
Ketika adzan berkumandang, Rani sudah sampai di depan pintu rumah nenek. Terlihat dari raut wajahnya kosong dan sendu. Ibu yang duduk di teras rumah yang di sediakan kursi di sebelah kiri segera menghampiri putrinya yang terlihat sangat lelah itu.
"Adek,kamu kenapa? Kok sedih gitu? Mana Rudi sama Kelvin?" Ibu memegang kedua pundakku, meminta penjelasan. Rani yang masih dalam suasana hati yang kacau tak menjawab pertanyaan ibu. Dia malah mengalihkan topik pembicaraan.
"Bu, Rani shalat dulu ya, itu sudah selesai adzan," Rani menatap mata ibu yang penuh tanya. Tapi ibu bisa apa? Sepertinya Rani belum siap untuk cerita, ibu tak mau memaksa putrinya jika dia belum mau cerita. Nanti tanpa di suruh Rani pasti akan cerita jika sudah merasa baikan.
Setelah Rani selesai shalat, ibu menghampiri anak bungsunya itu. Dia sudah membawa nasi beserta lauknya tak ke tinggalan air minum untuk Rani.
"Sini sayang,duduk di samping ibu, kamu makan ya," Rani berjalan ke arah ibunya dengan muka yang masih di tekuk. Perlahan dia suap nasi ke dalam mulutnya walau tak ada selera sama sekali. Dia tak mau sakit jika tak makan, kalau dia sakit akan menambah ke khawatiran orang tua mereka. Cukup Risa yang menjadi prioritas sekarang. Rani tak mau menambah beban keluarganya lagi.
"Sayang ada yang mau di ceritaik ke ibu gak?" Setelah mendeguk air yang ada di gelas sampai habis Rani menatap ibunya lekat. Tanpa dia sadari air mata merembas turun dengan gampangnya ke pipi gadis kecil itu.
"Bang Rudi sama bang Kelvin pergi cari kak Risa, Rani gak bisa ikut," ibu langsung memeluk Rani dan mengusap kepala putrinya dengab lembut. Mendengar penuturan Rani dia semakin khawatir, karena sekarang bukan hanya Risa yang menghilang tapi Rudi dan Kelvin juga ikut tak ada kabar. Bagaimana ini? Semoga saja mereka bertiga baik-baik saja. Tapi bagaimana nanti jika orang tua Kelvin menanyai kabar anaknya? Apa yang harus ibu jawab? Ini benar-benar tak sesuai keinginan mereka.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan Rin?" Ibu mengencangkan pelukannya, hatinya sekarang benar-benar kacau, tanpa di sadari tubuh ibu mulai bergetar menahan tangis dan ke khawatirannya.
"Ibu jangan khawatir, kita berdoa saja, aku yakin bang Rudi dan bang Kelvin bisa menyelamatkan kakak dan diri mereka sendiri," entah dari mana keyakinan itu muncul, dia berkata seolah-olah begitu yakin dengan Sherly, padahal dia sendiri juga tidak tau bagaimana ending dari cerita ini. Dia harap bisa bertemu kakaknya lagi dan bukan dalam wujud hantu tapi dalam keadaan sehat tanpa kurang apapun.
"Kamu yakin sayang?" Ibu mengelus kepala Rani pelan.
"Yakin bu, hmm.. Rani mau keluar sebentar cari angin ya bu," kata Rani. Lalu berjalan menghampiri pintu utama setelah mendapat persetujuan dari ibu. Rani berdiri di dekat salah satu tiang penyanggah rumah yang sudah tua itu. Dia menatap langit yang sudah gelap dengan bintang yang muncul tidak terlalu banyak. Dia kemudian mengedarkan pandangannya ke langit, namun tak menemui bulan. Padahal dia sangat ingin melihat bulan. Kesukaannya itu di dasarkan oleh Risa, dulu saat Rani stress dengan kemampuannya yang melihat makhluk tak kasat mata, Risa selalu membawa Rani ke teras rumah setiap malam hari. Risa memeluk.adik kecilnya itu dari belakang, dan bilang
" Saat kamu merasa kacau, sedih, putus asa, takut. Coba deh pandang bulan. Bukankah bulan terlihat cantik? dengan bentuk bulat sempurna dan sinar yang tidak menyilaukan mata, sehinhga membuat kita bisa puas memandangnya berapa lama pun itu. Kamu juga bisa belajar dari bulan Ran, lihat deh, dia sendirian di antara berjuta bintang yang serupa. Hanya bulan sendiri yang berbeda. Dia sendirian di tengah hamparan langit yang luas. Tapi dia tidak pernah bersedih, karena dia tau, ada jutaan manusia di bawah sana yang bersukur atas ke hadirannya. Sinarnya yang menerangi mereka yang takut di gelap malam. Sinarnya yang memberikan sensasi rileks buat mereka yang menatap bulan. Bahkan bulan juga tau, bahwa ada beberapa orang yang mungkin mencoba mengobrol dengannya di saat orang itu sedih dan sendirian. Walau tak bisa menemani secara langsung, setidaknya bulan sudah dapat hadir di tengah kegundahan orang-orang tersebut. Begitu juga kamu Ran, kalau sedih, kamu bisa cerita ke kakak, kalau merasa gak nyaman kamu bisa cerita sama bulan. Mungkin dia tidak dapat membalas kata-katamu tapi setidaknya dia mau menjadi pendengar setiamu. Jangan sedih lagi adik kakak," Risa mengeratkan pelukannya saat itu kepada Rani.
