
Melihat keadaan sekitar yang tak mendukung Rani menghela napasnya, kalau manusia keras kepala dan hantu keras kepala ini terus di biarkan begitu maka ini takkan selesai.
"Sudahlah, aku saja yang akan menemui bang Dimas, kalian jangan bertengkar lagi," Tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya, Rani sudah berlari menuju Dimas.
Menembus setiap kabut yang menerpa wajah mungilnya, Sekali-kali Rani memeluk tangannya karena hawa yang semakin dingin. Dia tak bawa jaket tebal dari rumah. Tak menduga bahwa akan sedingin ini.
"Bang," Rani menemukan Dimas, pria itu ternyata masih setia dengan kenangan yang muncul sekarang. Sampai-sampai tak menyadari keberadaan Rani.
"Bang, Bang Dimas!," Rani geram sampai mendorong punggung Dimas pelan.
Yang di dorong menatap dengan tak suka. Saat melihat orang itu adalah Rani, pandangan kesal tadi berubah kembali teduh.
"Ranikan? Kenapa Ran?" Rani sadar itu, suara parau Dimas terdengar jelas.
Pria ini menahan tangisnya sedari tadi. Rani tau jelas pasti Dimas sangat merasa terpukul. Tapi saat ini, tak ada gunanya egois membiarkan diri sendiri terbenam akan masalah hati, saat ini yang penting adalah harus keluar dengan selamat, dan jangan ada korban lagi.
__ADS_1
"Semuanya lagi nunggu abang, ada yang harus kita bicarakan. Lebih baik kita kumpul sekarang, waktu kita makin sempit bang," Rani menjelaskan dengan hati-hati. Agar Dimas tak tersinggung.
Dimas menghela nafasnya, sepertinya dia masih ingin sendirian. Tapi benar kata Rani, waktu kita tak banyak.
"Oke, ayo kembali," Dimas setuju.
Rani memberikan isyarat agar Dimas berjalan duluan di depannya, Dimas tak masalah, dia berjalan dua langkah di depan Rani. Dan Rani dengan setia mengekor di belakang Dimas. Sampai tiba-tiba Rani melihat sesuaru dari sudut matanya, tak jelas tapi itu pasti nyata.
Rani menelan ludahnya susah payah, yang dia lihat sekarang menatap Dimas dengan tatapan sedih. Entah kenapa Feeling Rani mengatakan bahwa dia adalah Ocha. Terlihat dari pakaiannya yang sedikit modern dan wajah cantik yang tertutup aura menyedihkan itu. Pasti ada alasan kenapa Ocha tak kembali dengan tenang ke alamnya.
"E...EH... Iya, apa bang?" Rani gelagapan, takut nanti Dimas banyak tanya dan dia tak tau mau jawab apa.
"Tadi Rani yang larang abang melamun, sekarang kok kamu yang ngelamun?" Tanya Dimas sambil menarik tangan Rani agar kembali melanjutkan perjalanan.
Ingat, waktu kita tak lama lagi.
__ADS_1
Hanya kata-kata itu yang terus Dimas ulang-ulang, berharap dia tak lupa dengan tujuannya yang baru.
"Rani gak bengong, cuman yah... gitu deh," Rani tak berniat memberi tau Dimas sekarang bahwa dia baru saja bertemu Ocha. Dimas balik menatap Rani yang ada di belakangnya dengan pandangan bingung.
"Cuman kenapa Ni?" Seperti dugaan, Dimas ini memang pria cerewet.
Buktinya dia juga banyak tanya kepada Rani, entah bagaimana penderitaan Risa melawan orang cerewet seperti Dimas.
"Gak kenapa-napa kok bang, eh... kita udah sampai," Dimas yang terus berjalan tapi masih fokus menatap Rani tersentak saat tau dia sudah berada di antara teman-temannya.
"Rani kenapa? Kenapa abang menggandengnya?" Tanya Denis sambil mengusap dagunya memberi kesan sok keren.
"Gak tau dia tadi tiba-tiba bengong," Kata Dimas.
"Kamu ketemu dia ya Rani?" Semua mata yang fokus ke Rani dan Dimas kini balik menatap Sherly.
__ADS_1
"Apa aku benar Rani?" Tanya Sherly dengan nada agak sedikit mirip peramal.