
Hallo semua!
Author gak jadi libur deh, author up untuk malam ini.
Hmm... dan sebelumnya author kinta maaf ya, kalau cerita ini sering bikin kalian pusing dan bingung๐
Memang dari awal bikin cerita ini, author bertujuan buat kasih tema Misteri, author suka aja, membuat teka-teki di setiap episode yang author buat. Maaf jika itu buat kalian gak nyaman๐.
Author bisa apa? Kalau author merubah jalan ceritanya maka nanti jadinya gak akan seru๐.
Author sekali lagi minta maaf atas ketidak nyamanan dari cerita yang author buat.
Gimana kalau gini aja?
Apa yang membuat kalian masih bertanya-tanya? Bisa di tanyakan di kolom komentar, author akan jawan di episode berikutnya.
Dan apa semuanya merasa gak nyaman akan setiap misteri dan teka teki yang author buat?
Kalau ada saran, tolong katakan aja di kolom komentar ya...
Mohon di maklumi ini karya pertama author, jadi mungkin author agak sedikit labil. Sedih aja, kalau ada yang tiba-tiba pergi karena merasa gak nyaman sama alur ceritanya. Author juga gak punya hak buat maksa kalian buat terus baca cerita author.
Sekian dulu dari auhtor.
Happy reading guys....๐
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Risa memegangi kepalanya yang masih berdenyut. Perlahan Risa membuka matanya.
__ADS_1
Silau! Itu yang pertama kali di tangkap indra penglihatannya, tak lama sesudah itu dia mendengar suara Rani dan mamanya terus memanggil nama Risa.
"Kakak udah sadar," Rani menggenggam tangan kakaknya kuat.
Kemudia Rani menatap Liya yang berdiri di depan Rani dengan tatapan sinis. Gara-gara permintaan Liya, kakaknya harus kembali mengalami hal yang merugikan dirinya itu.
"Kamu kenapa sih Kak? Kok tiba-tiba pingsan?" mama membantu Risa duduk dari berbaringnya.
Sekarang ke sadaran Risa sudah kembali ke badannya seratus persen. Bukannya menjawab pertanyaan mama, dia malah menatap iba kepada hantu yang baru saja dia lihat masalalunya.
Liya sampai mati tak juga bisa tenang, bukankah Liya adalah manusia dan hantu yang paling malang saat ini? Sudah semasa hidup tak mendapat kasih sayang dari keluarga, sekarsng juga tak bisa beristirahat dengan tenang hanya karena masalalu yang belum selesai antara dia dan S.
Risa sibuk dengan pikirannya sekarang, tak menghiraukan suara mama dan adiknya yang terus berbicara padanya.
'Apakah aku harus kembali ke kampung untuk menemui S? Dan menyelesaikan segala kesalah pahaman ini? Serta mencari tau wanita paruh baya yang merupakan dalang di balik permusuhan kedua saudara kandung ini, semuanya harus selesai dalam waktu singkat! Aku benar-benar tak mau terus masuk ke masalalu hantu lagi! Ini melelahkan'
Risa terus berdiskusi dengan hatinya. Otak dan hatinya sedang beradu argumen sekarang.
"Kak! Kok diam aja sih?" Rani menggoyangkan pundak Risa. Hingga membuat si pemilik pundak terkejut dari lamuna panjangnya.
"Hah? Iya? Kenapa?"
"Risa, kamu sakit? Kok dari kemarin tingkah kamu aneh, banyak bengong," mama memegang kening Risa. Memastikan putri sulungnya ini dalam keadaan sehat.
"Enggak kok ma, Risa cuman capek aja," Senyum mengembang dari kedua sudut bibir Risa.
"Hmm... ya udah, mama ke dapur dulu, buatin kamu makanan dulu, biar mukanya gak terus pucat," Risa hanya mengangguk.
Dan membiarkan mamanya pergi meninggalkan dia berdua dengan Rani. Oh tidak, bukan berdua tapi bertiga dengan hantu Liya ini.
