Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Pria Pemain Piano - Episode 8


__ADS_3

Seperti mata-mata aku melihat kondisi rumah Nathan dari jauh dan sekarang sedang bersembunyi di belakang tiang listrik, tempat persembunyian yang sia-sia. Rumah itu cukup besar. Namun sayang rumah itu benar-benar tak terurus, halaman yang di tumbuhi rumput liar, dan dinding yang mulai berlumut. Suasananya cukup mengerikan bahkan di waktu siang seperti ini.


"Kelvin gak salah kasih alamatkan? Awas aja kalau dia bohong," aku memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat. Sepertinya lebih baik menjadi tamu dari pada menjadi mata-mata gadungan.


Belum juga kaki ku sempurna menyentuh halamannya yang di penuhi rumput tinggi itu, aku sudah di suguhi penampakan dua orang gadis tepat di depan pintu masuk.



"Ini rumah ada orangnya gak sih?" Aku mulai ragu melangkah, apa lagi saat melihat kedua gadis itu membalikkan badan saat menyadari kehadiranku, mata mereka putih, tak ada warna lain di mata mereka berdua. Awalnya aku kira kedua hantu ini buta, tapi siapa sangka dia malah berbicara padaku, benar, hantu itu yang berbicara. Gadis yang berbaju putih.


"Jangan masuk wilayah kami," dia mengacungkan telunjuknya ke arahku. Akibatnya aku menjadi ragu, masuk atau pulang saja.


Hati dan otakku beradu di saat yang mendesak, si hati bilang untuk tetap masuk karena sudah sampai sejauh ini, sedangkan otakku menyuruh pulang saja, kita tak tau apa yang akan di lakukan hantu itu jika berani masuk ke dalam.


"Aku gak ganggu kok, seriusan, cuman mau cari teman aja kok," aku mengangkat tanganku ke atas sambil membentuk huruf 'V' dengan jari tengah dan telunjukku.


Tak seperti perkiraan, hantu itu hanya diam dan kemudian berjalan membelakangiku, apa tadi cuman sekedar gertakan saja? Jangankan melakukan hal buruk padaku, berbicara saja tidak ada.


Sudahlah, dari pada memikirkan mereka yang tidak ada hubungannya dengan masalah ku, lebih baik aku mencoba mencari pemilik rumah. Mari kita lihat apa yang akan aku temukan saat mengetuk pintu rumah yang terbilang besar seperti istana tak terurus.


TOK TOK TOK...


Ketukan pertama aku menunggu, siapa tau ada yang menyaut dari dalam. Namun hening tak ada yang menjawab.


Ketukan kedua, masih tak ada reaksi dari dalam rumah. Jangan-jangan Kelvin memang salah kasih alamat. Aku mendorong pintu besar itu, berharap tidak terkunci seperti di film-film horor yang ku temui. Namun, ekspetasiku tak membuahkan hasil, pintu itu terkunci!


"Aish... Gimana dong? Udah sejauh ini masa iya salah alamat?"


Oke, satu percobaan lagi, kalau masih tidak ada yang membuka maka pilihan yang baik adalah pulang.


"permisi? Ada orang?" Kali ini aku bersuara memanggil si pemilik rumah yang entah ada atau tidak.


CKLEK....


Mataku membesar saat mendengar suara kunci yang di putar dari dalam. Apakah itu si pemilik rumah? Wah, semoga saja itu benar.


Seorang pria tinggi menggunakan topi berwarna hitam menarik pintu itu. Tingginya yang kisaran 175 cm dengan kulit putih berbaju hitam lengan pendek, tak ketinggalan celana jeans yang dia pakai, matanya menatap tajam ke arah ku, sedangkan aku menggigil di tempat tak percaya.

__ADS_1


Pria berkulit putih ini benar-benar membuat aku terkejut bukan main. Aku mundur satu langkah, perasaan takut mulai menguasaiku.


"Bukankah kamu sudah mati?"telunjukku mengacung ke arahnya, dengan kepala agak sedikit mendongak karena posisinya yang lebih tinggi dariku.


"Lo siapa?" bukannya menjawab pertanyaanku dia malah menodongku dengan pertanyaan. Wajah dinginnya membuat suasana menjadi semakin canggung. Aku yang tadi sudah menyusun rencana seketika menjadi buyar. Pria ini mampu membuatku takut cukup hanya dengan tatapan mengintimidasinya itu.


"Aku... anu... itu... tadi..," sial! Dialog yang sudah aku rencanakan sedari kemarin lenyaplah sudah.


Kenapa auranya menakutkan?


"Apaan? Lo ada keperluan apa hah? Kalau gak ada pergi sana, nganggu tau gak," pria itu tetap berdiri di ambang pintu, dan berbicara dengan kasar tanpa berniat bicara baik-baik denganku.


"Tunggu, aku..."


'DUAAR.....'


"Eh?" Baru saja mau melanjutkan kalimat, suara petir duluan memotong kalimatku.


Perasaan tadi cuaca lumayan cerah, semenjak kapan tiba-tiba menjadi mendung? Apa aku sedari tadi terlalu fokus dengan rumah tak terurus ini.


"Gini, aku tadi, ee... gak sengaja kesasar, tambah lagi, sekarang juga hujan,"


"Lalu? lo berharap belas kasihan gua gitu? maaf, saya gak peduli," Pria itu menjawab dengan nada ketusnya yang membuat aku sedikit kesal.


