


Aku dan Dimas langsung kaget saat mendengar ada langkah kaki yang begitu banyak mendekat ke arah kami. Sepertinya bukan hanya dua orang, tubuh ku menggigil hebat.


Aku dan kak Dimas langsung saling pandang, seperti saling mengerti satu sama lain, kami langsung berlari ke arah Ocha.


Dimas dengan cepat menggenggam tangan Ocha, membuat Ocha kaget dan aku langsung berdiri di belakang Dimas.

__ADS_1


"Tetap di belakangku, jika yang datang itu berbahaya langsung lari dan bawa Ocha," kata Kak Dimas padaku.


Dia langsung menarik tanganku agar mau menggandeng Ocha. Dengan cepat aku mengangguk setuju. Entahlah, aku tak tau harus bagaimana lagi, biarkan kak Dimas yang mengatur semuanya.


Dimas mengeluarkan sebilah pisau yang entah dari mana dia dapatkan.


"Kak, itu pisau dapat dari mana?" Tanyaku.


Tanganku menggenggan tanagn Ocha dengan kuat, karena Ocha berusaha melepaskan tangannya dariku. Tidakkan perempuan ini bisa mengerti, bahwa sekarang kita dalam keadaan yang menakutkan? Kenapa terus berusaha ingin menjauh? bagaimana kalau ada yang datang terus mengambilnya?


"Aku selalu bawa ini Sa, sebagai jaga-jaga," aku hanya mengangguk saja, karena sekarang sudah mulai kesal dengan perempuan di sampingku ini.


"Cha? Diam dong, jangan terus narik tangan kayak gitu. Jangan coba-coba menjauh ya Cha," tanganku tak juga mengendur, malah semakin kuat menggenggam tangannya itu.


"DIMAS!,"


Aku langsung menutup mulutku, setelah orang di balik semak-semak itu keluar, Dimas langsung melayangkan pisaunya. Yang tak terduga, ternyata itu KELVIN!


Pisau Dimas mengenai lengan Kelvin. Mengalir darah segar di balik baju lengan panjang yang koyak karena pisau Dimas.


"Kelvin? Itu Lo? Astaga! Maaf gue gak tau," dengan cepat Dimas membuang pisaunya dan mengoyak baju kaosnya sendiri.

__ADS_1


Aku yang melihat itu tercengang. Dimas sangat lihai membalut luka Kelvin, dia bahkan tak segan-segan mengoyak bajunya sendiri. Dengan kain itu dia mengikat luka Kelvin agar tak mengeluarkan darah terlalu banyak.


"Vin, sakit?" Aku berlari ke arah dua pria itu, meninggalkan Ocha yang mendecak kesal. Sudahlah aku tak mengerti lagi dengan perempuan itu..


"Ya sakitlah Sa, Masa iya masih nanya?" Katanya sambil mengusap kepalaku dengan tangannya yang satu lagi.


"Masih sempat mesra-mesraan ya?" Kata-kata itu meluncur dengan mudahnya dari mulut Dimas.


"Apaan sih kak, Kalau iri bilang," tanganku melayang dengan ringannya memukul bahu Dimas.


"Aau.." orang yang di pukul hanya meringis sambil mengusap bahunya pelan. Aku hanya tertawa puas melihat muka kesalnya.


"KAKAK....," Tawaku berhenti seketika.


Pandangan mata beralih ke arah asal suara tepatnya di jalan yang Kelvin lewati tadi.


"RANI!?" pekikku tak percaya.


Itu gadis kecilku, gadis kecil yang sangat aku rindukan selama ini. Dia disini? bagaimana bisa? Haruskah aku bahagia atau sedih?


"Bang? Itu lo?" dari belakang Rani dan Rudi datang 2 orang lagi. Dan yang berbicara itu adalah bocah laki-laki yang kelihatannya seusia Rudi.

__ADS_1


"Denis? Cika? itu kalian?" kali ini Dimas yang bersorak. Ada kebahagiaan dari bola matanya itu.


Itukah adiknya Kak Dimas?


__ADS_2