__ADS_1
"Ran, kakak lihat sesuatu, kita harus kembali ke rumah nenek," Risa langsung saja to the point, dia tak mau berleha-leha lagi.
Ini harus cepat selesai!
"Loh kok gitu? Emangnya apa yang kakak lihat?" Rani mengerutkan keningnya menuntut penjelasan lebih lanjut.
"S tak seutuhnya membenci Liya, dia di hasut gitu sama perempuan tua, kakak belum tau apa motif perempuan itu ngelakuin ini sama Liya dan S. Tapi yang jelas, jawabannya hanya S yang tau, kalau kita tau siapa wanita tua itu, maka masalah Liya akan selesai," kata Risa penuh percaya diri.
" Kau lupa ya Risa? Tujuan ku bukan hanya ingin mengetahui kenapa S membenci ku, itu tak penting sekarang, tujuan utama ku mencari kalian adalah mencari tau kenapa ibu membenci ku, Bahkan saat aku mati terbakar dia sama sekali tak pernah merasa iba dengan ku! Aku hanya ingin tau kesalahan ku, aku hanya ingin dengar permintaan maaf dari Ibuku! Jika tak mendapatkan permintaan maaf, setidaknya aku bisa mendengarkan bahwa dia juga mencintaiky, juga menyayangiku," Liya menangis selagi menjelaskan keinginannya.
Risa yang mengerti akan penderitaan Liya hanya bisa berusaha menahan air matanya yang sudah terbendung di pelupuk mata. Dia lupa, bagaimana pun yang diinginkan seorang anak adalah cinta dari ibu mereka. Tidak terkecualu Liya, dia juga seorang anak kecil, yang butuh di manja dan di sayang, Risa merasa bersalah, dia ingin menyelesaikan masalah ini dengan cepat, tapi tak memikirkan perasaan Liya sama sekali.
Sedangkan Rani, entah kenapa mendengar penuturan Liya air matanya menetes begitu saja. Walau dia belum terlalu mengerti apa yang terjadi dengan Liya semasa hidup, tetap saja yang di katakan Liya itu cukup memilukan.
"Iya, kita pasti juga akan menemui ibumu Ya, aku janji, aku akan menemui ibumu dan menanyakan semua pertanyaan yang ada di benat mu saat ini, aku janji," tiba-tiba saja kata Janji terlontar dari mulut Risa.
Dia lupa pesan mamanya, mama Risa pernah bilang, jangan pernah berjanji disaat suasana hati mu sedang tidak stabil, atau nanti akan membuatmu menyesal di kemudian hari.
"Tapi gimana caranya kak?" Rani masih memikirkan cara yang belum terbayang sedikit pun.
"Minggu depan kamu terima lapor kan? Lalu libur panjang? Nah waktu itu kita akan kembali ke kampung, kita harus menyelesaikan ini secepatnya!," Risa memberikan penekanan di kata 'Secepatnya' sehingga membuat Rani mengangguk pasrah karena kakaknya sudah mengambil keputusan.
Liya yang mendengar pernyataan Risa tersenyum bahagia, tak lama lagi hal yang menggangu hatinya akan terjawab.
๐พ๐พ๐พ๐พ
Malam makin larut, tapi Risa tak juga mau tertidur, dia terus menatap ke arah kotak Nathan.
"Linda, jika kotak ini berhubungan denganmu, maka aku janji, aku pasti akan mencari tau, apa masalah di balik kotak ini, tapi sepertinya aku gak bisa menyelesaikan dua masalah dalam sekali langkah. Aku harus selesaikan masalah Liya dulu, dengan begitu aku bisa fokus dengan kotak pemberian Nathan.
__ADS_1
Entah siapa Nathan itu, apakah dia pria pemain piano atau bukan itu masih dalam tanda tanya. Mari fokus dengan masalah Liya dulu.
Risa melepaskan tusuk rambut itu dari rambutnya. Dan mematikan lampu kamar sumber dari cahaya malam ini. Risa menenggelamkan dirinya di balik selimut tembal berwarna dongker itu. Malam ini, dia akan tidur dengan nyenyak.