Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Bertemu Bima 2


__ADS_3

Rani menatapku seakan-akan bertanya 'Boleh makan?' sambil memegangi perutnya yang terasa lapar.


Muka Rani berubah memelas menatapku yang menggeleng. Matanya membulat dengan alis mata di tekuk lalu mulut di manyunkan. Astaga! Adik imutku terlihat semakin imut. Melihat dia yang masih memelas aku membuang nafas lewat hidung pesek ku ini.


Mengangguk tanda setuju, Rani tersenyum lebar lalu menatap makanan yang sudah di hidangkan di depan kami.


"Tunggu sebentar, nanti anak ibuk pulang kita makan bersama aja ya? Gak apa-apakan?," Tanya ibuk itu takut nanti kami merasa tak nyaman.


"Iya buk, gak apa-apa kok," kataku sambil menggenggam tangan adikku agar bisa menahan laparnya.


"Assalamualaikum Mak," suara seorang laki- laki menyapa dari balik pintu.


"Waalaikumsalam," jawab kami bertiga serentak.


Pria yang sudah kepala tiga itu menatap kami bingung,


Anak siapakah mereka? Itu yang aku tangkap dari raut wajahnya dengan di gambarkan kening berkerut itu.


"Sini makan sama emak, ada tamu juga nih," ibu menarik putranya itu ke arah meja makan.


"Nanti dulu mak, Bima cuci muka dulu,"

__ADS_1


DEG....


Dadaku tiba-tiba berdebar dengan cepat, ada yang tak beres, orang ini terlihat tak asing. Mungkinkah dia orang yang kami cari.


"Iyolah, capek dih, lah tu makan wak lu," (iya, cepat ya, sudah itu makan kita lagi,)


"Adih mak, (Siap mak/Oke mak).


Aku menatap punggung Bima dari kejauhan, aku benar-benar merasa kenal dengan postur tubuh orang itu. Apakah benar dia yang di cintai Sendi? Dia terlihat biasa saja, tapi kenapa malah menjadi rebutan? Selera orang dulu memang berbeda.


"Alah? Yok makan,"( Sudah? ayok makan).


Walau kami saling tatap menyelidik namun berakhir dengan suapan nasi yang masuk ke mulut. Sepenasaran apapun, yang namanya mulut tak boleh berhenti mengunyah.


🐾🐾🐾🐾


"Kalian berasal dari mana?" tanya Bima setelah selesai membantu ibuk membersihkan piring.


Sebagai tamu yang baik, kami tentu tak boleh diam saja, harus membantu walau hanya mengangkat piring ke dapur.


"Kami dari kota pak," jawab ku mewakili Rani yang masih sibuk membiarkan perutnya mencerna semua makanan yang telah masuk ke perutnya.

__ADS_1


"Ooh ya siapa nama kalian?" tanyanya lagi.


"Saya Risa dan adik saya namanya Rani, kalau bapak?" pertama-tama memastikan benarkah dia Bima atau tidak.


"Kalian bisa panggil saya Pak Bima," mendengar itu aku tersenyum lega. Ini adalah Bima pertama yang kami temukan. Tak tau apakah orang yang tepat atau tidak.


"Kalau begitu boleh saya bertanya pak? Kami kesini sedang mencari seseorang yang seusia dengan bapak dan namanya juga Bima, mana tau, bapak orang yang kami cari," aku benci bertele-tele, mari to the point saja.


Rani menatap Bima mengharapkan dia lah jawaban dari Liya.


"Oh begitu... Apa yang mau adek tanyakan?" syukurlah sepertinya orang ini baik dan mudah di ajak berbicara santai.


"Bapak kenal orang yang ada di foto ini," Rani menyodorkan foto yang dia simpan di dalam tasnya.


Foto Sendi dan Liya yang kami temukan di dalam album nenek. Sampai sekarang kami tak tau kenapa ada foto mereka di album nenek, aku lupa bertanya tentang itu dan hanya fokus mencari Bima.


Wajah Pak Bima tiba-tiba berubah sedih, seperti ada yang membebaninya selama ini. Apakah dia Bima yang kami cari? Di lihat dari raut wajahnya yang langsung berubah sepertinya kami tidak salah orang. Kalau memang benar, berarti kompas itu luar biasa.


"Dari mana kalian mendapatkan foto ini? Apa hubungan kalian dengan mereka?" Bukannya mendapatkan jawaban kami malah di berikan pertanyaan.


Jujur saat ini wajahku dan Rani tak bisa menutupi rasa kesal kami. Yang kami butuhkan bukan pertanyaan. Namun terkadang, manusia suka sekali bertele-tele seperti ini. Memuakkan.

__ADS_1


__ADS_2