
Risa membuka matanya, cahaya yang silau langsung masuk ke dalam kelopak mata Risa bahkan sebelum sempurna terbuka.
Benar-benar silau.
"Sudah sadar?" Risa yang sebelumnya belum sempurna sadar, dalam sekejap kesadarannya langsung terkumpul sempurna setelah mendengar suara seorang laki-laki ada di dekatnya.
Risa langsung duduk dari tidurnya, tanpa di suruh Risa langsung menoleh ke arah asal suara.
"KAU!," Risa langsung menunjuk ke arah orang yang berbicara tadi.
Orang yang di tunjuk hanya menatap dengan tatapan kosongnya.
"Kau ..... kau.... Nathan?" Risa bertanya dengan nada yang benar-benar tak percaya.
Risa sangat yakin bahwa Nathan adalah pria pemain piano itu, walau agak sedikit memiliki perbedaan di wajah mereka, tapi Risa yakin bahwa Nathan pasti sudah meninggal.
"Iya," Jawab Nathan singkat tanpa berniat basa basi.
"Bukankah kau sudah mati?" Tanya Risa lagi dengan nafas yang susah sekali di hirup, Risa sudah ngos-ngosan seperti baru saja habis maraton puluhan KM.
Mendengar perkataan Risa, Nathan langsung memberikan tatapan tak bersahabatnya, dia seperti tak terima dengan apa yang di katakan Risa tadi.
__ADS_1
"Kau marah? Apa aku salah bicara?" Risa sekarang benar-benar ingin keluar dari ruangan ini secepatnya.
Risa sekarang berada di UKS, namun sayang tak ada siapa-siapa di sini, hanya ada dia dan Nathan yang tidak tau masih hidup atau tidak.
"Jangan sembarang bicara Risa, aku muak jika di bilang sudah mati!" Nada bicara Nathan sukses membuat nyali Risa ciut.
Nada dingin tak bersahabatnya itu terdengar sangat menakutkan dengan intonasi rendah.
"Maaf, aku kira kau sudah mat..." Risa menutuo mulutnya saat melihat Nathan langsung melebarkan matanya tak suka saat Risa akan menyebut kata Mati lagi.
"Kau sudah bangun, sekarang pergilah," Nathan berdiri dari duduknya, dia berbicara seperti tuan rumah yang baru saja mengusir tamu tak di undang.
"Bukan, tapi salah satu guru yang membawa kau kemari," Jawab Nathan enggan.
"Oh begitu, lalu kenapa kau tau namaku? Tadi kau menyebut namaku," Risa masih ingat dengan pertanyaannya yang ingin dia ajukan.
Agak sedikit aneh sih, dia bahkan tak pernah berbicara satu kata pun dengan Nathan semasa sekolah dulu, mereka bahkan tak pernah satu lokal, dan bahkan nyaris tak pernah bertemu kalau saja Nathan tak ada di ruangan musik saat Risa kebagian waktu giliran membersihkan ruangan itu. Pada garis besarnya mereka benar-benar orang asing yang tak saling kenal. Namun kenapa Nathan tau namanya? Risa tau nama Nathan itu wajar, karena Nathan cukup terkenal di sekolahnya, terkenal dengan pribadi pendiam dan wajah tampan itu. Sedangkan Risa? Aneh jika orang biasa dan tak mencolok seperti Risa di kenali oleh orang lain yang bahkan nyaris tak peduli dengan lingkungan sekitarnya seperti Nathan ini.
"Aku tau kamu dari Linda," jawab Nathan yang sukses membuat Risa kaget bukan kepalang.
__ADS_1
"Seberaoa dekat kamu dengan Linda?" Tanya Risa penasaran.
"Lebih dekat dari pada apa yang kamu bayangkan," wajah Nathan terlihat sedih kali ini. Seperti ada kesedihan yang belum bisa lepas dari hatinya.
"Benarkah? Lalu kenapa kau ada di sekolah?" Tanya Risa untuk yang kesekian kalinya.
"Bisakah berhenti bertanya? Kau sangat cerewet! Jika kau benar-benar penasaran cari taulah sendiri, karena tanpa aku kasih tahu pun aku yakin kau pasti akan mengetahuinya," Jawab Nathan lalu berlalu begitu saja, meninggalkan Risa terpaku di atas ranjang UKS.
Risa tak tau mau berkata apa, dia hanya bisa menatap punggung Nathan yang langsubg menghilang dari balik pintu, Risa meremas kepalanya lagi, dia benar-benar tak suka dengan masalah yang tak kunjung menemukan jawaban ini.
"Masalah Liya belum selesai, malah sekarang di tambah masalah Nathan, apa hubungan Nathan dengan Linda? Apa benar Nathan masih hidup? Lalu siapa pria yang hadir di mimpi ku? dan siapa pria yang aku lihat di ruangan musik waktu itu? Siapa pria yang bermain dengan jari berdarah? Oh Tuhan, apa aku bisa mempercayai Nathan? Pria dingin itu?"
Risa tak begitu pintar, tapi kenapa dia di berikan teka-teki serumit ini? Kenapa harus bermain teka-teki dengan hantu -hantu itu? Liya, gadis kecil itu saja belum bisa dia bantu, sekarang malah timbuk masalah baru.
BRAAK...
Sesuatu terjatuh dari samping Risa, saat Risa akan beranjak turun dari ranjang. Mata Risa membulat tak percaya, itu adalah kotak yang dia ambil di masalalu tadi. Kotak itu milik Nathan!
"Kok ada sama aku?" Risa mengerutkan keningnya kesal.
"ARGH... Ayolah, jangan bilang aku harus selesaikan masalah dari kotak ini juga!" Risa memukul kepalanya kesal.
__ADS_1
Kali ini kesabarannya benar-benar di uji.