
saling follow di ig yuk... @sapitrielmi
🐾🐾🐾🐾
"Jangan katakan mustahil pak, bapak gak kenal kami, gak baik meremehkan orang yang belum di kenal kayak gitu," kata Rani dengan memasukkan foto Liya dan sendi ke dalam kantong tas.
"Haah..maaf kalau saya menyinggung kalian, cuman apa itu bisa?" Bima masih dengan ketidak percayaannya.
Aku mengangguk, tanda mengiyakan dan pak Bima mengerutkan kening tanda masih tak percaya. Bodoh amatlah, sebelum kami membuktikannya maka dia tidak akan pernah percaya. Untuk masalah gaib seperti ini yang di butuhkan bukan kalimat tapi pembuktian.
"Kalau begitu bapak ikut kami, kita cari sendi," Rani berdiri dari duduknya dan menunjuk ke jalan, sebagai pertanda waktunya membuktikan keahlian kami.
"Haahha... kalian lucu, jangan bercanda tentang orang yang sudah meninggal, itu tidak baik," bapak itu masih santai dengan posisi duduknya.
BRAAK...
"Aku tidak bercanda, aku paling tidak suka di remehkan orang seperti ini, bukankah sudah ku bilang, kami akan membuktikannya padamu pak, jadi ikut dengan kami, dan biarkan dirimu nanti tidak percaya dengan matamu sendiri nantinya jika kau bisa bertemu dengan Sendi," kataku yang sudah tak kuat menahan rasa kesal sedari tadi.
Aku mengerti, ini mungkin terlihat seperti lelucon anak kecil baginya, tapi sungguh! Kami tak sedang membuat pertunjukan komedi. Dia harus ikut kalau kami mau terlepas dari Liya dengan cepat.
__ADS_1
"Tapi... saya masih ragu, bagaimana kalau kalian cuman mengerjai saya?," kalimatnya barusan membuat darahku semakin mendidih.
"Ayolah Paak!!! Kalau bapak tidak mau ikut dengan kami, maka Liya akan terus mengganggu kami, dia terus meminta kami untuk menyelesaikan masalahnya, apa bapak mau bertanggung jawab jika suatu hari kami gila karena di ganggu oleh Liya? Dan penyebabnya adalah bapak yang tidak mau membantu kami?" Akhirnya aku meminta belas kasihannya.
Memalukan!
"Kalian di ganggu Liya? Kenapa?" Pak Bima berbicara lagi dengan kalimat tanya lagi!
"Bapak mau bantu kami tidak!," Rani membentak kali ini. Adikku sudah lupa sopan santun dengan yang lebih tua.
"Okeh... saya ikut, sepertinya kalian tidak berbohong," Setelah sekian lama berdebat baru sekarang dia setuju.
Pak Bima berdiri dan masuk ke dalam meminta izin untuk keluar dengan ibunya. Ada satu hal yang membuat ku penasaran sedari tadi.
Bukankah usia pak Bima sudah sepantasnya memiliki keluarga? Tapi aku tak melihat ada seorang istri atau anak, apakah dia belum menikah? Tapi usianya sudah terlihat cukup untuk itu. Ah... aku tak tau, untuk apa mengurusi urusan orang lain. Urusan sendiri saja belum selesai.
🐾🐾🐾🐾🐾
Kami sekarang berjalan menuju rumah Liya dulu yang sudah terbakar. Kali ini tak menggunakan kompas untuk menunjukkan arah, kan ada pak Bima yang tau lokasinya. Tinggal meminta dia untuk menuntun kami ke sana.
__ADS_1
Karena kata Liya, Sendi ada di bangkai rumah mereka, dia selalu di sana setiap sore. Dan malamnya bergentayangan entah kemana.
"Kita sudah sampai," Lamunan ku terpecah karena kalimat pak Bima. Dia menunjuk ke sebelah kiri kami.
Aku dan Rani langsung melihat ke arah yang di tunjuk pak Bima. Benar sekali, di sana yang terlihat hanyalah pondasi rumah bagian bawah yang terbuat dari batu sungai. Dan sisanya kayu-kayu yang sudah hangus tergeletak sembarangan. Namun karena sudah lama tak di urus rumah itu sudah di tumbuhi tumbuhan liar di segala sisi.
"Itu Sendi!," kata Rani yang ternyata memilih mencari Sendi dari pada memperhatikan bangkai rumah itu.
Aku melihat ke arah gadis yang sudah tak bernyawa itu berdiri. Posisinya sekarang membelakangi kami.
"Mana? Bapak tidak lihat," katanya kemudian.
Yah tentu saja dia tidak lihat, dia tak memiliki penglihatan yang sama dengan kami.
"Bagaimana cara supaya pak Bima bisa lihat Sendi?" Pertanyaan Liya tadi langsung mengundang senyumku.
Aku tau bagaimana caranya, nenek sudah memberi tahu aku sebelum ke sini sekedar untuk jaga-jaga. Mungkin menurut orang awam itu tidak mungkin, tapi apa yang tidak mungkin di dunia ini?
Aku akan buat pak Bima melihat sendi, dengan begini mereka bisa berbicara dan menyelesaikan masalah yang sudah kacau itu.
__ADS_1