
Rudi langsung berlari dan dengan sigap meraih tangan kakaknya.
"Kak? Gak apa-apakan?" Tanya Rudi lalu melihat wajah Risa yang tiba-tiba berubah pucat.
'Ya Tuhan.... kenapa lagi ini?' Batin Rudi saat menyadari bahwa bukan hanya wajah kakaknya yang pucat. Tapi tangan Risa yang dia genggam juga berubah dingin.
"Rud... Itu..." Risa mengangkat telunjuknya ke arah atas tangga.
Rudi yang masih belum bisa melihat apa yang di tunjuk kakaknya hanya bisa berspekulasi kalau kakaknya sekarang sedang melihat hantu yang seram saja.
"Kakak lihat hantu ya?" Tanya Rudi meyakini hatinya.
"Apaa... aa... apa.. itu Iblis?" Tanya Risa, beriringan dengan kakinya yang tiba-tiba bergetar hebat, saat menyadari bahwa Iblis itu berjalan menuruni tangga mendekatinya.
"Iblis?" Rudi bertanya lagi, namun kali ini, entah kenapa rasa takut muncul. Rudi menggenggam tangan kakaknya erat.
Jika benar itu iblis, maka hal buruk pasti akan terjadi. Untuk menghindari itu, Rudi menarik tangan kakaknya, berusaha membawa Risa untuk keluar dari rumah itu.
Tapi....
Tiba-tiba kaki Rudi tak bisa di gerakkan. Seperti ada yang menguncinya, begitu berat, bahkan tak bisa di angkat walau sedikit saja.
"Apa ini!" Rudi menggerutu kesal, saat menyadari usahanya hanya sia-sia.
"Rudi! Pergi dari situ!," Sintia berteriak dari dalam ruangan yang entah kenapa kakinya pun tak bisa bergerak dari situ.
"Kaki gue gak bisa gerak!," Rudi berteriak frustasi, mengingat situasi kali ini benar-benar mengerikan.
"Apaa yang sebenarnya terjadi?" pikir Risa.
Bukankah tadi Sintia bilang, situasi sudah terkendali? Seharusnya Iblis ini mati, kenapa dia ada di sini sekarang.
Keringat bercucuran di pelipis Risa, melihat iblis yang bertubuh besar itu makin dekat dengannya.
Tanduk yang bertengger di kedua sisi kepala iblis itu, tatapannya yang sangat menakutkan, dengan tangan panjangnya yang mungkin saja bisa membunuhnya sekali pukul saja.
__ADS_1
"HEHEE... HEHE... WAAH... AKU MENDAPATKAN INANG YANG LEBIH BAGUS DARIPADA ANAK LAKI-LAKI ITU, BERSIAP-SIAPLAH, UNTUK MATI," Tatapan iblis itu hanya mengarah pada Risa seorang .
"DUUUH!!! AHMAD!!!SADAR DONG!," Di sisi lain, Sintia berteriak histeris melihat Ahmad yang masih setia pingsan di samping Naell yang sudah tak sadarkan diri itu.
"BRAAK..." Semua pandangan teralih ke arah Rudi yang tiba-tiba melayang dan menghempas dinding dengan kuat.
Rudi meringis kesakitan, matanya tiba-tiba berkunang-kunang. Pandangannya sempurna menghilang saat tak sengaja melihat darah yang sudah mengalir di pelipisnya. Iyap! Dorongan dari iblis itu benar-benar kuat.
"Rudi!," Risa tiba-tiba susah bernafas melihat adiknya seperti itu.
Dia memejamkan matanya pasrah, saat menyadari Iblis itu hanya tinggal beberapa langkah darinya..
"Tuhan.... apa ini akhirnya?" gumam Risa menahan rasa takut yang sudah bergejolak itu.
"Ahmad!!!" Sintia benar-benar kehilangan akal kali ini.
Hanya Ahmad yang bisa menghentikan iblis itu. Di tambah lagi, ada beberapa arwah yang ingin masuk ketubuh Naell, dan itu hanya Risa yang bisa menghalanginya dan membawa arwah itu untuk pulang ke alamnya.
