
Rani tertegun duduk di depan pintu utama rumah nenek. Dagunya di pangku oleh kedua telapak tangan Rani, tenaganya belum sempurna terkumpul tapi si kakak memintanya untuk kembali memompa tenaga yang belum utuh itu.
"Harus sekarang kah kak?" Tanya Rani yang masih belum mau beranjak dari duduknya.
Walau Risa sudah memanggilnya untuk ikut berkali-kali, namun sayangnya pinggul Rani bagaikan di lem, tak mau terlepas dari lantai.
"Iyalah Ran, lebih cepat lebih baik, kakak mau tidur nyenyak... Capek terus di gangguin Liya," mendengar penuturan kakaknya Rani mendengus kesal.
Mau tak mau dia berdiri dari tempat duduknya. Dan menyusul kakak yang sudah berdiri di tengah halaman nenek dengan di lengkapi tas ransel berisi album foto keluarga mereka. Album foto ini harus di bawa dan di lihatkan kepada ibu Liya, apa sebenarnya yang dia rahasiakan nenek, dan mengapa ada foto Liya dan Sendi di albun foto keluarga nenek.
Rani berjalan di belakang kakaknya dengan mulut yang masih manyun, Risa yang menyadari itu hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu. Walau terpaksa dia tetap mau berjalan mengikuti Risa, untung saja dia tak meminta di gendong karena malas.
"Kakak emang tau kita mau kemana?" Tanya Rani di tengah perjalanan.
Sedari tadi Risa tak menjelaskan kepadanya akan pergi kemana, kiri kanan di hiasi semak-semak berwarna hijau, dan sekali-kali bertemu tanaman putri malu. Iseng, Rani menyentuh daun putri malu itu dengan kakinya, dan dalam sekejap daun putri malu menguncup bersamaan.
"Ya mau ke rumah Mamanya Liya dong," kata Risa yang berjalan satu langkah di depan Rani.
__ADS_1
"Tapi kata Sendi kalau mau ketemu mamanya harus kasih tau dia dulu," Rani mengingat permintaan Sendi waktu di kamar mandi.
"Kakak tau," jawaban Risa sukses membuat Rani kaget.
Kapan kakaknya bertemu dengan Sendi?
"Tadi sebelum pergi waktu kamu di kamar mandi, dia datang,". kata Risa lagi.
"Dia bilang apa?" Tanya Rani penasaran.
"Dia bilang..."
Risa memasukkan album foto mereka ke dalam ransel yang sudah di sediakan, tak lupa air minum dan makanan untuk nanti siang. Saat asik mengumpulkan barang yang di perlukan, seseorang muncuk di dalam kaca dengan sendirinya.
Ini nyata! Aku bisa melihat hantu itu ada di dala m kaca dengan muka menyeramkan dan pelototoan.
"Entah apalah salah ku pada mereka,"
__ADS_1
"Apa yang kau mau Sendi?" Tanya Risa to the point.
"Aku akan membantu mu mencari ibu, tapi kamu juga harus membawa Liya,"
"Apa kalian ingin bertengkar lagi? Kalian tau gak sih? Manusia yang bertengkar aja susah melerainya, apa lagi kalian yang bukan manusia. Aku pasti akan sangat kelelahan."
"Tidak, Liya dan ibu harus sadar bahwa mereka salah memahami semua yang terjadi. Rasa benci yang membuat jarak di antara mereka adalah hal yang paling mengerikan."
"Oke, nanti aku akan memberi tahu mu, sekarang pergilah, aku mulai ngantuk lihat wajah serem mu itu Sendi"
FLASHBACK OFF
"Oh gitu toh, kakak udah tau kemana kita akan bertanya?" Tanya Rani memastikan posisi rumah mamanya Liya.
"Kita akan cari Bima, mungkin dia tau dimana keberadaan ibu Liya sekarang," jawab Risa mengingat-ingat.
"oke deh, tapi apa kakak yakin dia tau?
__ADS_1
"Yakin tak yakin harus percaya. Apapun yang terjadi,"