Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Kembali ke Kampung


__ADS_3

Risa dan Rani sudah ada di dalam mobil sekarang, mereka duduk tepat di belakang supir. Rani memilih paling pojok dekat dengan kaca, dan Risa duduk berdampingan dengan adiknya itu. Ada satu benda yang terus di tangan Risa, dia terus menatap benda itu. Entah kenapa makin hari dia makin penasaran dengan benda ini.


"Wah, kotaknya cantik, kakak beli dimana?" Rani menatap kotak itu penuh rasa kagum.


"Di kasih teman," jawab Risa asal-asalan.


"Dalam rangka apa?" seingat Rani ulang tahun kakaknya masih lama.


"Nanti kakak kasih tau kalau udah jelas, sekarang kakak belum bisa kasih tau Rani," Risa tersenyum ke arah adiknya itu.


Rani manyun dan mengangguk saja, dengan malas dia kembali menoleh ke arah luar. Sepertinya kakaknya kali ini banyak pikiran, dia harus memberikan kakaknya ruang.


Di sisi lain, Risa masih penasaran dengan identitas Nathan, pria itu masih susah di percayai. Namun kemana Risa bertanya akan semua pertanyaan ini? Entahlah, Risa tak tau, dan dia benar-benar bertemu jalan buntu untuk masalah satu ini.


Untuk yang pertama kalinya Risa meraih kalung yang ada di dalam kotak itu, kalung berbentuk hati dan berwarna biru itu sekarang sudah berpindah ke tangan Risa. Dia memeriksa kalung itu dengan teliti. Sampai dia menyadari satu hal, ada ruang di dalam liontin love itu.


"Aku mohon, kali ini saja, berikan aku petunjuk," kata Risa sebelum membuka liontin itu.


Saat liontin itu sempurna terbuka, Risa kaget dengan di tandai matanya membesar seakan tak percaya,terlihat di dalamnya ada foto yang seukuran liontin itu, yang di sebelah kanan foto seorang cowok dan sebelah kirinya foto..


"Apa ini cewek?" Risa menyipitkan matanya sambil mendekatkan foto itu ke matanya. Bagian atas foto itu sepertu habis di sobek, membuat sebelah mata dan bagian kepala sebelah kirinya tak ada. Foto itu cuman setengah.


"Kayaknya cewek deh, soalnya rambutnya panjang, dan foto cowok ini, bukan kah?" Risa melihat dengan dekat. Berharap tebakannya kali ini benar.


"Nathan! Ini Nathan!," Risa berteriak sangking kagetnya. Membuat penumpang yang lain menatap tak suka. Mengganggu tidur mereka saja.

__ADS_1


"Ah maaf," Risa menenggelamkan mukanya karena malu.


"Nathan siapa kak? Kok sampai teriak gitu," tanya Rani heran.


"Ee... bukan siapa-siapa kok," Risa menggaruk lehernya yang tak gatal.


Untuk saat ini biarlah dia saja yang tau akan masalah ini, adiknya tak usah tau, dia tak mau membuat adiknya banyak pikiran hanya karena masalah yang belum jelas ini.


🐾🐾🐾🐾


Selama perjalanan, Risa terus memikirkan soal Nathan. Pria itu cukup mencurigakan, kenapa dia ada di dalam liontin itu? Kenapa harus fotonya? Dan siapa perempuan yang ada di dalam foto itu? Kenapa harus foto ceweknya sih yang sobek?


Apa hubungan Nathan dengan semua ini.


Apakah sebelum kotak itu jatuh ke tangan Nathan di pegang hantu duluan? Kalau iya tapi kenapa wajah Nathan mirip dengan pria yang ada di samping Linda?


"Oke tunggu- tunggu, kenapa serumit ini sih? Kayak jadi main ditektifan kan!, Aakh," Risa memukul kakinya pelan.


Dia tak paham dengan apa yang baru saja dia simpulkan, dia tak tau apa kesimpulan dari semua pertanyaan yang dia kumpulkan. Risa tak mengerti dan kali ini otaknya yang lelet itu harus di suruh berfikir lagi.


"Aduh, mending tidur aja deh," Risa menyandarkan kepalanya ke kursi, menutup mata mengikuti adiknya yang sudah terlelap.


Menunggu mobil berhenti di kampung mereka, lebih baik terlelap dulu, dari pada terus memikirkan hal yang membingungkan itu.


🐾🐾🐾🐾

__ADS_1


"Nenek!," Rani berlari ke arah neneknya, setelah empat jam perjalanan akhirnya pinggul mereka bisa lepas dari kursi mobil itu.


Capek, padahal hanya duduk saja, namun energi mereka seakan terserap begitu banyak.


"Wah, cucu nenek udah sampai, Ayo masuk," Risa dan Rani menurut.


Berjalan mengikuti nenek.


Kaki Rani terhenti saat tiba di depan pintu, dia langsung melihat ke arah kakaknya yang ada di depan.


"Iya, kakak ada di depan Rani,Lalu siapa yang berjalan di belakang Rani?" Pikir Rani yang merasakan ada seseorang di dekatnya.


"Kenapa berhenti?" Bulu kuduk Rani kembali berdiri.


Pertanyaan itu bukan dari kakaknya atau dari sang nenek. Namun dari arah belakang Rani.


"Kau mengikuti kami pulang ke kampung?" Tanya Rani kepada orang yang baru saja bicara.


"Tentu saja, aku ingin memastikan apa kalian benar-benar membantu ku ke sini? Atau hanya sekedar liburan," Jawab hantu itu.


Iya, dia adalah Liya, Rani sudah mengenal suaranya saat hantu itu berbicara.


"Terserahmu saja Liya," kata Rani sambil melanjutkan jalannya.


Liya hanya tersenyum tipis. Sepertinya dua orang yang dia pilih tidak akan mengecewakannya.

__ADS_1


__ADS_2