Kalau Iblis itu berhasil mendapatkan Risa, maka semuanya akan berakhir. Dan Sintia tak mau itu semua terjadi.
Dia muak dengan dirinya yang tak bisa melakukan apapun, dan harus bergantung dengan cowok yang pingsan itu.
🐾🐾🐾🐾🐾
Sedangkan di luar rumah itu, terlihat Kelvin dan Rani yang sudah bertengkar dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka ingin masuk, tapi takut memperburuk suasana.
"Gimana kondisinya Ran? Kamu udah kasih tau Sintia?" tanya Kelvin pada Rani yang ada di sampingnya.
"Rani udah kasih tau kak Sintia bang, sedangkan auranya makin lama makin pekat, warna hitamnya makin gelap" Jawab Rani yang terus menengadah melihat wujud rumah yang ada di depan mereka itu.
"Terus, Risa gimana?" Tanya Kelvin yang khawatir dengan gadis pujaan hatinya itu.
Rani yang mendengarkan itu hanya menggelengkan kepala tak tau, dia belum mendapatkan kabar dari Sintia lagi.
"Aneh," Rani tiba-tiba berbicara setelah mendiami pertanyaan Kelvin.
__ADS_1
"Apanya yang aneh?" Tanya Kelvin penasaran.
"Lihat deh, kompasku jarumnya berputar terus, dan ini lebih cepat dari biasanya, aku rasa ada hal buruk yang akan terjadi," Wajah Rani berubah panik.
Apalagi saat dia ingat perkataan Sintia kalau kakaknya Risa, sangat rentan untuk di dekati dan di lukai makhluk halus, di tambah lagi, dengan kenyataan bahwa ada beberapa hantu yang bisa membunuh.
"Rani harus masuk, Rani gak mau sesuatu terjadi sama kak Risa," Rani baru saja melangkah ingin masuk. Tapi tangannya di tahan olwh Kelvin.
"Jangan sendiri, abang ikut," Kali ini Kelvin yang berjalan di depan, dengan tidak melepaskan tangan Rani.
Dan tak lupa dia mengambil senjata berupa tangkai sapu yang dia patahkan. Menyisakan ujung runcing di bekas patahannya.
Dia tak punya keahlian gaib seperti yang lainnya, tapi setidaknya dia bisa membantu walau dengan sebilah kayu ini.
"Ayo," Kata Kelvin setelah tiba di depan pintu besar itu.
"KAK!," Rani berteriak histeris melihat aura hantu itu yang mulai mendekati kakaknya.
"Sintia! Apa yang harus aku lakuin!!!!" Rani terduduk di tempatnya saat menyadari dia tak bisa mendekat sekarang.
Jika dia mendekat sekarang, dia akan bernasip sama dengan Rudi yang terbaring pingsan. Yang ada bukannya nyelamatin kakaknya, malah buat masalah makin runyam.
Sintia menutup kedua mukanya dengan telapak tangan mungilnya itu. Kali ini, lagi-lagi dia bertemu dengan yang namanya keputusasaan. Sintia menangis, menyesali sifat sok beraninya selama ini.
"Apa aku masih punya kesempatan?" Tiba-tiba sebuah suara menyapa telinga Sintia.
Dia langsung mendongakkan kepalanya. Kali ini dia bersyukur untuk pria yang ada di depannya itu. Kali ini dia akhirnya tersenyum bahagia menatap Ahmad yang sadar.
Dengan air mata yang masih menetes, Sintia menjawab pertanyaan Ahmad dengan anggukan.
"Tolong selamatkan kak Risa, walau harus mengorbankan nyawamu," kata Sintia, lalu kembali terisak.
Ahmad mengangguk dan berlari keluar, iya, tubuh Ahmad tak di tahan oleh Iblis itu, karena dia mengira kalau Bima tak akan bangun secepat itu.
🐾🐾🐾🐾
__ADS_1