Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Masuk!3


__ADS_3

"Karena senjata itu awalnya milik Kintan, senjata itu masih akan tetap menurut sama pemilik awalnya, akan bisa membunuh hanya dengan tangan pemiliknya. Dan Kintan belum memberikan Pedang itu padamu, maka pada intinya kamu tidak bisa membunuh Tarjo, senjata itu masih menurut dengan Kintan. Jadi harus kintan sendiri yang menancapkannya," Kata Nenek dari arah yang tak Rani ketahui.


"Lalu bagaimana caranya agar senjata itu mau menurut pada Rani?"


"Pemilik awalnya harus menyerahkan dengan sukarela atau pemiliknya harus sudah mati," untuk yang kesekian kalinya mata Rani bergetar lagi.


Tidak mungkin untuknya membunuh Kintan yang notabennya masih seorang manusia. Dia tak ingin menjadi pembunuh.


"Kamu tau kan sayang, tidak mungkin membunuh Kintan, jadi lakukan sebisamu bagaimana caranya agar pedang itu bisa menancap ke kening tarjo dari tangan Kintan sendiri," Rani terdiam. Dan suara nenek tak terdengar lagi. Pembicaraan mereka telah selesai.


Dan Rani di tinggalkan dengan pemikiran buntunya.

__ADS_1


"Kenapa dek? Kok kamu kayak orang bingung gitu? Kenapa sih? Coba cerita," Risa mengusap bahu Rani pelan.


Rani menggigit bibirnya gelisah, harapan yang tadinya terlihat begitu terang kini seketika berubah gelap. Kenapa begitu susah? Kalau memang pada akhirnya harus Kintan sendiri yang membunuh Tarjo kenapa nenek mengharuskannya pergi? Nenek membuatnya bingung terutama syarat dalam penyelesaian misi ini yang sama sekali tak masuk di akalnya.


"Bukan Rani, tapi harus Kintan sendiri yang membunuh Tarjo," kata Rani lirih, membuat semua orang yang mendengarkan ikut gusar seperti wajah Rani saat ini.


"Mustahil!," Rudi meracau kesal, dia sudah sangat takut sekarang! Tapi masalah tak pernah berhenti mendatangi mereka.


"Sudahlah, jangan putus asa dulu, semuanya pasti ada jalan keluar. Rani, kamu ada mendapatkan informasi lain?" Tanya Kelvin sambil menyemangati sekelompok manusia yang sudah pasrah untuk mati itu.


"Tidak bang, kalau ada nanti Rani kasih tau," Rani merasa tak berguna sekarang, dia mengutuk keadaan yang di luar dugaannya.

__ADS_1


Pertanyaannya masih sama saat ini, kenapa nenek menyuruhnya pergi jika dia tak bisa membantu membunuh Tarjo?.


"Jangan terlalu lama, sebentar lagi akan fajar. Kintan akan bangun, itu akan semakin mempersulit, tidakkah kalian tau pepatah yang bilang 'jangan terlalu lama berfikir tapi langsung bertindak saja?' "Sherly menyenderkan tubuhnya di pohon yang menjadi tempat persembunyian teman manusianya itu.


"Kau buat istilah sendiri? Jangan mengganggu jika tak membantu!," Sherly mendecak kesal saat Cika menjawab kata-katanya seperti itu.


Sepertinya manusia di zaman sekarang tak tau bagaimana bicara dengan baik dan tidak menyinggung orang lain. Entah orang tua yang tak mendidik mereka agar sopan atau kesalahan pergaulan yang tak benar. Anak-anak zaman sekarang sangat di luar kendali. Kurang ajar sekali! Tapi merasa paling benar!


"Cik, jaga cara bicaramu, dia sudah banyak membantu kita dari awal," Dimas sepertinya juga mulai jengah dengan perilaku anak-anak yang tak tau sopan santun ini.


"Ayo, kita masuk, ingat, sesuai rencana awal," Risa melihat perdebatan yang sepertinya akan di mulai lagi memilih untuk angkat bicara dan jalan duluan.

__ADS_1


Jika dia terus membiarkan kubu manusia dan kubu hantu ini berdebat, maka sampai fajar tiga kali pun takkan berujung kelar.


__ADS_2