"Kau merinduinya? Kalau begitu susul saja," tiba- tiba ada suara seseorang yang seakan-akan berbisik di telinga Rani, dan Rani sadar itu bukan manusia. Dia menelan ludahnya dengan di iringi rasa takut. "Sial, di saat kayak gini kenapa harus ada yang ganggu sih," Rani berbisik kepada dirinya sendiri.
"Oho... apa kau mendengar ku?" Suara itu mulai meninggikan nadanya, hingga membuat Rani menghela napasnya. Rani berdiri dari tempat duduknya. Berniat masuk ke rumah dan pura-pura tidak mendengar apa pun. Saat Rani membalikkan badannya menuju pintu, dengan ke adaan kepala tertunduk, Rani tertegun dan tak jadi melangkah. Kali ini di depannya ada kaki yang mengambang, dengan celana panjang berwarna coklat yang sudah kotor oleh tanah dan tercabik-cabik seperti gembel. Kaki itu tak menyentuh tanah dengan berarti itu bukan manusia.
__ADS_1
'Apa yang harus ku lakukan?' Tanya Rani pada dirinya sendiri. Dia memejamkan matanya dan dalam beberapa detik. Dia berani melangkahkan kakinya ke depan dalam keadaan mata tertutup. Iya, Rani menembus hantu itu. Berharap dengan begitu hantu itu tidak sadar bahwa Rani melihatnya.
"Oho.... apa dia tidak bisa melihatku?" Suara parau itu terdengar lagi saat Rani sudah sampai di ambang pintu. Tanpa menunggu lama Rani melompat masuk dan menutup pintu dengan rapat. Rani terdiam di depan pintu dengan jantung yang berpacu cukup cepat. Tangan Rani masih dengan nyamannya memegang kenop pintu.
"Itu tadi hantu apa?" Batin Rani.
"Apa dia sudah pergi?" Rani penasaran dan memilih mengintip lewat jendela yang tertutup tirai polos berwarna merah hati.
"Srek.." Rani membuka tirai jendela dengan posisi kepala agak di dekatkan dengan jendela.
"Aaa...." Rani terduduk di atas lantai dengan ke adaan tirai jendela masih terbuka yang menunjukkan ada kepala tanpa badan yang di pegangi dengan tangan berlumuran darah di depan jendela. Wajah itu tersenyum merasa puas karena dugaannya benar, Rani gadis kecil itu bisa melihatnya. Hantu itu terus melebarkan senyumannya dengan sekali-kali menggoyangkan kepala itu dengan kedua tangan berlumuran darah itu.
"Oho... aku hampir tertipu olehmu bocah," Samar -samar Rani mendengar ucapan hantu itu. Sedangkan ibu yang baru keluar dari kamar mandi langsung berlari ke arah Rani yang terduduk di atas lantai dengan posisi badan di tumpu kedua tangannya.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa?" Ibu bertanya dengan penuh kecemasan. Namun yang di tanya hanya diam dengan mata masih fokus ke arah jendela. Jujur perut Rani mual saat ini, tapi entah kenapa dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari hantu itu karena yang sekarang terpikir di kepalanya adalah... "Apa itu kakek Tarjo?" Pertanyaan itu meluncur bebas dari mulut Rani, yang membuat ibu mengerutkan keningnya.
"Apa yang di inginkan hantu sialan itu?" Kata Rani. Sepertinya dia mulai muak dengan penglihatannya yang bisa melihat hal mengerikan setiap hari. Dia mulai terbiasa dan mulai mati rasa akan rasa takut pada hantu-hantu menjijikkan itu. Dia mulai tak peduli, sekarang rasa yang timbul bukan takut tapi jijik. Dia tak mengerti kenapa Tarjo masih gentayangan? Apa tang ingin arwah Tarjo lakukan? Rani di landa kebingungan.