
FLASHBACK OFF
POV AUTHOR
"Aku... aku harus bagaimana?" Hantu yang namanya Sendi itu menangis terisak dan terus mengulang kalimat yang sama 'Aku harus bagaimana?' Dis terus memukuli kepalanya dan kembali menghilang.
Bersama kebingungan dan rasa bersalah menjalari hati Sendi. Entah itu merasa bersalah karena tak mempercayai adiknya, atau merasa bersalah karena tak menyelamati adiknya waktu kebakaran itu, atau merasa bsrsalah karena menyalahkan Liya akan penyebab kematian ayahnya.
Sendi tak tau, dia memilih pergi menyendiri untuk beberapa waktu. Hantu pun kadang butuh waktu sendiri. Mereka juga punya masalah yang harus di diskusikan dengan diri sendiri.
"Dia pergi?" Tanya pak Bima kepada Risa dan Rani.
"Sekarang aja baru ingat kami, sedari tadi bapak kemana?" Rani mengambek dan membelakangi pak Bima.
"Ayolah Ran, ini bukan saatnya memikirkan perasaan kesal, kamu lihat gak? Sendi menghilang begitu saja, kita bisa apa sekarang? Hari juga sudah semakin gelap," kata Risa berusaha membujuk adik yang mudah ngambek ini.
"Iya deh kak, Terus sekarang gimana caranya nyari Sendi? Kan dia gak ada bilang mau pergi kemana?" kata Rani dengan muka sok bingung.
__ADS_1
"em... kita pikirkan besok, sekarang kita harus pulang, nenek pasti Khawatir," usul kh kepada adik kecilku itu.
"Oke sih, tapi gimana pulangnya? kitakan gak bawa kendaraan," kata Rani lirih.
" Ya udah nanti bapak antar. Sekarang kita pulanh aja ke rumah bapak," Bima berjalan di depan, menuntun anak-anak itu agar tidak tersesat.
"Pak, hapus dulu darah yang udah mengering di muka bapak," Rani mendekat, memberikan tisu basah yang sering dia bawa.
Bima mengangguk, dan membersihkan mukanya dari darah yang sudah mengering. Tadi begitu sakit, tapi sekarang, rasanya biasa-biasa saja. Seakan-akan tak terjadi apa-apa.
"Apakah bapak masih bisa melihat hantu?" tanyanya pada Risa yang sedari tadi hanya diam.
Ada banyak hal yang harus dia fikirkan, bagaimana caranya untuk membuat kedua saudara ini berbaikan lagi? Dan bagaimana mencari mama Liya? Untuk menanyai apa alasannya membenci Liya? Bahkan dari kecil, sebelum ayah Liya wafat, Liya sudah tidak di sukai ibunya.
Bahkan ibunya berusaha sebisa mungkin agar ayah mau pun Sendi tak menyayangi Liya lagi. Liya hanyalah gadis malang, korban dari pemikiran egois dari keluarganya.
Gadis malang itu, sekarang belum terdengar kabar, Risa kira, Liya akan mengikutinya sampai ke sini. Ternyata tidak, apa dia takut dengan Sendi?
__ADS_1
Entahlah, hanya mereka yang tau.
🐾🐾🐾
POV RISA
"Kalian pulang juga, nenek khawatir," nenek memeluk kami berdua.
Nenek penuh dengan kasih sayang. Membuat kami benar-benar nyaman bersamanya. Benar kata mama, nenek memiliki hati yang lembut namun begitu tegas. Kadang kalau kita tak bisa membuat kesalahan di depannya. Kata mama, nenek tidak suka berbagai macam alasan.
"Iya nek, maaf ya bikin khawatir," aku membalas pelukan neneknya.
"Gimana udah selesai masalahnya?" Tanya nenek sambil melepaskan pelukannya dari kedua cucunya itu.
"boro-boro selesai nek, Sendinya malah menghilang tiba-tiba. Gimana coba mau carinya," kata Rani curhat.
"Tenang aja semuanya pasti ada jalan keluar, kalian tinggal harus bersabar dan berusaha ya sayang," nasehat nenek yang kami balas anggukan saja.
__ADS_1
"Mandi, makan dan lalu istirahat, kayaknya kalian lelah banget,"
"Siap nek!"