Orang ini gak berperikemanusiaan banget sih!


"Tunggu dulu!," aku menahan pintu yang mau di tutup. Melihat apa yang aku lakukan orang itu menatapku tak suka.


Aku tau, kali ini aku sudah cukup lancang, tapi mau bagaimana lagi? Pria ini cukup membuatku semakin penasaran, apa lagi dengan wajahnya yang sangat mirip dengan Nathan!


Ya! Mungkin kah dia saudara kembar Nathan? Tapi aku tak pernah mendengar tentang itu selama sekolah, dan Kelvin pun tak pernah bercerita kalau Nathan memiliki saudara kembar.


"Gua udah bilang, gua gak peduli, jadi bisa lepasin tangan lo? " Aku menelan salivaku takut.


Tapi bukan aku namanya kalau tak nekad, ayolah! Aku sudah sejauh ini berjalan masa iya cuman mendapatkan bentakan dan di usir? Ini bukan yang aku mau.


Dengan kuatnya aku mendorong pintu itu dan nyelonong masuk. Pria yang mirip Nathan ini mungkin tidak akan memperkirakan aku akan mendorong pintu sehingga dia kelihatannya kaget dan sangat marah.

__ADS_1


"Lo gak punya etika ya! Gak di izinin masuk malah maksa, sekarang lo keluar, atau gua bakalan kasar sama lo," mendengar bentakan dan ancamannya membuat aku sangat takut sekarang.


Rumah yang besar ini membuat suaranya bergema, menambah suasana yang ngeri menjadi semakin horor. Apalagi aku gak tau dia ini Nathan yang sudah mati atau bukan.


"GUA BILANG KELUAR! LO GAK DENGER YA?" kali ini suaranya yang berat itu menusuk gendang telingaku. Dia berteriak dan mukanya memerah karena marah, sepertinya aku sudah melanggar batas privasinya. Menyelonong masuk ke dalam rumah ini ternyata bukan ide yang bagus.


Kaki ku gemetaran di tempat, aku membuang pandanganku dari wajahnya dan memilih melihat sekeliling. Rumah ini memang besar, namun bedanya di dalam sangat rapi, berbeda dengan kondisi luar rumah yang tak terurus itu.


Apa si pemilik rumah sengaja membuat rumahnya seperti tempat tak berpenghuni? Lihatlah, tempat seelegan dan semewah ini terletak dalam rumah yang di duga angker dan kosong.


BRAAK...


Di luar dugaan ku, ternyata pria ini melakukan apa yang dia katakan, dia tidak main-main dengan kalimatnya. Kali ini aku di dorong dengan kuat. Lutut ku terasa nyeri, dan telapak tanganku sepertinya terkilir karena tiba-tiba saja menopang tubuhku yang terjatuh tanpa aba-aba.


"Lo gak punya hati ya! Aku perempuan! Kasar banget sih!," Aku berteriak ke arahnya sambil memegang pergelangan tanganku yang terasa ngilu sekali.


"Gua udah ngingatin lo dari awal, tapi lonya aja yang gak punya telinga! Sekali lagi gua bilang untuk pergi dari rumah gua, atau gua sendiri yang bakalan nyeret lo keluar? Mau?" dia melangkah mendekat dengan tangan menggepal.


Aku harus pergi, setidaknya aku harus sadar diri kalau dia laki-laki dan aku perempuan, itu saja sudah jelas aku bakalan kalah. Apa lagi tenaganya tadi saat mendorongku, langsung mampu membuat pergelangan tanganku terkilir dalam sekali dorong.


Dengan cepat aku memapah tubuhku sendiri untuk bisa berdiri, sebelum keluar dari rumahnya aku sempatkan melihat wajahnya dan memberikan tatapan sinis. Emangnya dia aja yang bisa menatap orang kayak gitu? Aku juga bisa kok.


Setelah sampai di luar rumah itu, pintu langsung tertutup begitu saja, tak ada ucapan selamat tinggal dari si pemilik rumah, dia benar-benar sombong dan kasar.


"Aduh, gimana mau pulang? Hujannya lebat lagi," Aku menghembuskan nafas kasar. Kali ini aku benar-benar pergi tanpa membuahkan hasil apapun.


Aku membalikkan badan berniat melihat rumah ini sebelum pergi, entahlah, aku merasa ada rahasia di balik rumah ini, ada hal yang harus aku cari tau.


Sekilas tanpa sengaja mataku menatap sebuah penampakan, mataku memicing berusaha melihat lebih jelas, apakah itu?


"AARHG...," Tak ada alasan lagi untuk tetap berdiri di sini, enggak pemilik rumahnya, enggak pula penghuni gaibnya semuanya menyeramkan.


Di atas sana, tepat di sebuah jendela atas sebelah kanan, aku melihat seorang pria dengan bola mata putih kepala besar dan di mulutnya banyak bercak darah, belum lagi dengan kuku tangannya yang panjang dan menunjuk ke arah ku, di tambah senyuman misteriusnya yang dia suguhkan untukku yang sudah lari menerjang hujan.


"Bodoh amat basah, dari pada makin banyak hantu gak jelas, bisa pingsan di tempat nanti,"


__ADS_1


__ADS_2